Elastisitas Energi itu definisinya prosentase perubahan konsumsi energy terhadap satu persen (1%) perubahan pendapatan kotor domestic (GDP). Jadi masuk akal saja kalau kondisi kita sekarang ini pasti elastisitas energy nya tinggi. Jumlah penduduk bertambah, konsumsi energy meningkat dan pembangunan tettap berjalan. Sayangnya tidak diimbangi dengan peningkatan kotor domestic yang significant. Jadi masalah ini ini tidak ada hubungannya dengan penghematan energy atau mengurangi jumlah pemakaian energy, tapi adalah paramater kesuksesan pembangunan suatu negara.

Tanya – Sulistiyono

Bagaimana ya ngitungnya elastisitas itu ? Saya piker kalau pemakaian energy/kapita saya kira kita kecil sekali.

Indonesia Boros Energi

Kamis, 07 Agustus 2008, 12:56:37 WIB, ( Hits: 71 )

Jakarta,

Indonesia termasuk negara yang boros dalam penggunaan energi. Elastisitas energi kita mencapai 1,8, lebih tinggi dibanding Malaysia. Jepang dan Jerman elastisitas energinya malah di bawah 1.

Untuk tahun 2025, jelas Dirjen Migas Departemen ESDM Evita Legowo, diharapkan elastisitas energi Indonesia dapat mencapai kurang dari 1, melalui program energi mix yaitu meningkatkan penggunaan gas dan batu bara serta energi terbarukan, serta mengurangi penggunaan minyak bumi.
Penggunaan gas pada 2025 diharapkan dapat mencapai 30%, batu bara 33%, minyak bumi 20% dan energi terbarukan 17%.

Saat ini, lanjut Evita, berdasarkan data energi (primer) mix 2006, penggunaan minyak bumi masih menjadi mayoritas yaitu 51,66%. Sedangkan gas alam 28,7%, batu bara 15,34%, panas bumi 1,32% dan tenaga air 3,11%.

Untuk mencapai penghematan itu, selain melalui kebijakan yang dilakukan pemerintah, masyarakat juga dapat ikut mendukung dengan menggunakan energi seefisien mungkin. Tidak hanya hemat bahan bakar, tetapi juga listrik dan air.

Tanggapan 1 – roeddy setiawan

Dear millis,

Setuju dg kutipan pak Sulis,

Kalau saya lihat rush hour di banyak negri lain, adalah dimana orang pergi kerja dan pulang kerja.
Tapi kl saya lihat di jkt dari pg sd malam rush hr terus, entah apa yang dikerjakan dijalan, sepertinya kerja kita di jalanan terus ???? ttidak aneh konsumsi energy tinggi , produktivuity yaah kurang. hal yg sama sy lihat di surabaya ,,,,,, balikpapan ,,,bandung entah yang lain. di Ulsan south Korea, sesudah jam 8 pg engak ada kendaraan di jalan, cuman satu dua, nanti sesek kalau jam lima sore pas bubaran. begitu pula di houston, dan beberapa kota industri di eropa.
Barangkali indikator ini sesuai dg kutipan pak Sulis.

Tanggapan 2 – rahmat ardiansyah

Pak Sulis,

Saya berpikir begini Pak, kalau salah tolong dibetulkan. Di kota saya tukang beca motor (betor) dengan membakar 1 liter bensin dia bisa menghasilkan 20 ribu perak. Sementara di Malaysia, supir taksi, dengan membakar 1 liter bensin bisa menhasilkan uang 40 ribu perak………jadi yang dihitung bukan pemakaian energi perkapita….tetapi berapa penghasilan yang didapat dengan membakar energi persatuan volume perkapita. Jadi orang Indonesia membakar energi memang ‘sia-sia’………alias pengatur negara kita memang terlalu pinter jadi kebanyakan teori……lha wong jalannya rusak kog disuruk efisien piye tho……..Pak SBY…
Satu lagi, coba jelaskan dengan teori apa kasus dimana listrik mati 4 s/d 8 jam sehari tetapi tagihannya tetap sama, kadang-kadang lebih mahal! dan bagaimana pula menghemat listrik kalau listriknya mati. Opo ora edahn….

Tanggapan 3 – Sulistiyono

Lha yang diselundupkan atau yang belinya bensin subsidi dan dijual ke industry dengan harga lebih tinggi kan tidak ada produktifitasnya.
Gimana ini mas Parno.

Tanggapan 4 – Eko Prasetyo

Belum lagi harus dihitung uang segitu itu daya beli nya seberapa. 20 rebu di kota itu mungkin bisa membuat tukang betor hidup cukup, tapi 40 rebu di Malaysia mungkin tidak cukup untuk sejahtera.

Tanggapan 5 – Ivan Bintara

Pak Sulis,

Kalau nggak salah elastisitas disini = intensitas dibagi GDP (Gross Domestic Product). Kalau intensitas (energi/kapita), saya kira kita relatif kecil, tapi berhubung pembaginya GDP, dan kita tahu GDP kita keciiiil, maka elastisitas jadi besar.

