Pekerjaan Process Safety kurang lebih adalah untuk mendukung program Risk Management dari perusahaan yang bersangkutan (tidak semua perusahaan men-detail seperti uraian mas Fadhli di bawah ini), dan beberapa di endorse untuk memenuhi persyaratan Safety Case oleh HSE UK. Karena sifatnya yang spesifik, maka untuk menjadi Process Safety Engineer, pengetahuan Process Engineering nya bisa jadi harus mumpuni (not necessarily to be a Process engineer at the past) karena menyangkut perilaku hydrocarbon dalam sebuah fasilitas.

Tanya – nasser zikry

Temen2, saya minta tolong pendapatnya, karena temen2 lebih banyak pengalaman nya dari saya.

Bisa share ke saya gmn gambaran karir seorang process safety engineer di perusahaan EPCI asing oil n gas offshore, apa sama dengan process engineer jg?

Trima kasih

Tanggapan 1 – Halim, Fadhli (Jakarta) @worleyparsons

Pak Nasser,

Setahu saya, EPC asing yang ada di Indonesia ini tidak ada posisi process safety engineer.

Yang ada process engineer dan safety engineer.

Untuk safety engineer pekerjaan yang dilakukan:

1. hazardous area

2. Safety Philosophy.

3. Fire& Gas Detection & Safety philosophy.

4. HAZOP Study.

5. SIL Determination Study. (biasanya di subcont kan)

6. HAZID Study.

7. QRA.

8. Escape, Evacuation and Rescue Assessment

9. Flare radiation and Dispersion Study.

10. Safety Equipment List and Fire and Gas Causes and Effects Matrix.

11. Escape Route and Safety Equipment Layout, Hazardous Area Schedule, Hazardous Area drawing and Fire and Gas Detection Layout.

12. dll

Tanggapan 2 – Crootth Crootth

Alles,

Sejauh yang saya ketahui KPS (PSC) DI INDONESIA, yang secara resmi mencantumkan posisi Process Safety Engineer adalah :

1. Total E&P Indonesie (dua posisi National Employee, satu Expat)

2. BP Indonesia (2 – 5 posisi, di west java = Nanan (leadnya) dan Margaretha Thaliharjanthi, belum tahu kabar terakhir di Tangguh, mungkin Akhmad Khaqim sudah resmi sebagai Process Safety Engineer?)

Secara umum posisi Process Safety Engineer ini di endorse karena rekomendasi kecelakaan di BP Texas City Refinery tahun 2005 yang menewaskan 15 orang.

Vico Indonesia yang sebagian sahamnya dimiliki BP-ENI, mencantumkan Process Safety sebagai satu dari empat pillars nya, namun sejauh ini belum merekrut seorang Process Safety Engineer pun.

Sebenarnya Chevron global memiliki profesi ini namun di ETC-Houston sana sebagaimana perusahaan minyak di level global lainnya (Shell, ConocoPhillips, ExxonMobil, dll).

Pekerjaan Process Safety kurang lebih adalah untuk mendukung program Risk Management dari perusahaan yang bersangkutan (tidak semua perusahaan men-detail seperti uraian mas Fadhli di bawah ini), dan beberapa di endorse untuk memenuhi persyaratan Safety Case oleh HSE UK. Karena sifatnya yang spesifik, maka untuk menjadi Process Safety Engineer, pengetahuan Process Engineering nya bisa jadi harus mumpuni (not necessarily to be a Process engineer at the past) karena menyangkut perilaku hydrocarbon dalam sebuah fasilitas.

Sependek yang saya ketahui, pengalaman untuk menjadi Process Safety biasanya antara 2 -10 tahun. Dan di Indonesia jumlahnya kurang dari 10 orang hingga saat ini, meski kebutuhannya antara 15 – 20 orang. (di tingkat global mungkin ada 2 – 6 Process Safety Engineer asli Indonesia. Jadi Profesi Process Safety Engineer sangatlah menjanjikan.

Untuk EPC, Technip Indonesia sejak lama saya ketahui memiliki posisi ini meski umumnya dipegang para expat dari India, dan kalau tidak salah PT Singgar Mulia juga berkeinginan memiliki posisi ini (belum tahu kabar terakhir).

Tanggapan 3 – Budhi, Swastioko (Singgar Mulia)

Nanan Yanie adalah Technical Authority & Lead Process/Process Safety Engineer untuk BP Rehab Project. Untuk BP West Java Leadnya adalah I Made Sukrajaya dan Margaretha Thaliharjanthi. Masih ada beberapa process safety engineer lainnya yang bekerja di BP Indonesia. Kalau untuk Technip, jabatannya adalah safety engineer.

Di BP, process safety awareness diberikan kepada setiap karyawan, dimana saya yang E&I Engineer diwajibkan mengikuti kursus di atas selama sehari penuh. Coachnya untuk sesi saya selain Ibu Margaretha juga Bpk. Deddy Syam – Ketua KMI Banten.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia dapat dilihat dalam file berikut: