Beberapa local contractor sudah ada yang melakukan modifikasi flat top barge menjadi laybarge, terutama untuk shallow water operation. Dari segi cost dan schedule modifikasi ini memang sangat benefit sekali dan tidak terlalu rumit dibanding harus design dan construct laybarge mulai dari nol.

Tanya – suprianto suprianto

Selamat pagi kawan-kawan milist yang terhormat,

Mohon share info mengenai local company yang mampu untuk menangani pemasangan subsea pipe line disekitar laut jawa.

Thanks atas bantuannya.

Tanggapan 1 – johan noviansyah

Pak Suprianto,

Company saya biasa mengerjakan installasi subsea pipeline atau rental pipelay barge.
Untuk detail bisa contact PT. Geocean Indonesia.

Tanggapan 2 – suprianto suprianto

Selamat pagi pak Johan,

Mungkin email ini sudah lama sekali
Mohon maaf sebelumnya bila kurang berkenan dengan email ini..

Begini pak, kita dalam proses bidding untuk penggelaran pipa 16′ sepanjang 9 km, tetapi setelah kita study kalau harus sewa lay barge jadinya tidak competitif (mahal).

Beberapa metode yg saya dengar ada yg pakai push pull sehingga tidak diperlukan laybarge khusus untuk penggelaran.

Kita ada ide yaitu dengan memodifikasi barge menjadi semacan laybarge yang tentunya perlu ditambahkan statiin welding (mungkin cukup 3 station), NDT dll berikut juga dengan tensioner & stinger.

Kalu bapak mungkin ada kenalan yang bisa membuat rancangan modifikasi ini mohon info.
Kalau bisa tidak perlu antar company, personal saja agar cost bisa ditekan.

Tanggapan 3 – roeddy setiawan

Pak Suprianto,

Kalau saya melihatnya lain, berapa banyak yang bapak resikokan. kalau tidak ada dan kalau pipa nya boleh jadi kapan kapan saja then idenya bagus sekali.

Tapi kalau terjadi kegagalan say pipe buckle di beberapa tempat, harus recovery, terus target completion bapak off dua tahun, kan berabe. say 16′ 9 km entah buat export crude atau production pipeline berjibun kerugian nya.

Tanggapan 4 – johan noviansyah

Pak Suprianto,

Mohon maaf baru sempat buka2 email hari ini.

Idenya bagus pak, dulu sebelum saya hadir, informasinya mereka menggunakan laybarge yg dimodifikasi dan ditempatkan station2 seperti yg bapak maksud, jadi bisa saja kok.
Saya sepndapat dengan opini dari Pak Roeddy, memang akan ada resiko yang ditanggung apabila harus memodifikasi barge menjadi laybarge. seperti design, budget dan waktu.
Pertama, apakah budgetnya untuk modifikasi cukup pak? karena sepertinya lumayan mahal dan sangat krusial.
Kendala yg lain adalah soal waktu untuk modifikasi, karena harus install anchor winch, A&R winch, positioning system, tensioner, fabrikasi & install stinger, dll. kalo memang waktu untuk persiapan cukup bisa saja dilakukan modifikasi.
Untuk design, ini agak makan waktu jg, kalo disini, design dibuat dari kantor induk, kami cuma modifikasi sana-sini yg tidak terlalu rumit.
Mungkin perlu dicoba lagi untuk hubungi beberapa contractor pipeline lokal lain seperti DMB, Merlasakti, Onasis. Setau saya Onasis available laybarge jg. Kalo bapak perlu contactnya nanti saya kasih, japri saja ya..

Tanggapan 5 – Didik Pramono

Pak Suprianto,

Pipa yang akan di install di kedalaman berapa?

Beberapa local contractor sudah ada yang melakukan modifikasi flat top barge menjadi laybarge, terutama untuk shallow water operation. Dari segi cost dan schedule modifikasi ini memang sangat benefit sekali dan tidak terlalu rumit dibanding harus design dan construct laybarge mulai dari nol.

Menurut pengalaman saya ada juga segi non benefit terutama menyangkut class notation dari laybarge hasil modifikasi tersebut. Beberapa classification society anggota IACS (seperti DNV, ABS, LR, GL, BV) pernah saya hubungi untuk meng-class-kan barge hasil modifikasi seperti tersebut diatas menjadi class ‘laybarge’, tentu saja dengan melibatkan mereka dalam proses instalasi pipelaying equipment. Sebelum di modifikasi flat top barge tersebut masuk class ‘100 AT Pontoon’. Umumnya mereka (baca: classification society) tidak ada yang mau untuk menerbitkan class notation dari ‘Pontoon’ menjadi ‘Laybarge’ meskipun kondisi flat top barge tersebut telah dimodifikasi (dengan menambahkan pipelaying equipment diatasnya) dan sangat layak beroperasi sebagai laybarge.

