Semua Produk gasoline yang dihasilkan Pertamina sudah tidak ditambahkan timbal (TEL) lagi, baik itu produk Premium 88 , Pertamax 92 dan 95.
Produksi tsb telah dilakukan sejak mid 2006 setelah Ditjen Migas mengeluarkan spec baru bagi produk Bensin dan Solar.
Meskipun dalam SK Dirjen Migas tsb masih memungkinkan adanya kandungan Timbal (Lead) sebanyak 0.013 g/liter, tapi Pertamina sudah membuat kebijakan untuk tidak lagi menggunakan Timbal sebagai octane booster, sehingga semua produk gasoline Pertamina sudah bebas dari Timbal.

Tanya – Bambang Satya Murti

Rekans,

Ini pertanyaan mendasar dari ‘orang hilir’ he..he.. Mudah-mudahan ini bukan pertanyaan klise.
Bensin ‘premium’ yang dipasarkan di negara kita itu (RON 88 ya?) sebenarnya masih mempergunakan timbal (? Tetra Ethyl Lead) atau tidak sih? Sepertinya beberapa saat yang lalu kampanye ‘Premium TT’ begitu gencar, tetapi sekarang nggak pernah denger lagi.
Lha kalau Pertamax dan Pertamax Plus (RON 92 dan RON94), itu bahan dasarnya apa ya? Apakah juga mempergunakan ‘premium TT’ atau bahan yang lain? Ataukah sekedar ‘premium TT’ yang diberi additif untuk menaikkan RON-nya?
Mohon pencerahannya donk..

Tanggapan 1 – agus suryono

Dear Pak Bambang,

Semua Produk gasoline yang dihasilkan Pertamina sudah tidak ditambahkan timbal (TEL) lagi, baik itu produk Premium 88 , Pertamax 92 dan 95.
Produksi tsb telah dilakukan sejak mid 2006 setelah Ditjen Migas mengeluarkan spec baru bagi produk Bensin dan Solar.
Meskipun dalam SK Dirjen Migas tsb masih memungkinkan adanya kandungan Timbal (Lead) sebanyak 0.013 g/liter, tapi Pertamina sudah membuat kebijakan untuk tidak lagi menggunakan Timbal sebagai octane booster, sehingga semua produk gasoline Pertamina sudah bebas dari Timbal.

Yang dilakukan Pertamina dalam rangka TEL phase out adalah menaikkan kapasitas produksi dan severity unit2 yang menghasilkan HOMC.

Kalo Pertamax 92/95, bahan dasarnya adalah HOMC (high octane mogas component) yaitu fraksi naphta (C6-C10) yang banyak mengandung komponen aromatik yang merupakan produk dari proses catalytic reforming menggunakan katalis yang mengandung metal Platina. Komponen aromatik mempunyai angka octane yang tinggi. Sehingga tanpa adanya penambahan TEL-pun, Octane Number produk tsb sudah tinggi (biasanya > 100).

Utk produk HOMC yang beredar dipasaran (luar negeri), kadang ditambahkan MTBE atau Alkylate sebagai octane booster, persentasenya sekitar 10 – 15%vol.

Demikian pak, semoga membantu.

Tanggapan 2 – agus suryono

Saya tambahkan sedikit :

Unit2 penghasil produk HOMC selain catalytic reforming (yang dimiliki semua UP Pertamina selain UP III Plaju) adalah : RCC (Residue cat. cracking) di UP VI dan FCC (Fluid cat. cracking) di UP III.

Semua unit tsb menghasilkan HOMC yang mengandung komponen aromatic.

Tanggapan 3 – Marthin Winner

Bambang,

Seluruh bahan dasar pembuatan bensin tentu saja dari crude oil, yang kemudian dipisahkan berdasarkan titik didihnya. Salah satu fraksinya adalah bensin. Namun seringkali proses pemisahan di menara distilasi ini tidak menghasilkan bensin dengan nilai oktan yg diharapkan, sehingga jika dipaksakan dipakai di motor bakar akan menimbulkan efek knocking.

Salah satu cara (banyak cara yg lain) untuk menaikkan nilai oktan adalah penambahan TEL (tetra ethyl lead) kedalam bensin yg bernilai oktan rendah. Caranya sederhana, mixing saja. Namun kemudian diketahui penambahan aditif penambah nilai oktan ini berbahaya dari segi kesehatan dan lingkungan.

