Sejatinya penentuan perlu tidaknya ditambahkan Pneumatic ESD Station di Onshore sebagai redundant system itu musti tertulis dalam Dokumen SRS (Safety requirement system). Dalam dokumen SRS tercantum hal ihwal perlu tidaknya system ini dibikin redundant atau tidak, dan ini bisa dihasilkan oleh studi LOPA (layer of protection analysis), yang antara lain memuat Initiating Event nya (misalnya ‘kegagalan ESD di DCS untuk mencegah kejadian katastropik’), Ketentuan ambang resiko yang dianut perusahaan (baca: ALARP), dan Frekuensi kegagalan masing masing peralatan yang telah dipasang. Jika memang ada selisih antara kegagalan peralatan dan ketentuan ambang resiko, maka perlu diperbaiki integrity levelnya (misalnya dengan memasang sistem proteksi lainnya (misalnya saja ESD), atau bisa juga memperbanyak frekuensi testingnya).

Tanya – tigor maruli

Bapaks,

Saya mau menanyakan juga tentang perlu atau tidaknya dipasang additional PNEUMATIC ESD Station di ON shore Facility? sbg tambahan ESD Station yang sudah ada di DCS Panel..
Jika memang perlu, apakah ada industrial standard yang mengaturnya?
Mohon Pencerahan.. .

Tanya – Crootth Crootth

Bang Tigor, my friend

Sejatinya penentuan perlu tidaknya ditambahkan Pneumatic ESD Station di Onshore sebagai redundant system itu musti tertulis dalam Dokumen SRS (Safety requirement system).

Dalam dokumen SRS tercantum hal ihwal perlu tidaknya system ini dibikin redundant atau tidak, dan ini bisa dihasilkan oleh studi LOPA (layer of protection analysis), yang antara lain memuat Initiating Event nya (misalnya ‘kegagalan ESD di DCS untuk mencegah kejadian katastropik’), Ketentuan ambang resiko yang dianut perusahaan (baca: ALARP), dan Frekuensi kegagalan masing masing peralatan yang telah dipasang. Jika memang ada selisih antara kegagalan peralatan dan ketentuan ambang resiko, maka perlu diperbaiki integrity levelnya (misalnya dengan memasang sistem proteksi lainnya (misalnya saja ESD), atau bisa juga memperbanyak frekuensi testingnya).

Saya pribadi tidaklah terlalu favor dengan penambahan peralatan, sepanjang kita bisa memperbanyak frekuensi pengetesan peralatan, tapi apakah pihak produksi dan operasi setuju? hehehe ini adalah masalah pendekatan bung..

Jadi akhirul komen, sebaiknya dilakukan LOPA jika memang masih sempat, sebelum terlanjur mengeluarkan uang banyak untuk bikin Redundant Pneumatic System yang bisa bisa malah menyebabkan SPURIOUS TRIP (fail safe) yang tak perlu sehingga plant kehilangan produksi.

Tidak ada industrial standard yang black and white menyatakan perlunya sistem redundancy untuk pneumatic system ini, tapi mengenai ESD, banyak aturan IEC, ISA-ANSI yang mengaturnya, yang semuanya adalah regulasi yang performance based.

Btw, ini Bang Tigor yang Field Engineernya South Area nya Chevron kan?

Tanggapan 1 – Crootth Crootth

Thanks buat pencerahannya…

Iya Mas.. di CVX.. tapi nggak di south.. tapi di North Onshore..
Kalau di South, ntar ketemu ama Mr. Desi (si Panjang) melulu.. cape deh..

Tanggapan 2 – mefredi_cfs

Menguatkan saja , mengenai yang di tulis oleh Mr DAM.

Saya kutip dari IEC 61511-1 klausul 11.2.8.

11.2.8 Manual means (for example, emergency stop push button), independent of the logic solver, shall be provided to actuate the SIS final elements unless otherwise directed by the safety requirement specifications.

Jadi memang di perlukan technical justification untuk decision perlu tidaknya penambahan manual shutdown initiator. Dan yang penting lagi adalah , system ini harus independent dari system yang sudah ada.

Tanggapan 3 – Arief Rahman Thanura

Menambahkan saja dari keterangan Pak DAM, setahu saya keperluan untuk ESD push button di local (Plant) mostly diperlukan untuk mempercepat respon menyelamatkan plant oleh operator dan.atau personil yang sedang ada di plant. Seringkali ini diperlukan untuk kasus-kasus dimana kondisi violent yang ada di plant lebih cepat diketahui oleh operator ketimbang system automatic shutdown yang ada. Juga, ESD push button di lapangan mempunyai advantage karena si operator sebelum mencet push button melihat kondisi actual di lapangan.

Soal teknologinya mau pneumatic ataupun electronic, it’s a matter on more detail assessment bergantung pada Safety availability yang diperlukan.

Tanggapan 4 – Djohan

Kalau berkiblat ke Amerika dan menggunakan API-14C sebagai referensi, ESD push button termasuk kategori Emergency Support System yang befungsi untuk mematikan peralatan secara manual dan diletakkan di lokasi strategis tempat personnel sering berada disitu. Misalnya helideck, tangga akses, boat landing dlsb. Memang API-14C diperuntukkan bagi offshore application, tetapi melihat fungsinya, pemakaian di onshore akan sangat menarik.
Sebagai protection layer, aplikasi process shutdown system dapat dianalisa dan dipilih dengan derajat keandalan tinggi (SIL-3 misalnya) sesuai dengan hasil analisa. Tetapi aplikasi fire & gas system (FGS) yang masuk dalam golongan mitigation layer, pemakaian SIL-3 tidak menjamin efektifitasnya. Misalnya api yang terjadi ternyata berada diluar coverage dari flame detectors yang dipasang, gas yang bocor tertiup angin kearah yang menjauhi detectors, api yang terjadi ternyata lebih besar dari pada kemampuan deluge water flow rate yang dipasang, dlsb.
Kalau saya jadi engineer di onshore oil & gas facilities, maka saya akan pastikan ESD stations diaplikasikan pada plant dalam tanggung jawab saya. Karena personnel yang melakukan patroli rutin atau Operator di Control Room (kalau dipasang CCTV) akan melihat api yang tidak terlihat oleh FGS, lalu mengactivate ESD station yang terdekat yang secara efektif mengisolir sumber bahan bakar dan mematikan api.

Semoga bermanfaat.