Select Page

Menarik paparan mengenai geothermal di Indonesia atau geothermal potential yang ada, sepertinya mengoda sekali begitu besar potensinya bisa memuaskan atau melicinkan ekonomi nation yang lahap menghabiskan sumber alam entah hanya buat keluyuran dijalan atu true busines yg dikejar saya kurang paham. Yang kita lihat di ibu kota dari pagi sampai malam jalanan penuh, entah bisnis apa yg dikerjakan dijalanan but that our nation. Yang barangkali perlu ditambahkan adalah road map untuk pergi kesana, how we extracting those energy, perlu technologi, modal, keberanian untuk berjudi. ingat saya waktu jadi cantrik pak vincent ti raja tahun 75 an pertamina dg genzl new zealand getol mempelopori geothermal, cost geothermal sizezable well hampir 4 kali lipat conventional oil-gas well, tidak ada kesamaan sama sekali drilling geothermal dg oil-gas, di geothermal yg dicari loss circulation, di oil and gas dihindari, mud atau sement kadang di campur nitrogen supay light, jaman itu ngak ada loging tool yg mampu sd 200c , environment, tools, phylosophy muich difference, yang dicari fractured rock yang mengagnga sejengkal sejengkal kalau kita hitung balik dg neraca masa dr material yg keluar dan fluid flow pressure drop.

Pembahasan – roeddy setiawan

Dear Millis,

Menarik paparan mengenai geothermal di Indonesia atau geothermal potential yang ada, sepertinya mengoda sekali begitu besar potensinya bisa memuaskan atau melicinkan ekonomi nation yang lahap menghabiskan sumber alam entah hanya buat keluyuran dijalan atu true busines yg dikejar saya kurang paham. yag kita lihat di ibu kota dari pagi sampai malam jalanan penuh, entah bisnis apa yg dikerjakan dijalanan but that our nation.
yang barangkalai perlu ditambahkan adalah road map untuk pergi kesana, how we extracting those energy, perlu technologi, modal, keberanian untuk berjudi. ingat saya waktu jadi cantrik pak vincent ti raja tahun 75 an pertamina dg genzl new zealand getol mempelopori geothermal, cost geothermal sizezable well hampir 4 kali lipat conventional oil-gas well, tidak ada kesamaan sama sekali drilling geothermal dg oil-gas, di geothermal yg dicari loss circulation, di oil and gas dihindari, mud atau sement kadang di campur nitrogen supay light, jaman itu ngak ada loging tool yg mampu sd 200c , environment, tools, phylosophy muich difference, yang dicari fractured rock yang mengagnga sejengkal sejengkal kalau kita hitung balik dg neraca masa dr material yg keluar dan fluid flow pressure drop.
kalau sekarang harga sumur di offshore 7 million /piece then geothermal well can be 30 million kalau keluar 5 Megawat equivalent saja sudah baik. rekan rwkan yg seneng thermo utak atik steam table barangkali bisa menghitung berapa banyak steam yang temp 150 C yang harus keluar buat jadi Net output 5 mw equivalent . pd 150 C stat steam pressure nya cmn 3.7 bar, spesific entalpy untuk 50 % dry 1.68 megajoul/kg , sp entalpy wtr 0.6 megajoule/kg jadi ada potensi 1 megajoule/kg steam kalau semua steam nya jadi coondensing semua. kalau 50 % loss jadi cuman .5 megajoule/kg or 1.3 kw/hr kalau mau 5o megawat yah tinggal di hitung berapa banyak massa yg musti lewat.
capital investment buat power plant , buang polutan dll belum lah di hitung, biasanya harga ahir dr geothermal power plan much more expensive dr fossil
masih panjang dan tebal barier untuk ke geothermal, bandingkan dg oil-gas saya kira yg ngebor sumur di indonesia plus work over bisa seribuan but geothermal none.

Tanggapan 1 – Rawindra Sutarto

Mas Roeddy yth.,

Saya sih positive thinking.

Mungkin saja PLT Pabum yang >>> 55 MW, plus teknologi pengeboran sumur2 yang
pas buat memasok turbin2-nya, masih jauh untuk kita miliki. Tapi kenapa kita
selalu bicara dalam skala industri energi yang begitu besar ?