Pada intinya bensin beroktan tinggi ini bisa didapatkan dengan merubah struktur molekul hidrokarbon penyusun bahan bakar. Sehingga dengan bantuan katalis pada kondisi operasi tertentu, struktur molekul parafinik (bernilai oktan rendah), bisa diubah menjadi struktur naftenik, dan naftenik menjadi aromatik. Dimana nilai oktan aromatik > naftenik > parafinik.

Sehingga pelan2, kita beralih dari penambahan aditif TEL ke metoda yg bisa menghasilkan bensin beroktan tinggi dengan cara yg ramah lingkungan (dengan bantuan katalis).

Masih ingat proyek BLue Sky balongan? Sbg informasi : Balongan adalah kilang pertaminan yg menyuplai bahan bakar utama untuk daerah jabotabek dan jawa barat (CMIIW).
Sewaktu di balongan saya lihat masih ada unit untuk penambahan TEL kedalam campuran bensin yg beroktan rendah. Kembali lagi ke proyek blue sky, proyek ini bertujuan untuk mengurangi pasokan minyak bernilai oktan 88 dan 88+ (92, 94) yg mengandung timbal dan beralih kebahan bakar non timbal.

Lalu apakah bensin oktan 88 dan 92 itu berasal dari bahan baku yg berbeda? tentu tidak, sama saja, tapi ibaratnya makanan dimasak dengan resep yg berbeda. Nilai oktan yg diinginkan bisa diatur dengan mengatur kondisi operasi (temperatur, tekanan, katalis) di unit2 reaksi.

Setahu saya setelah adanya proyek blue sky, tidak ada lagi bensin bertimbal yg dikonsumsi di daerah jabotabek dan jawa barat. CMIIW.

Tanggapan 4 – Bambang Satya Murti

Pak Agus,

Terima kasih untuk pencerahannya. Lha sekarang saya lebih ‘dong’.
Sering kita baca, kalau kita masih impor HOMC dari negara tetangga (bukankah harga ‘premium’ kita sebenarnya dikontrol oleh harga HOMC dari negara tetangga kita ya?), sebetulnya berapa ya kapasitas produksi HOMC seluruh kilang di Indonesia? Berapa persen yang dimiliki Pertamina dan (ada kah?) yang diproduksi oleh kilang yang lain?.
Menarik juga untuk tahu bahwa Shell investasi gede-gedean di negara tetangga yang memiliki populasi kecil (dan tentu saja pangsa pasar kecil), dibanding langsung berinvestasi di negara kita?
Mudah-mudahan tidak menyimpang dari topik pertanyaan.

Tanggapan 5 – agus suryono

Pak Bambang,

Potensi produksi HOMC Pertamina around 160 MBSD (UP II – UP VI). Saya kurang tahu persis kebutuhan HOMC di Indonesia yang digunakan utk membuat produk Premium 88, Pertamax 92 maupun Pertamax 95. Yang jelas untuk menutupi kekurangan kebutuhan HOMC di Indonesia, Pertamina masih impor HOMC (biasanya dari Singapura).

Utk Harga, Pertamina membeli HOMC Impor dengan harga internasional (MOPS) yang berlaku pada saat itu (biasanya lewat spot market CMIIW). Jadi setelah diterima di Kilang, dilakukan blending HOMC impor tsb dengan fraksi naphta yang punya angka octane yang rendah (around 50 – 60) utk mendapatkan produk premium 88. Tentunya harga premium 88 sedikit lebih rendah daripada harga MOPS HOMC (around $2-3/bbl lower), lalu dijual ke Pemerintah dan selanjutnya Pemerintah menjual ke masyarakat dengan harga subsidi (Rp 6000). Tapi kalo Pertamax 92 dan 95, harganya mengikuti harga HOMC intl market karena bukan produk yang disubsidi.

Oleh karena itu Pertamina secara internal berupaya utk menjaga kinerja unit2 proses yang menghasilkan HOMC selalu baik, sehingga akan menurunkan jumlah HOMC Impor.

