‘Because offshore has not been our expertise in the past, our company has a lot to learn and understand about these activities before becoming a true operator. In this regard we already have an agreement with Shell related to deep sea, a joint venture with Statoil, and are looking into deep-sea ventures with Petrobras.’ Adakah rekan2 atau Bapak2 yang bekerja di Pertamina bisa menjelaskan kutipan ini?.
Setahu saya X-Ray Fieldnya (satu2nya offshore platform field milik Pertamina??? -CMIIW) dan sudah lama tidak beroperasi. Ini opini saya pribadi: Fenomena yang disayangkan, banyak anak bangsa Indonesia yang sudah punya banyak pengalaman di bidang offshore. Kenapa harus operator asing yang merajalela di area offshore di Indonesia?

Tanya – ‘Jerry Jeremia Mintaredja’@ saipem

‘Because offshore has not been our expertise in the past, our company has a lot to learn and understand about these activities before becoming a true operator. In this regard we already have an agreement with Shell related to deep sea, a joint venture with Statoil, and are looking into deep-sea ventures with Petrobras.’ .

Ada rekan2 atau Bapak2 yang bekerja di Pertamina bisa menjelaskan kutipan ini?.
Setahu saya X-Ray Fieldnya (satu2nya offshore platform field milik Pertamina??? -CMIIW) dan sudah lama tidak beroperasi.
Ini opini saya pribadi: Fenomena yang disayangkan, banyak anak bangsa Indonesia yang sudah punya banyak pengalaman di bidang offshore. Kenapa harus operator asing yang merajalela di area offshore di Indonesia?
Mungkin Pertamina sendiri memiliki kesulitan dan penjelasan mengapa fenomena tersebut bisa terjadi, sehingga kita bisa sharing dan diskusikan di milist ini, moga2 diskusinya diarahkan ke arah yang positif sehingga bisa menjadi satu masukan yang positif untuk Pertamina.
Terima kasih.

Tanggapan 1 – Admin Migas

Kalau melihat komentar Dirut Pertamina yang anda kutip di bawah ini, maksudnya lebih ke arah teknologi laut dalam (deepwater), yang memang belum kita kuasai sepenuhnya karena baru akan/sedang diaplikasikan di selat Makassar. Tapi untuk Shell, Total, BP, Statoil, Petrobras, dll mereka sudah terbiasa dengan teknologi ini di Gulf of Mexico. Tapi jangan khawatir sudah ada beberapa anggota milis yang bekerja di luar negeri sehari-harinya berkecimpung di laut dalam. Pengalaman mereka mengenai teknologi laut dalam sudah dituliskan di Buku Pintar Migas Indonesia yang dapat anda downbload di URL : http://migas- indonesia. net/index. php?option= com_docman& task=cat_
view&gid= 104&Itemid= 42.
Artikel laut dalam yang lainnya menyusul, sedang dibuat.

Tanggapan 2 – Awaluddin Berwanto

Mengenai teknologi deepwater, memang sebaiknya Pertamina harus memulainya dari sekarang agar jangan semakin ketinggalan dengan NOC-NOC yg lain. Masih banyak reserve-reserve besar di laut dalam yg menunggu untuk di-eksplorasi.

Kemajuan teknologi deepwater memang semakin mengagumkan, di mulai dg fasilitas di shallow water (dengan kedalaman kurang dari 100 meter) sehingga ke ultra deep water (hingga mendekati 3000 meter).

Untuk berjaya di deepwater, maka pola pikir pengambil kebijakan haruslah berubah dari pola konvensional (on-shore dan off-shore development) menjadi subsea development, karena untuk pengembangan fasilitas produksi untuk kedalaman di atas 1000 meter lebih ekonomis kalau menggunakan subsea development.

Selain NOC-nya (maksudnya Pertamina), para kontraktor, konsultan engineering di Indonesia pun harus mulai berbenah untuk dapat mengambil kesempatan saat Indonesia mulai menuju era Deepwater. Jangan sampai kita semua hanya menjadi tamu di negara sendiri, sementara kue-kue-nya hanya dinikmati oleh para global player seperti FMC, Aker-Kvaerner, Vetco-Gray, Cameron, dll.

Tanggapan 3 – Amal Ashardian

Laut dalam itu bisa lhoo kalau memang berniat dikerjakan sendiri…………equipment bisa dirancang..dibangun sendiri….
Cuma di negara ini …yang berkuasa ngga punya kemauan…..dan biasanya bilang ngga mampu (menggoblok goblokan diri sendiri).

Yang dangkal dangkal atau malahan yang di darat saja (cepu) dikasih ke orang asing….dengan berbagai alasan (yang kelihatan sangat dibuat buat).

Kalau tren nya begini pertamina ngga usah lah.ikut ikutan..paling paling nanti juga dikebiri sama pemerintah.
Dulu saat saat ramainya cepu dulu .(yang akhirnya dikasih ke exxon)..dirutnya pertamina ngotot juga….. langsung saja di ganti he he he……

Tanggapan 4 – Sulistiyono

Sepengetahuan saya Pertamina – Statoil mempunyai Blok laut dalam di Selat Makasar, berderetan dengan Marathon Pasangkayu dan Exxon Mobil Surumana dan Mandar . Lautnya sedalam 2000 an meter. Nah disini diuji apakah Pertamina mampu dalam hal financial . Biaya untuk melakukan survei eksplorasi mulai dari seismik , site survey hingga pemboran eksplorasinya sangat mahal . Rig nya (laut dalam ) tidak selalu tersedia bahkan susah diperoleh, karena saat ini hunting migas nya sudah banyak lari ke laut dalam. Sebagai gambaran kasar untuk sewa rig laut dalam adalah USD 1 juta /hari . Kalau ngebor 2 bulan sudah USD 60 juta untuk satu sumur . Kalau 4 sumur USD 240 juta.Mampukah Pertamina atau Perusahaan Nasional lain ?

Tanggapan selengkapnya dapat dilihat dalam file berikut: