While main flame fail, the system should re-ignite suddenly as long pilot still exist as well as long natural gas consentre still more then waste gas, or in case so much CO2 exist you may fail to re-ignition the main flame.However, important thing that you have to maintain the pilot always exist; it’s mean that pilot have to be eqquiped with automatic control for re-ignition while fail but also have to eqquiped with manual override

Tanya – ryan mefiardhi

Hi..

Does anyone have experience or best practices to mitigate the flare that might fail to ignite once gas introduced?
Or does anyone have experience how to ignite the flare in other way, if the ignition system fail? What is the procedure and material specification?
Waiting for your knowledge share..

Tanggapan 1 – Crootth Crootth

Mas Ryan,

We experienced such problem, once I worked for Vico Indonesia, about 4 years ago. There is a remote field in Pamaguan which produces gas that contain (up to) 60% CO2. By plotting the gas on the Le Chatelier triangle we couldn’t ignite this gas theoritically in the ambient temperature and pressure.

Logically, the gas can be ignited if the CO2 content is lessered or the gas temperature is increased.

So, people in the field trying to ignite a small torch (JSA and Hazid has been done to mitigate the hazards) in the flare tip to raise the temperature of purge gas, once the temperature is achieved, the flammable will be burned.

In the past time when HSE was yet a big issue, some people tried to ignite flare by launched a fire arrow (you can imagine an olympic sportsman try to ignite the olympic fire) with flare tips as a target.

Be caution of the excess of fire arrow if the it misses the target. A bush fire may be happened on such occation.

Wish it could help you.

Tanggapan 2 – arnold antonius

Ryan

While main flame fail, the system should re-ignite suddenly as long pilot still exist as well as long natural gas consentre still more then waste gas, or in case so much CO2 exist you may fail to re-ignition the main flame

however, important thing that you have to maintain the pilot always exist; it’s mean that pilot have to be eqquiped with automatic control for re-ignition while fail but also have to eqquiped with manual override

you still not clear explaint what type of pilot ignition system that used, based on my understand mostly are Electric Spark Ignition System or Flame Front Generator

for the enclosure shall be : copper free aluminium, SS or corrosion resistance and NEMA7
some we modify flame monitoring sensor using UV cam as permissive to replace TC sensor

Tanggapan 3 – Ekawan via GMAIL

Mas DAM

Kasus tidak tersedianya automatic flare ignition system yang memadai kelihatannya ada dimana-mana di Indonesia, saya gak berani menyebutkan nama kumpeninya, tapi ada satu kumpeni di Sumatera, yang punya banyak field tapi tidak satupun flare nya dilengkapi dengan auto ignitor, dan mengandalkan cara2 manual yang berbahaya baik bagi lingkungan maupun operator itu sendiri.

Saya jadi penasaran, apakah auto ignitor system ini begitu mahalnya sehingga dianggap pemborosan atau maintenancenya yang sulit?

Ada yang bisa memberi pencerahan?

Tanggapan 4 – gideon#compressor-flare@kotaminyak

Saya ikut menambahi pak,

Sebetulnya dengan menggunakan auto ignition untuk flare adalah suatu langkah yang cukup bagus, dengan pertimbangan bahwa:

– harga relatif tidak mahal, bahkan sudah bisa diproduksi di indonesia sesuai dengan standar API dan ANSI

– dengan teknologi yang sekarang ini, electric ignitor cukup handal dan tahan cuaca/panas

– pilot flame dapat diatur apinya disesuaikan dengan kondisi/komposisi gas yang akan dibakar

– maintenance berkala yang tidak sulit, hanya beberapa bulan sekali sehingga tidak begitu merepotkan

– flame detector yang tersedia ada beberapa macam, dipilih sesuai dengan kondisi flare (TC, IR, UV, Sound, etc.)

– umur pilot dan ignitornya bisa mencapai beberapa tahun dengan kondisi api menyala terus

– sudah terpasang di banyak field (onshore/offshore) di lingkungan oil&gas company di wilayah indonesia

– auto ignition system ada beberapa macam metode, bisa dipilih yang paling cocok (FFG, direct pilot, combine, direct spark, plasma, etc.)

– dll.

Yang penting asalkan kita tahu komposisi gas dan kondisi fisik gas buang, kita akan bisa mengkalkulasi proses pembakaran, internal&external flow dan dispersinya, baru kemudian memilih sistem yang terbaik yang cocok untuk flare nya.

Tanggapan 5 – Ginting Simeon

Dear All,

Saya sependapat dengan Mas Ekawan mengapa banyak operator/kumpeni yang
mengoperasikan flare tanpa ignition system yang memadai dan handal tanpa
mengindahkan keselamatan lingkungan sekitar, operatornya bahkan mungkin
plant nya sendiri. Kalau hal ini kita bicarakan beberapa tahun lalu dimana
penerapan standard HSE yang tidak begitu ketat, mungkin hal ini masih dapat
dimaklumi. Dengan kondisi sekarang dimana hampir semua kumpeni sudah mulai
mengaplikasikan standard HSE yang tinggi, tapi kok masih banyak dijumpai
ignition system yang masih manual dari flare gun, panah api, dan jangan –
jangan masih ada yang pake kerekan api (seperti kerekan tiang bendera) 🙂
Tetapi karena pada akhirnya hal ini akan berakhir dengan biaya, tentunya hal
ini akan berpulang kembali ke kumpeni bersangkutan.

