Di dunia migas Indonesia, crane termasuk peralatan yang disertifikasi. Pada proses sertifikasi tersebut, dilakukan pemeriksaan baik desain maupun fisik dari Crane, untuk memastikan kelayakan dan keamanan operasinya. Hal tersebut ada di keputusan dirjen migas no.
84K/38/DJM/1998. Beberapa dokumen yang dipelajari oleh Migas yaitu spesifikasi desain,
perhitungan desain, tabel beban, gambar perencanaan, spesifikasi
sambungan, dokumen2 perencanaan lain serta manual operasi crane. Sedangkan pada saat pemeriksaan fisik, dilakukan pemeriksaan
sambungan, kait pemegang beban, sistem hidrolik, wire rope,
indikator-indikator crane, dimensi boom dan yang lainnya. Akhirnya
pada saat uji fungsi, dilakukan uji fungsi tanpa beban dan juga dengan
beban.

Tanya – iboey iboey

Dear All,

Satu lagi alasan kenapa safety penting. Ternyata, Texas (tempat banyak industri besar) adalah salah satu dari 35 state di US yang tidak mengharuskan crane operator mempunyai sertifikat.

Ada yang mau berbagi bagaimana crane safety di industri di Indonesia ?

http://www.abcnews.go.com/GMA/story?id=5408402

Tanggapan 1 – Alvin Alfiyansyah

Bang Buyung,

Khusus bagi crane operatornya sendiri punya kualifikasi sendiri misalnya crane operator class I, II, III dan MIGAS. Batasan masing-masing kelas adalah jenis crane atau alat angkat yang digunakan, baik dari tingkat kesulitan operasi maupun kapasitas berat alat angkat tersebut.

Untuk perlengkapan crane biasanya digunakan sistem evaluasi colour code bisa 3 bulan, 4 bulan atau 6 bulan sekali; seingat saya. Hal tersebut juga yang menunjang life of operation dari alat angkat. Yang menyulitkan adalah webbing sling dan forkklif yang kadang tidak diperhatikan perawatannya. Saya lupa guidance apa saja yang membedakan lama sistem colour code masing-masing – ini yang kadang menyulitkan di industri Indonesia. But, anyhow saya mesti cari dahulu guidance masing2 di library nich, nanti kita sambung lagi dech. Semoga ada yang mau membenarkan jika pernyataan saya keliru. CMIIW…cheers happy wik en.

Tanggapan 2 – iboey iboey

Terima kasih mas Alvin atas info-nya.

Apakah sertifikasi crane operator diwajibkan di Indonesia ? Siapakah (atau organisasi) yg memberi sertifikat ?
Apakah operasi menggunakan Crane dikenakan process safety analysis juga ? (seperti drop object analysis, etc ?)
Ada tambahan dari teman-teman lain ?

Tanggapan 3 – Alvin Alfiyansyah

Lanjut ya Bang Buyung.

Iya diwajibkan punya sertifikat bagi crane operator termasuk di high rise building job, setahu saya forkklif-pun ada sertifikatnya. Yang mengeluarkan ya MIGAS selain Disnaker, berlaku bagi rigger dan crane operatornya (SIO MIGAS & SIO Disnaker; klasifikasinya I,II,II atau sering juga disebut A,B,C). Oiya, ada Rancangan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI tentang Syarat & Kualifikasi Operator Alat Angkat & Angkut, Crane & Forklift yang lagi digodok saat ini; tapi maaf saya tak tahu statusnya sampai dimana.

Saya tidak tahu untuk crane2 existing di berbagai platform KKKS, apakah dahulunya memakai drop object analysis untuk memastikan keamanan operasinya. Tapi yang saya tahu beberapa project terakhir di beberapa KKKS sudah menerapkan drop object analysis untuk memastikan operasi crane tersebut, termasuk di project kami terakhir disini. Cuma yaitu dia sistem evaluasi (colour code) crane tidak sama intervalnya, saya tidak tahu apakah dalam rancangan peraturan tersebut nanti akan disinggung juga.
Oiya, gimana dengan proses start up, apakah di US sana diharuskan ada start up risk assessment sebelum dilakukan PSSR ? Mohon informasinya, sekalian dari sisi process safety requirementnya, lagi tertarik beginian nich. Kami melakukan start up risk assessment buat capital project selain PSSR dilakukan juga.
Thanks & BR,

Tanggapan 4 – nanang93

Dear Bang Buyung,

Apa kabar nih? Semoga sehat selalu.

Bang Buyung, di dunia migas Indonesia, crane termasuk peralatan yang
disertifikasi. Pada proses sertifikasi tersebut, dilakukan pemeriksaan
baik desain maupun fisik dari Crane, untuk memastikan kelayakan dan
keamanan operasinya. Hal tersebut ada di keputusan dirjen migas no.
84K/38/DJM/1998.

Beberapa dokumen yang dipelajari oleh Migas yaitu spesifikasi desain,
perhitungan desain, tabel beban, gambar perencanaan, spesifikasi
sambungan, dokumen2 perencanaan lain serta manual operasi crane.

Sedangkan pada saat pemeriksaan fisik, dilakukan pemeriksaan
sambungan, kait pemegang beban, sistem hidrolik, wire rope,
indikator-indikator crane, dimensi boom dan yang lainnya. Akhirnya
pada saat uji fungsi, dilakukan uji fungsi tanpa beban dan juga dengan
beban.

Pemeriksaan safety factor pada saat operasi tercakup di dalam
pemeriksaan manual operasi. Diharuskan manual operasi crane tersebut
memenuhi kaidah-kaidah keamanan saat dioperasikan.

