Saya punya satu concern dengan masalah yang sering terjadi saat pengeboran di lubang yang dangkal (Total Depth: 500-800 ft). Hampir setiap proses wireline logging yang saya awasi pada fase ‘after Surface Casing’ selalu terhenti pada kedalaman yang dangkal, kira- kira 50-300 ft (reactive shale). Kemarin pun saya mengalami hal serupa, padahal di well sebelumnya (yang kurang lebih berjarak 50 meter) tidak ada hambatan di kedalaman 270 ft (casing shoe 140 ft). Pula tepat sebelum proses logging dilakukan, lubang selalu disirkulasi sampai bersih dari cutting krg lebh 1 jam. Usaha saya tidak berhenti sampai disana, kecepatan turunnya alat logging pun saya coba tingkatan saat alat logging tertahan sesuatu, dari maksimal 3000 ft/hr menjadi 7500 ft/hr. namun tidak berhasil pula.

Tanya – handi

Halo teman-teman migas group.

Saya punya satu concern dengan masalah yang sering terjadi saat pengeboran di lubang yang dangkal (Total Depth: 500-800 ft). Hampir setiap proses wireline logging yang saya awasi pada fase ‘after Surface Casing’ selalu terhenti pada kedalaman yang dangkal, kira- kira 50-300 ft (reactive shale). Kemarin pun saya mengalami hal serupa, padahal di well sebelumnya (yang kurang lebih berjarak 50 meter) tidak ada hambatan di kedalaman 270 ft (casing shoe 140 ft). Pula tepat sebelum proses logging dilakukan, lubang selalu disirkulasi sampai bersih dari cutting krg lebh 1 jam. Usaha saya tidak berhenti sampai disana, kecepatan turunnya alat logging pun saya coba tingkatan saat alat logging tertahan sesuatu, dari maksimal 3000 ft/hr menjadi 7500 ft/hr. namun tidak berhasil pula.

Akibatnya, sering kali dilakukan pengulangan pembacaan kondisi lubang (wireline logging) setelah lubang dibersihkan kembali atau di – wiper trip selama kurang lebih 1-2 jam. Bukan hanya kerugian waktu, charge yang dikenakan tim wireline pun jadi 2 kali lipat. Which means Indonesia pay more for this problem.

Pertanyaan saya:

1. Apa kira-kira prosedur yang tepat untuk masalah ini?

2. Ada kah kaitannya dengan penggunaan KCl yang kurang pada mud?

3. Kalau ada, berapa kadar KCl yang sebaiknya dipakai?

4. Berapa kecepatan penurunan alat logging yang sebaiknya dicapai?

5. (Agak di luar konteks) Berapa kisaran harga safety Helmet yang
dilengkapi dengan senter (flash light) kecil di atas nya?

Trims untuk perhatiannya.

Tanggapan 1 – Nataniel Mangiwa

Pak,

Kalau dibandingkan secara kasar saja, sedangkan di fase yg dalam saja, yang formasinya sdh relatif keras (mature), permasalahan tool held up adalah hal biasa. Padahal dipikir2, sudah batuan keras & hole smooth krn pake OBM, tetapi tetap saja kadang ada batu jatuh, atau cutting tertumpuk. Jadi pointnya adalah: menurut saya, jika masih ada reactive shale (gumbo), memang sangat sulit buat wireline untuk bisa pass through dengan smooth. Karena clay ini akan otomatis mengurangi ID dari hole tersebut.

Mungkin sebagai kegiatan analisa, bisa dicatat saja depth dari clay2 tsb, lalu coba cocokan dgn depth dmana wireline held up. Mungkin saja ada korelasinya..

Tanggapan 2 – Eko Yudha

Mas Handi,

Sebelum menerka-nerka, saya pengen nanya beberapa hal?

1. Ukuran surface casing dan lubang berikut di bawahnya?

2. Ada indikasi slack off weight di weight indicator saat logging toolnya
stop? Trus waktu mencabut logging tool itu ada overpull seberapa besar?

Tanggapan 3 – roeddy setiawan

Dear Pak Handi,

Yang saya kepingin tahu malah why we even need to log this shalow hole, no benefit will come out with this practices, just deleted from the procedure.

Tanggapan 4 – kurnia huway

Mas Handi,

Boleh tahu dimana field nya..?

Sepanjang pengetahuan dan pengalaman saya seperti di daerah field mahakam-balikpapan,
untuk shallow hole, biasanya cukup dengan LWD GR-RES, tidak perlu harus dilakukan wireline logging.
Concern saya, mungkin pengaruh banyaknya gumbo di shallow hole tersebut, sehingga wireline logging seringkali stuck di kedalaman2x tsb.

Tanggapan 5 – Wahyudi Widodo

Pak Handi,

Sewaktu sirkulasi & wiper trip yang kedua, apakah mud propertiesnya berubah (penambahan KCl, mudweight, etc)? Kalau memang berubah kenapa mudnya tidak dikondisikan seperti itu saja dari sejak sirkulasi yang pertama?

Sekedar berbagi pengalaman, saya pernah dengar kasus seperti ini di daerah Riau, dengan tipikal kedalaman sumur yang sama (700-800 ft) dan problem gumbo yang sama juga. Sebenarnya pihak client & service company (wireline) sudah menyadari bahwa problem ini bisa dihindari dengan mud conditioning yang tepat, tapi ada kecenderungan dari kedua pihak (client & serco) untuk meminimalisasi penggunaaan KCl supaya bisa menggunakan induction tool utk pembacaan resistivity daripada laterolog, karena induction tool punya vertical resolution yang lebih kecil daripada laterolog dan lebih disukai para pembaca log. Jadi akhirnya masalahnya ada di tarik ulur resep KCl yang ‘pas’ untuk field tsb.