Pasti pil pahit buat cendikiawan dan pemerintah, tapi kita saksikan bahwa
independent-operator migas seperti yang illegal di Wonocolo (Cepu) mampu
menafkahi dan memenuhi kebutuhan energi rakyat miskin, biar pun terbatas /
sangat lokal.
Apa kita harus menunggu sumberdaya pabum ini terpendam sampai mampu bersaing
dengan listrik PLN bersubsidi ? Dan melarang rakyat yang bodoh & pemda yang
tamak untuk memanfaatkan pabum …, karena tidak bakal efisien, tidak bakal
manggil Halliburton untuk nyemen sumurnya, dan ‘they’ll certainly kill
themselves’ ? Selama berkarir sebagai tukang insinyur, sudah sering saya ‘be
humbled’ oleh praktisi lapangan yang sebagian malah tidak sempat duduk di
bangku sekolah. Ini toh bukan rocket-science atau PLTN.

Menurut saya, secara makro, keadilan sosial tidak perlu diterjemahkan,
misalnya, semakin banyak rakyat menikmati listrik murah. Biar saja sebagian
rakyat menjadi makmur oleh SDA di daerahnya. Belajar dari sejarah,
pemerataan / penyebaran kemakmuran bakal terjadi alamiah. Tentunya tugas
penting pemerintah adalah mencegah rakyat baku-bunuh berebut kemakmuran …
sekaligus mempromosikan teknologi tepat-guna, lengkap dengan perangkat
hukumnya (dalam pemnfaatan pabum). Capeeee deh …. menunggu para
industrialis bolak-balik ngitung lembaran 30 juta dollar Amerika (buat 1
sumur) demi rakyat miskin di tanah air tercinta.

Tanggapan 2 – Miftahul Arif

Pak Roeddy,

Setahu saya Cost untuk bangun PLTP (panas bumi) hampir sama dengan cost untuk bangun coal fire plant (PLTU).
terakhir saya dengar salah satu EPC di indonesia mampu membangun PLTP dengan cost 1 MW =~ 1jt USD (memang tidak termasuk cost drilling well).
Steam yg digunakan pada beberapa pembangkit PLTP umumnya saturated dan MP (sebesar 6-12 bara). dan pada beberapa turbin geothermal yang baru, untuk tiap 1MWh mengkonsumsi sekitar 6.9 – 7.2tph Steam. dan saya yakin bisnis pembangkit panas bumi akan jauh lebih menggairahkan daripada PLTU.
sekarang PERTAMINA, Chevron, Star Energy, sepertinya juga tertarik untuk invest lebih jauh. bahkan saat saya berkunjung ke salah satu sumur geothermal pertamina, mereka bilang cadangan produksi sumur mereka bisa sampai 100 thn. ckckckkkk mantap bener yaaa..

Tanggapan 3 – roeddy setiawan

Dear pak Arief,

I think if that information was true, i guess the taipan will built the geothermal plant,
what i know unocal hardly selling the steam in the past because it very expensive, they realease the right for geothermal resource near medan because not profitable
I guess the new zealand also decomm its famous geothermal palnt in 92 ??? or 82 ??? i forgot
but none of new installation was proposed, what i heard pak wapress travel to china for coal power plan not sought any geothermal
its hard to believe steam turbine that like u said operate in 9 Bar ????? , this translate to 190 C temp. can have same footprint with the coal fired turbine that can operate in 90 – 100 bar superheat, the steam specific volume for 9 bar was much much much larger than in 90-100 bar, consequently your 9 bar the turbine foot print must be much much larger. much material, much exotic metalurgy, i guess only hand full industry doing the geothermal turbine
on generator it is the same no problem with that, but if you consider analogy between hely propeller and turbofan you may understand the technical chalange, the hely rotate very slow, if it rotate as same as boeing 200 engine its simple desintegrate
doing geothermal well in this very competitive periods was out of reach every taipan or people in wall street, i think unocal in the past was made its well at a right timing when drilling cost was so low due to low oil and gas activity so it can have its salak power plant. duno wayang, i dont remember we drill out there
hope this help, so again the road map was very important, we can say oh we have the potential energy from the sun, its free nobody own it, but to get there nobody now,

Tanggapan 4 – Sadikin, Indera

Cost panas bumi sama dengan coal-fired power plant bisa saja. tapi
saya kira itu special case, di lingkungan dan medan yang gampang. coal
fired power plant bisa ditempatkan dengan flexible, tidak demikian
dengan panas bumi. handle pintu kantor dari besi di salak bisa rontok
dalam beberapa bulan kena h2s. jadi saya paham kenapa pak roeddy
bilang panas bumi adalah nightmare buat engineer yang hands-on. kalau
cuma hitung2 massa x temperatur x efisiensi dll, itu gampang dan
menguntungkan. prakteknya saya kira tidak sesederhana itu. everything
is sweet and beautiful until you get to the details (where the devil
is) 🙂

Tanggapan selengkapnya dari Pembahasan ini dapat dilihat dalam file berikut:

Share This