Maafkan kalau ada kesalahan. Mohon ditambahkan oleh yang lain..

Tanggapan 5 – iboey iboey

Terima kasih Ma Alvin dan Mas Nanang atas info-nya. Mungkin nanti ini informasi bisa kita rangkum.

Saya ada 1 pertanyaan lagi mengenai Crane ini. Berdasarkan pengalaman, apakah crane operator mempunyai ‘kebebasan’ untuk menentukan apakah operasi menggunakan crane bisa dimulai ? Misalnya angin terlalu kuat, atau ada hal2 lain yg kebetulan hanya dilihat oleh care operator sewaktu sudah berada di atas sana. Saya pernah ke Offshore platform tipe TLP di Gulf of Mexico dan berbincang2 dengan crane operator. Katanya, si operator ini bisa dan pernah berhenti melaksanakan operasinya krn menurut dia tidak aman krn angin terlalu kencang. Dan yang lebih bagus lagi (menurut saya), dia cukup berani dan mau untuk bilang itu ke bos-nya walaupun akan menghambat schedule untuk sementara.

Apakah temen2 pernah melihat/mendengar atau tau mengenai ini ?

btw, waktu itu jg ada crane operator yg lain sedang mengangkat pipa2 yg besar dan berat…kebetulan saya dan bbrp orang lain berada di jalur crane bergerak….ternyata memang mengerikan…kl saja pipa itu jatuh dan menimpa orang…bisa gawat nih… untung ada yg mengingatkan kita untuk lari dan menyingkir.

Tanggapan 6 – Crootth Crootth

Buyung,

DI Inggris dan beberapa negara lain dikenal suatu evaluasi bahaya (bisa kualitatif bisa kuantitatif) yang termasuk dalam persyaratan untuk menyusun ‘Safety Case’, studi ini dinamakan ‘Drop Object Study’.

Study ini memberikan kegagalan Crane (terakhir bisa dibaca di Journal Reliability Engineering and System Safety 93 (2008) p1369) atau pengangkutan dan pengangkatan benda benda berat lain, berikut efeknya terhadap alat alat process. Sebagaimana Analisa Resiko Kuantitatif lain di situ juga diperikan Frequency Analisys dan Consequence Analysis dari tiap case yang dipilih. Risk yang diperoleh diperbandingkan dengan ALARP yang dianut.

Kebetulan saya telah melakukan studi ini sebanyak dua kali di dua perusahaan minyak yang berbeda (salah satunya Alvin ikut serta dalam study ini, sebagai fasilitator malah), jadi sejatinya, setelah studi ini, didapatkan rekomendasi rekomendasi yang meliputi antara lain: penguatan struktur, penambahan impact protector, pemindahan lokasi alat proses menjauhi manuver crane dll.

Apa buyung juga pernah melakukannya?

Tanggapan 7 – Inggriet M. Lawalata – PMT@CAPCX

Bung Buyung,

Pada umumnya operator crane dilengkapi oleh team rigger. Saya pernah
menyaksikan pengangkatan dengan crane 500T, and team rigger dipimpin
oleh Supervisor Rigger.
Setiap saat kami akan memulai pengangkatan, beliau akan mengecek
kecepatan angin di sekitar daerah pengangkatan. Bila kecepatan angina
diatas …. knot (angkanya lupa, soalnya sudah setahun yang lalu), maka
beliau tidak akan melakukan pengangkatan. Walaupun itu berarti, schedule
kerja jadi molor.
Untuk setiap pengangkatan dengan menggunakan crane, walaupun dengan
crane 50T, team rigger hadir dengan tambahan rompi dengan warna
mencolok.
Sebelum pengangkatan, dilakukan safety talk.
Pada saat pengangkatan pun, pada wilayah swing crane, tidak boleh ada
orang di bawahnya, kecuali team rigger.

Tanggapan 8 – Sunarno@gunanusa

Saya tambahkan sedikit, untuk pengoperasian Crane / Liftting Operation:

1. Crane & Operator

– Internal Inspeksi mencakup Sertifikasi Operator

– External Inspeksi dilakukan Depnaker dan Migas atau BKI

– Lifting Gear harus ditandai dengan COLOR CODE

– Inspector & Crane Operator harus sertifikasi dilegalisasi oleh
Migas

2. Sebelum pekerjaan dimulai harus melampirkan:

– Ijin Kerja / Lifting Permit

– SOP yang sudah setujui

– Risk Assessment

– Job Safety Analysis

– Pre Job Meeting

– Dll disesuikan ditempat kerja

Tanggapan 9 – roeddy setiawan

Pak Buyung,

Saya kurang faham, kalau bapak dan beberapa rekan bapak ada di path dr benda ya ng sedang diangkat, apakah bapak2 lagi on duty sebagai rigger help the crane operator doing his task ???.

Kalau bapak sebagai by stander, bukan nya terlarang ada di situ , loading master tentunya akan mempersilahkan bapak keluar dr area to clear the work place. sebelum crane op menjalankan tugas nya, dan every body that has decent work experience or pre job training will understand that we never never be in laoding/unloading area while crane work.

Tanggapan 10 – Arek Ciputat

Bener kata mas Roeddy,

Biasanya malah dikasih ‘sign’ dilarang mendekat ke ‘radius’ crane yang sedang bekerja.
Pengalaman saya di proyek lalu (onshore), ketika crane bekerja, selain rigger, field safety officer juga ikut mendampingi.