Tanggapan 6 – Adhia ‘James’ Utama

Mas Bambang,

Kita mengimpor itu karena produksi di kilang pertamina tidak mencukupi kebutuhan nasional. Khusus untuk kapasitas kilang, bisa dilihat langsung di web site pertamina. Untuk lebih jelasnya, ada artikel yang saya ambil langsung dari web nya pertamina. Disana banyak informasi yang bisa kita ambil untuk memahami kondisi per-BBM-an indonesia.

*Pertamina Articles*

** *Artikel – **Teknologi*

*Selamat Tinggal Pebe.!*

Alkisah, tersebutlah sebuah zat di dunia mikro bernama Timbal atau timah hitam. Timbal yang tak kasat mata ini punya inisial Pb (baca: pebe). Tapi namanya tak sesingkat ancaman yang dibawanya. Ia tergolong salah satu zat pembunuh, yang mengancam kesehatan dan masa depan umat manusia. Celakanya, si pebe ada di udara sekitar kita! =”’===

Jika terhirup dan masuk ke tubuh, sebagian besar akan ditimbun dalam tulang. Ketika orang mengalami stres, pebe diremobilisasi dari tulang dan masuk ke peredaran darah sehingga menimbulkan risiko keracunan. Dalam jangka panjang, penimbunan pebe bisa berbahaya.

Pebe yang ditimbun dalam tulang seorang perempuan hamil, berisiko mengakibatkan kesehatan janin dan pertumbuhan balita terganggu, seperti, bayi cacat, bahkan keguguran! Bahkan jika berhasil lahir selamat, balita yang mendapatkan asupan timbal terus-menerus dari udara maupun air susu ibu, akan terhambat perkembangan sistem sarafnya. Anak menghadapi risiko penyakit neurotik, sukar belajar, dan penurunan tingkat IQ. Peningkatan kadar pebe dalam darah dari 10 menjadi 20 5g/dl, menurunkan IQ rata-rata dua poin.

Pada remaja, pebe meningkatkan kelakuan kriminal. Sementara pada perempuan dewasa, selain mengganggu sistem reproduksi, juga mengganggu daur menstruasi. Pada laki-laki, pebe menurunkan jumlah dan kualitas sperma. Sperma cacat, membawa risiko bayi cacat. Libido laki-laki yang darahnya tercemar pebe akan turun dan dapat menyebabkan disfungsi ereksi. Akhirnya, terhadap kaum lansia, si pebe ini mempercepat proses penuaan alias memperpendek umur.

**

*Enemy #1 in the Air*

Lantas dari mana datangnya si pebe? Dialah musuh nomor satu di udara kita, terutama udara di kota-kota besar. Dia datang sebagai emisi gas buang bahan bakar bensin dari kendaraan bermotor yang memenuhi jalan-jalan kota. Senyawa timbal atau TEL (tetra ethyl lead), dipergunakan untuk menaikkan oktan (octane booster) dalam bensin.

Sekadar contoh, hasil kajian Vera Hakim dari UI pada 1998, menemukan, akumulasi pebe dalam darah anak-anak di Surabaya rata-rata 68 mikrogram/l, hingga menyebabkan anak kian agresif, kurang konsentrasi, bahkan menyebabkan kanker.

Laporan UNICEF dan UNEP (1994), menyebutkan, tingginya kadar pebe di udara kota Bangkok, Thailand, menyebabkan 200.000 – 500.000 kasus hipertensi, dan sekitar 400 kematian setiap tahun. Anak-anak kehilangan rata-rata empat poin IQ pada usia 7 tahun. Dalam jangka panjang, berdampak pada menurunnya produktivitas dan memicu serangan jantung.

Si pebe ini juga dapat mengkontaminasi tanah dan mencemari hasil pertanian yang dikonsumsi manusia. Sebuah laporan menyebutkan, penggunaan bahan bakar bertimbal melepaskan 95% timbal yang mencemari udara di negara berkembang.

*Tak Cukup Balongan*

Kalau sudah jelas dari mana asal muasalnya, kenapa juga bensin bertimbal masih digunakan? Negara-negara maju sebetulnya sudah menghapuskan bensin bertimbal sejak 20 tahun lalu. Atas maraknya berbagai kampanye anti timbal sejak 1997, wilayah Jakarta pun sebetulnya sudah bisa bebas dari bensin bertimbal sejak 2005.

