Select Page

Diantara rekan milist yang terhormat mungkin ada yang expert didalam sub sea pipe line, mohon pencerahan mengenai metoda pemasangan subsea tersebut: misalnya dengan laybarge yang umum dipakai, push pull methode atau yang saya baru dengar adalah rantis methode.

Pembahasan – Desmawati

Dear all,

Kalau mendengar soal gaji di milis migas ini, mungkin membuat orang akan berfikir begitu tinggi seolah langit tak berbatas.

Tapi kalau kita mau turun sedikit ke bumi, melihat para pekerja minyak di lapangan, yang mungkin akses terhadap e-mail terbatas, lemah secara hukum, keterbatasan networking dan sebab lainnya, mereka tidak bisa mendapatkan downfall efek booming minyak saat ini. Pekerja minyak dengan status kontrak, dibayar harian, total pendapatan kurang dari US$500/bulan (status di offshore/onshore), masih banyak sekali.

Kebanyakan bapak-bapak yg bergaji sangat tinggi di milis ini, adalah karena secara individu memiliki kompetensi dan juga kemampuan meng-akses informasi ttg kesempatan yg lebih baik di tempat lain. Di luar itu ?
Secara sistem, di Indonesia sama sekali tidak ada upaya perlindungan terhadap pekerja minyak terutama yg berada di lapangan. Hidup mereka tergantung dari satu agen ke agen yang lain. Sedangkan kebanyakan agen tenaga kerja kita, masih memperlakukan pekerja seperti TKW pembantu rumah tangga yg dikirim ke luar negri, sebagai sapi perahan utk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Bukan sebagai aset berharga bagi perusahaan. Dan kebanyakan agen lebih suka mensuplai tenaga asing dari asia spt filipina dan india, karena fee yg mereka dapatkan dari tenaga asing ini lebih besar dari yang didapatkan dengan men-suplai orang indonesia (walaupun soal kualitas tenaga expat asing ini masih diragukan). Hitung-hitungan kasarnya sbb:

Kalau handling fee agen adalah 40%, dan gaji satu orang pekerja Indonesia adalah US$ 400/bulan, berarti fee yg didapat adalah US$ 160 per bulan.

Bandingkan dengan pekerja expat asia (dengan level yg sama) digaji US$ 3000/bulan, berarti fee yg didapat adalah US$ 1200 per bulan. Anda bayangkan berapa kali keuntungan yg didapat. Saya menduga praktek inilah yg terjadi sehingga membanjirnya tenaga expat asia ke indonesia.
Masalah etos kerja, kebanyakan pekerja indonesia adalah pekerja keras, dari segi komunikasi tdk ada masalah (lha wong di negri sendiri) dan kompetensi jg tidak kalah (krn mereka lebih unggul dalam meng-organize team krn kesamaan bahasa dan leadership) kalau dibandingkan dengan expat asia ini. Kalaupun ada perbedaan mungkin adalah masalah postur tubuh yg lebih kecil.

Dengan perbandingan gaji yang seperti itu, tidak heran industri migas Indonesia tidak terlalu menarik untuk banyak pekerja indonesia.
Bayangkan tenaga unggul lulusan sma atau stm, d1-d3 bisa mendapatkan gaji yang sama dengan pekerjaan yang lebih ringan di industri lain.
Padahal pekerja minyak di lapangan membutuhkan basic knowledge yg rendah, sebagai dasar bagi mereka untuk bisa menyerap pengalaman operasi dan menggabungkannya dengan basic knowledge yang lain sehingga bisa naik ke jenjang yang lebih tinggi hingga ke driller atau rig superintendent.

Di dunia oil dan gas, secara spesifik misalnya di pengeboran (drilling industri), berlaku hirarki pekerjaan dimana jenjang karir dirintis dari level paling bawah seperti painter-roustabout-roughneck-assisten driller-driller-dst hingga yang tertinggi adalah rig superintendent (yang kebanyakan masih bule). Bayangkan bila tahun-tahun belakangan ini, posisi driller, barge master, tool pusher, diisi oleh orang expat asia. Kalaupun ada asisten driller yg diisi oleh orang indonesia, kualitas sdm dan kompetensinya tidak memungkinkan utk menang dalam persaingan naik ke jenjang yg lebih tinggi. Dalam beberapa tahun ke depan, di Indonesia tidak ada re-generasi rig supervisory level. Dan jangan heran dalam beberapa tahun ke depan rig-rig Indonesia akan di jejali tenaga expat asia, yang sebelumnya telah mendapat kesempatan di rig indonesia (untuk belajar, sedangkan kita tidak memberikan kesempatan itu utk orang kita sendiri), dan akhirnya menjejali rig indonesia. Sedangkan tenaga indonesia sekali lagi akan menjadi orang-orang yg kalah di negri sendiri. Semuanya hanya karena memikirkan kepentingan sesaat orang-orang tertentu.

Jadi, kalau saat ini alasan yg digunakan utk merekrut tenaga expat asia adalah masalah bahasa dan ketersediaan orang indonesia, maka dalam beberapa tahun lagi bukan lagi alasan, tapi memang kenyataan di lapangan tidak ada atau sangat langka kerja terlatih (skilled labour) indonesia yang ada. Efek lainnya adalah masalah performance dan reputasi rig-rig di indonesia yang akhirnya akan menggelembungkan cost recovery untuk pengerjaan sumur-sumur di indonesia.

Saya menghimbau para professional dan pejabat BP Migas dan juga departemen tenaga kerja untuk memikirkan hal ini. Perlu ada regulasi dan policy untuk mengedepankan proses rekruitment yg baik utk tenaga kerja indonesia dan juga standar penggajian. Selain tentunya memberantas praktek-praktek tidak sehat yang ada selama ini.

Semoga banyak pihak yg ada di milis ini bisa ikut memberikan kontribusinya, saran dan action item dalam masalah ini. Karena kalau bukan kita yg berkecimpung di Industri ini, siapa lagi yg akan memikirkannya.

Tanggapan 1 – Abdul Majid

Betul sekali….

Nampaknya pemerintah Indonesia harus membuat aturan hukum untuk melindungi warganya dari membanjirnya tenaga asing.

Apalagi kawasan kita sudah free trade zone. Rata-rata jabatan mereka di atas supervisor yang berkemampuan lebih rendah dari pekerja kita dengan jabatan.

Kalau kita singgung hal ini di perusahaan yang memegang kode etika, kadang-kadang kita pun kalah dan kita sebagai karyawan akan dikenai ETIK. Dipecat tanpa pesangon, ini realita.

Masalahnya bagaimana kita menggugah pemerintah supaya ada kemauan politik melindungi pekerjanya dari geseran pekerja asing seperti yang anda sebutkan, India (singaporean), Filipina dll… dan memang ini fakta!

Pembahasan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia ini dapat dilihat dalam file berikut :

Share This