Untuk pertanyaan nya Mas Ryan, karena informasi nya tidak begitu spesifik,
agak sulit untuk memberi komentar karena bisa meluas kemana-mana. Mungkin
kalau Mas Ryan bisa kasih informasi yang lebih detail, seperti apakah di
plant nya ada ignition system atau tidak, kalau ada typenya apa, gas yang di
bakar apa, dll.

Tanggapan 6 – suhartono hartono

Dear All,

Kami pernah ada proyek untuk pemasangan beberapa Automatic Flare Ignition System di Sumatera juga dengan hasil yang cukup memuaskan karena hasil dari cerobong di check dengan multi gas detector mendapatan hasil Zero untuk Gas – gas yang berbahaya baik bagi manusia maupun hewan peliharaan yang sudah tidak ada lagi. Hal ini dikerjakan sekitar 4 tahun yang lalu. Semoga untuk lainnya menggunakan system yang sama sehingga pencemaran lingkungan bisa setidaknya dikurangi….

Tanggapan 7 – harry alfiyan

Dear Pak Hartono,

Hanya sekadar sharing (tolong diperbaiki jika salah). Sependek pengetahuan saya, pemakaian detector gas untuk flare hanya terbatas untuk tipe flare enclosed. Karena burner enclosed flare berada di bagian bawah cerobong, dan detector dapat kita pasang di bagian atas cerobong. Sehingga hasilnya memang aktual sebagai hasil pembakaran gas (flaring). Sedangkan untuk tipe open flare, cukup sulit mendeteksi gas yang keluar dari cerobong karena sifat flamenya dan combustion yang terjadi di puncak flare,. Sehingga detektor gas hanya bisa mendeteksi gas di sekitar environment dimana flare tersebut dipasang.

Secara teoritis memang, flare baik open maupun enclosed didesign hingga kemampuan destruction levelnya 99 %, namun in fact keberhasilannya juga dipengaruhi oleh tipe gas, kondisi pembakaran, residence time, viscocity, dan faktor lainnya.

Maaf jika salah dalam penyampaian.

Tanggapan 8 – Ginting Simeon

Pak Harry,

Sepengetahuan saya memang detector gas hanya dipakai di enclosed flare
karena detectornya bisa langsung di pasang di atas burnernya. Tambahan,
karena enclosed flare mempunyai cerobong, hasil pembakaran tidak langsung
bercampur dengan lingkungan sehingga akurasi deteksi gas nya lebih tinggi.
Hal ini tentunya tidak bisa dilakukan pada elevated flare. Saya yakin flare
yang dipasang Pak Hartono adalah type enclosed flare.

Satu lagi, sebagai tanggapan buat Pak Hartono, hasil pembakaran di flare
tidak bergantung kepada ignition system. Auto ignition system hanya untuk
memastikan bahwa flare selalu hidup dan beroperasi.

Tanggapan 9 – ryan mefiardhi

Terimakasih bapak2 buat responnya. sangat menarik, jika safety memang menjadi prioritas kita sehingga yang dapat menunda suatu plant untuk beroperasi.

Begini pak, tahun terakhir ini saya ikut belajar bagaimana sequence menghidupkan plant setelah turn around dilaksanakan ditempat saya bekerja. dari start up risk matrix yang disusun oleh tim operasi dan engineering, karena plant nya sudah tua, flare system mendapatkan posisi pada risk yang high dengan manageability yang low. Sebagai contoh ada beberapa plant yang tertunda system start upnya beberapa hari karena flare fail to ignite. Di tempat saya flare system banyak kombinasinya, rata2 setiap plant punya HP dan LP flare system dan ignition system ada yang FFG ada pula yang electric ignition.

Sebagai mitigasinya kami melakukan hampir semua langkah2 yang telah bapak2 sebutkan dibawah, seperti check FFG system ketika shut down, flushing ignintion line dan gradual plant pressure ketika startup. untuk plant yang gas source wellnya kurang, kami punya mitigasi gas packing line dari daerah sebelah. Namun karena keterbatasan waktu selama window shutdown, kami tdk berkesempatan untuk mencek flare tipnya (pilot dan thermokopelnya).
Rekan saya pernah menyampaikan pengalamannya di tempat lama, perlu disediakan back up iginition system prior to start up. dari milis internal perusahaan saya ada praktikal menggunakan flare gun di north sea, dimana orang yang melakukan harus bersertifikat dan harus menggunakan kaji resiko yang teliti. Namun hal ini di pertanyakan oleh org2 refinery, dimana hal itu tidak boleh dilakukan di tempat mereka. Mengenai standardnya flare gun, rekan saya itu memberi link sbb :
UKCS SOP-41 governs the safety management of flare ignition shotguns – find attached a link to the north sea safety management system web-site where you can view this. http://uksms.bpweb.bp.com?D=UKCS-SOP-041&S=V&Ank=V.1
Mohon sharing pengalaman bapak2, khusus untuk cara2 yang’nekat’ diatas. Memang secara safety sangat berbahaya, namun bila di imbangi dengan kaji resiko yang baik pasti dapat dilakukan. Misalnya kalau pakai flare gun : flare gun seperti apa, izin dari mana, utk indonesia org dpt mendapatkan sertifikat dari mana dll.