Pebe pada awal penggunaannya diperlukan untuk meningkatkan oktan dari BBM. Aditif tersebut digunakan juga karena merupakan alternatif termurah untuk meningkatkan performa BBM sesuai tuntutan spesifikasi mesin kendaraan. Pertamina sekarang, selaku produsen BBM, memproduksi BBM beroktan tinggi dengan bahan baku HOMC (High Octane Mogas Component) tanpa pebe. Contoh nyata upaya untuk memproduksi HOMC adalah Proyek Langit Biru Balongan (PLBB).

Proyek pembangunan kilang minyak penghasil bensin tanpa timbal ramah lingkungan milik PT Pertamina (Persero) ini menghasilkan bensin tanpa timbal beroktan 92 dan 95. Bahkan sebelumnya, bensin Super TT (oktan 94) yang diproduksi Kilang Minyak UP VI Balongan sudah beredar, meski masih terbatas di kawasan DKI Jakarta, Cirebon, dan pantai utara (Pantura) Jabar, serta Bali.

Tapi, mengandalkan Balongan yang berkapasitas 340 ribu barrel/hari, masih jauh dari cukup untuk ‘mengusir’ si pebe. Namun bagi Pertamina, persoalannya tak sesederhana membalik telapak tangan.Biaya yang harus dikeluarkan untuk menjadikan tiga kilang lainnya, yakni kilang Dumai, Plaju, dan Balikpapan, mampu memproduksi bensin tanpa timbal, tidaklah sedikit.

Namun seperti diungkapkan Dirut Pertamina Ari H. Soemarno, perusahaan telah mengkaji dengan cermat sisi ekonomis dari investasi pengembangan kilang yang mampu memproduksi bensin nontimbal. Yang terang, jika dihitung lebih luas, kerugian memakai bensin bertimbal akan lebih besar dari ongkosnya. Sebuah penelitian dari Lembaga Pengembangan dan Riset Minyak dan Gas menemukan kerugian pencemaran polusi timbal bisa dua kali lipat dibanding biaya yang harus dikeluarkan untuk menguranginya.

*Keberhasilan *

Penghapusan bensin bertimbal menjadi salah satu target utama Dirut Pertamina Ari H. Soemarno sejak memimpin pada Maret 2006. Pada awal Juli 2006, Pertamina mengumumkan untuk mengubah semua bensin bertimbal menjadi nontimbal. Artinya, Pertamina harus lebih banyak memproduksi Mogas yang ber-octane tinggi (HOMC), agar tidak lagi membutuhkan *TEL*, untuk menaikkan octane.

Sebuah penelitian terakhir menunjukkan, kandungan timbal pada bensin Indonesia pada 2006 sudah menurun drastis, yaitu hanya tersisa 0,038 g/l, jauh di bawah ambang batas normal yang diperkenankan, karena bensin produksi Pertamina memang seluruhnya sudah nontimbal sejak Juni 2006 silam.

Untuk memproduksi bensin bebas timbal, Pertamina mematok dua strategi. Jangka pendek, Pertamina mengimpor langsung bensin nontimbal sepanjang kapasitas produksi belum memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sedangkan, Jangka panjang, meningkatkan kapasitas kilang yang khusus memproduksi bensin nontimbal. Pertamina komit menanamkan investasi yang dibutuhkan.

Targetnya bukan hanya menghapuskan timbal, namun juga memenuhi semua standar kualitas bahan bakar yang menjadi trend global, seperti pengurangan kandungan sulfur. ‘Kelak bahan bakar Pertamina akan sesuai dengan standar Euro-type,’ demikian Ari.

Komitmen dan upaya Pertamina untuk memproduksi bahan bakar yang memenuhi standar bahan bakar global yang kompetitif, yaitu dengan tetap mempertimbangkan sisi ekonomis dan bisnis, boleh disebut salah satu keberhasilan Pertamina. Tentu bukan proses yang mudah. ‘Terusirnya’ si pebe yang menakutkan dari udara kita, maka salah satu ancaman terdepan generasi bangsa ini sudah dihilangkan. *(DivKomPtm)*