Logikanya kalau negara maju, karena GDP nya tinggi, maka elastisitasnya cenderung lebih rendah, walaupun energy intensity-nya tinggi. Jadi: GDP nya dong yang dinaikkan, biar elastisitasnya turun.. gitu nggak sich??

Tanggapan 6 – Rovicky Dwi Putrohari

Pak Sulis,

Elastisitas itu melihat efisiensi energi. Sebenyak energi dibutuhkan untuk menghasilkan sejumlah nilai.

Mudahnya gini,

Untuk hidup membutuhkan energi seharga 15 ribu rupiah. Untuk berproduksi membutuhkan 10 ribu rupiah dan menghasilkan 30 ribu rupiah Artinya total kebutuhan energi 25 ribu rupiah sedangkan hasilnya 30 ribu rupiah, jadi untung 5 ribu rupiah.
Katakanlah efisiensinya dihitung sebagai 25/30 atau 0.8.

Nah sayangnya di Indonesia ini kebutuhan energinya selama ini hanya cukup untuk ‘bernapas’ (kita kekurangan listrik), atau energi untuk berproduksinya sangat kecil. Contoh mudahnya adalah listrik yang memiliki pola ‘peak’ atau beban puncak dimalam hari. Ini menunjukkan listriknya bukan untuk produksi. Jelas ini menunjukkan keborosan energi.
Negara lain yang elastisitasnya rendah (sangat efisien), memiliki pola kebutuhan listrik puncak pada siang hari, yaitu pas mereka kerja. Lah ini listrik di Indonesia untuk menerangi jalan baliho iklan, yg notabene biaya iklan masuk dalam biaya produksi jugak … blaik !! 🙁

Tanggapan 7 – Anshori Budiono

Elastisitas Energi itu definisinya prosentase perubahan konsumsi energy terhadap satu persen (1%) perubahan pendapatan kotor domestic (GDP).

Jadi masuk akal saja kalau kondisi kita sekarang ini pasti elastisitas energy nya tinggi. Jumlah penduduk bertambah, konsumsi energy meningkat dan pembangunan tettap berjalan. Sayangnya tidak diimbangi dengan peningkatan kotor domestic yang significant.

Jadi… masalah ini ini tidak ada hubungannya dengan penghematan energy atau mengurangi jumlah pemakaian energy, tapi adalah paramater kesuksesan pembangunan suatu negara.

Tanggapan 8 – Gusti Sidemen

Mungkin ngitungnya adalah energi yang diperlukan untuk memproduksi GDP per US$ 1000.

Tanggapan 9 – Gusti Sidemen

Kalau melihat di wikipedia:

http://en.wikipedia.org/wiki/Energy_elasticity

Energy elasticity itu adalah:

Energy elasticity is a term used with reference to the energy intensity of Gross Domestic Product. It is ‘the percentage change in energy consumption to achieve one per cent change in national GDP’.

Contohnya, jika suatu negara dalam setahun GDP-nya naik 5%, dan untuk itu dia membutuhkan penambahan konsumsi energy sebanyak 4%, maka energy elasticity-nya adalah 4%/5%= 0.8 .

Maka jika Indonesia energy elasticitynya 1.8 berarti, jika pemerintah menargetkan pertumbuhan GDP 5%, maka harus menambah konsumsi energy sebanyak 9% .

Begitulah kira-kira.

Tanggapan 10 – Sulistiyono

Thank atas penjelasannya…

Tanggapan 11 – Gusti Sidemen

Karena Indonesia adalah eksporter energi, berarti energi tidak hanya berfungsi sebagai bahan bakar dari aktivitas ekonomi untuk menghasilkan GDP, tetapi juga komoditi ekspor yang berkonstribusi langsung ke dalam GDP. Dengan demikian, peran energi dalam GDP tentu lebih besar jika dibandingkan dengan negara non energi ekporter. Apakah dengan demikian perbandingan elastisitas energi terhadap GDP tetap valid untuk dipakai sebagai kriteria untuk menunjukkan bahwa Indonesia boros energi ?

Tanggapan 12 – Sulistiyono

Bapak2 Ivan, Anshori B, Pak GS , Pak RDP DA rekan2 mlister.

Sepertinya makin kecil angka elastisitasnya malah tambah elastis terhadap fluktuasi harga minyak dunia. Thank untuk semua responsenya. Pemerintah sebaiknya mikirin bagaimana menaikkan GDP aja Dan nggak usah mikirin yang ndakik2 alias istilah2 yang nggak ada gunanya bagi kesejahteraan rakyat.

Tanggapan 13 – Gusti Sidemen

Setuju sekali Pak Sulis, GDP harus naik. Tentang istilah-istilah mungkin nggak ada ruginya kita diskusikan. Istilah dan atau parameter tertentu adalah alat ukur yang dapat digunakan dengan lebih tepat menganalisa capaian atau menetapkan hal-hal yang perlu dilakukan. Jadi menurut saya diskusi tentang suatu istilah perlu juga untuk meningkatkan suatu pemahaman atau katakanlah sebagai sebuah pencerahan, sesuai dengan spirit milis ini dari kita untuk kita (maaf kalau salah menafsirkannya).