Paling banter yang bisa mereka terbitkan adalah notification letter yang menyatakan bahwa Pontoon yang dimaksud telah dilakukan modifikasi untuk digunakan menjadi laybarge dengan semua pipelaying equipment diatasnya yang telah disertifikasi, tetapi class induknya masih tetap sebagai Pontoon. Dengan class Pontoon tetapi untuk dioperasikan sebagai laybarge seringkali dipermasalahkan oleh pihak Company dan ini tentu saja menjadi masalah buat Contractor.

Untuk mendapatkan class notation ‘laybarge’, prosedurnya si owner harus mengajukan klasifikasi mulai dari awal design dan konstruksi hull yang memang dedicated untuk laybarge, dan classification society harus melakukan inspection mulai dari nol. Jadi bukan dari hasil modifikasi seperti diatas.

Tetapi…… BKI ternyata sanggup menerbitkan class notation laybarge hasil modifikasi seperti tersebut diatas dari class ‘100 AT Pontoon’ menjadi ‘Laybarge’ 🙂 Tetapi masalah belum berhenti sampai disitu, terutama untuk ikut dalam project2 overseas. Pihak Company seringkali mensyaratkan laybarge harus mempunyai classification certificate yang diterbitkan oleh classification society anggota IACS, sedangkan BKI belum menjadi anggota IACS. Salah satu kendala lainnya adalah untuk mendapatkan international insurance.

Tanggapan 6 – Amal Ashardian

Banyak cara buat pasang pipa diluar pemakaian laybarge. Misal offshore pull, … dipasang pakai davit…atau bisa juga pipanya dilas dibawah air… he he he…pokoknya segala cara. Tergantung situasi dan kondisi alam dan material.

Pipa tailing nya tambang emas itu juga dipasang ngga pakai laybarge…ditarik saja dari pantai sampai ke tengah laut.

Perlu banyak assessment …..jangan sampai demi menghindari laybarge……. malahan berantakan… nanti. Laybarge dibuat khan juga untuk memudahkan pasang pipa dengan effisien..

Kalau boleh tahu..pipanya dipasang di daerah mana sih pak??

Tanggapan 7 – Arek Ciputat

Ga menjawab langsung, untuk referensi mas Suprianto bisa buka-buka bukunya om Ben C Gerwick Jr, judulnya Construction of Marine & Offshore Structures. Menurut saya, buku ini bagus banget, karena hampir semua konstruksi untuk marine & offshore dibahas.Komplit sama foto/gambar yang bantu mempermudah pemahaman kita.

Semoga membantu.

Tanggapan 8 – suprianto suprianto

Selamat pagi pak,

Terimakasih replynya,

O ya kedalaman laut yang paling dalam di daerah SPM adalah 12 m, 2km dari bibir pantai kedalaman laut hanya 2m dan berlumpur.
Mungkin bisa diinfokan person yang bisa mebuat rancangan modifikasi ini pak?

Tanggapan 9 – Didik Pramono

Pak Suprianto,

Kami dulu melakukan modifikasi flat top barge menjadi shallow water laybarge dengan design dan calculation sendiri, tentunya dengan berpatokan pada referensi2 laybarge layout pada umumnya dengan disesuaikan kebutuhan project. Untuk perhitungan yang berhubungan dengan naval architect khususnya yang dynamic analysis kami menggunakan bantuan konsultan karena software-nya tidak available di kantor kami.

Tanggapan 10 – Wawan Junaedi

Pak Suprianto

Merujuk pada e-mail di bawah, Bapak dapat menghubungi perusahaan di bawah ini untuk mengerjakan pemasangan subsea pipeline dgn menggunakan pipelaying barge. Sejauh ini perusahaan tersebut bekerja sama dengan perusahaan dari Malaysia; SIGURROS Sdn. Bhd. yang core bussinessnya adalah ‘Pipelaying contractor’. Selain itu mereka juga mempunyai Pipelaying barge sendiri yang bernama ‘ARWANA’ yang mereka beli dari PT Komaritim beberapa waktu yang lalu.

PT TRIMULYA GEMILANG

E: irwan@trimulyagemilang.com