Longitudinal crack itu lumrah dan biasa terjadi terutama pada high strength sekitar X65. Biasa nya sumbernya adalah korosi yang membentuk kanal, baik dibagian atas karena TOC (top of line corrotion) ini biasa terjadi pada gas line dan di bagian bawah (BOC) yang biasa terjadi pada oil line. Karena pipelinenya tidak dipelihara dengan wajar jarang dilakukan pigging untuk mendorong air dll kontaminant atau juga… karena bacteria. Gas line pada daerah penurunan temperature biasa terjadi TOC perlu spray pig secara berkala untuk menyemprotkan corrosion inhibitor ke bagian atas pipa. Kalau bacteria perlu biocide. Karena ada kanal, ada beda tebal sekeliling ..lingkaran pipa, maka terjadi konsentrasi tegangan di daerah transisi antara dinding tebal dan dinding tipis. Ini lah sumbernya crack longitudinal. Biasanya cracknya di posisi jam 4-5 atau 7-8 untuk BOC dan jam 10 -11 atau jam 1- 2 untuk TOC.

Tanya – M. Teguh

Dear rekan2 Migas yang saya hormati,

Baru2 ini kami ada masalah crack pada pipa. Service fluidnya medium pressure steam. Lokasi crack tepat pada sambungan las pipa dan flange, pada arah longitudinal pipa (sejajar sumbu).
Setelah dimodelkan (hanya static analysis), stress didaerah tersebut masih aman, dibawah allowable.
Yang ingin saya tanyakan, kalaupun ternyata crack tersebut adalah fatigue failure akibat load dinamik/cyclic pada pipa, apakah memungkinkan posisinya longitudinal pipa? (seolah2 karena internal pressure).
Mohon tanggapan bapak2 ahli analisa piping stress.
Terimakasih atas responnya.

Tanggapan 1 – Priyan Ferdian

Dear,

– apakah system ini baru atau in-process sytem? Fluid yang mas teguh gunakan termasuk kategory M fluid, yaitu membahayakan kalau kontak dengan manusia/lingkungan walaupun hanya terjadi kebecoron kecil

– kalau crack terjadi tepat di sambungan las, berarti ada yang ndak beres dengan lasannya, coba review lagi hasil Radiography Test dan periksa acceptance criteria untuk M fluid service biasanya lebih ketat dibanding untuk D fluid service

-jika system bekerja dengan beban dynamic, maka pemodelan secara statik tidak bisa menggambarkan kondisi aktual. Perlu diperhatikan apakah sambungan tersebut dekat dengan pompa atau peralatan lainnya yang menjadi sumber beban dynamic, jika ya berarti gunakan kriteria system dengan beban cyclic

– arah crack bisa lateral dan juga longitudinal

– Proses las yang digunakan apa? berapa tebal material dan material apa yang digunakan? apakah dilakukan heat treatment? secara umum penyebab crack disebabkan oleh: kandungan H yang tinggi, adanya konsentrasi tegangan pada lasan, lasan berada temperatur yang sangat rendah dan strukturmikro daerah HAZ (Heat Affected Zone).

Demikian semoga membantu.

Tanggapan 2 – budiman

Boleh tahu parameter pengelasan nya termasuk merk electrode yg anda gunakan ?
termasuk juga jenis material dan specifikasinya ?

Tanggapan 3 – hasanuddin_inspector

Pak Budiman,

Knp butuh merk electrode? Bisa subyektif nanti rasanya…dan rame antar pedagang kawat las…hehehe. Rasanya pake grouping electrode udh lbh dari cukup kok….

Klo bth info brand, rasanya lebih afdol japri aja ke originator posting ini dan bkn via milis.

Tanggapan 4 – hadi muttaqien

Grouping Electrode benar, tapi pengalaman saya juga ada beberapa merk Electrode yang tidak bisa dipakai padahal saat pemilihan groupingnya sudah benar, malah merk sama tetapi negara produsen berbeda, hasilnya juga bisa berbeda. Keterbukaan asalkan objective dan dari pengalaman orang lain bisa kita gunakan untuk aplikasi di pekerjaan kita.
Penggunaan Electrode yang benar dan uji coba/aplikasi merupakan salah satu faktor suksesnya pembuatan WPS/PQR.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia dapat dilihat dalam file berikut: