Untuk pengoperasian ignition system secara manual bisa dilakukan beberapa kali oleh operator yang benar2 sudah ditraining mengenai metode/prosedur penyalaan flare. penyalaan flare cukup berbahaya berkaitan dengan kondisi sekitar flare (angin, purge gas, acoustic impact, dll…). Tetapi kalau ignition system pada flare dioperasikan secara otomatis, maka perlu memperhatikan batasan waktu maksimum penyalaan.

Tanya – S.N. Rusjdi

Dear rekan,

Saya jadi tertarik dengan diskusi tentang flare safety dan mau numpang tanya…

Mungkin ada rekan2 yang bisa menjelaskan tentang back-up ignition system (seperti yang disebutkan Pak Ryan), terutama untuk flame front generator (FFG) manual. Apakah back-up ignition ini berarti harus ada redundant mixing/spark chamber sebagai back-up?

Menurut DNV Offshore Standard DNV-OS-E201 (Oct 2005) point 116:

‘The ignition system shall be provided with adequate redundancy to ensure operation as and when required.

Guidance note:

This may mean:

– back-up or reservoir nitrogen

– minimum two attempts in each sequence

– parallel components as required to remove sources of single failure.’

Mungkin ada rekan2 yang bisa berbagi apa requirement API Std 537 (saya tidak punya API standard ini) tentang back-up ignition system ini.

Mohon sharing pengalaman tentang hal ini…

Tanggapan 1 – Hendy

Mas Sanny,

Sekedar share saja, di tempat kami juga pernah FFG failed to ignite, tetapi lebih karna kendala air-nya, kebetulan di salah satu plant ada yg tidak menggunakan compressed-air, jadi air untuk FFG di-supply dari blower, dan yg sering rusak justru blower-nya…

Kalo saya baca-2 di API RP537, disitu memang direkomendasikan untuk mem-back-up electric-ignition dengan FFG misalnya.., jadi back-up disini lebig kearah other type of ignition… karna reliability dari electric ignition tidak seandal FFG (mudah di maintenance).., tidak disebutkan secara specific FFG perlu di back-up… cmiiw.

Mohon di-share kalo ada pengalaman yg lain…

Tanggapan 2 – S.N. Rusjdi

Dear Mas Hendy and all,

Terima kasih untuk feedbacknya…

Jadi menurut API Std 537, apakah back-up ignition system ini harus dari tipe yang berbeda, misal primary ignition Electric Ignition, backup ignition FFG? Mohon maaf karena saya belum punya API Std 537 terbaru…

Pengalaman saya sebelumnya dalam sebuah proyek untuk FPSO, ignition system yang digunakan adalah Electric Ignition, dengan tiga kali ignition dalam setiap ignition sequence (lebih dari yang disyaratkan oleh DNV Offshore Std DNV-OS-E201).

Mungkin ada teman2 yang bisa berbagi pengalaman tentang hal ini…

Tanggapan 3 – gideon#compressor-flare@kotaminyak

Bapak2, hanya sebagai tambahan informasi saja:

Untuk pengoperasian ignition system secara manual bisa dilakukan beberapa kali oleh operator yang benar2 sudah ditraining mengenai metode/prosedur penyalaan flare. penyalaan flare cukup berbahaya berkaitan dengan kondisi sekitar flare (angin, purge gas, acoustic impact, dll…).

Tetapi kalau ignition system pada flare dioperasikan secara otomatis, maka perlu memperhatikan batasan waktu maksimum penyalaan. apabila sampai batas waktu tertentu ternyata flare/pilot belum juga menyala, maka controller pada ignitor (flare burner management system) akan memberi signal ‘ignition failure’ atau alarm, dan proses penyalaan akan terhenti. jika hal ini terjadi maka operator harus me-reset controller tersebut untuk memulai urutan prosedur penyalaan flare dari awal, atau dengan menggunakan ignitor lainnya.

Diantara 4 tipe ignitor (API 537) yang paling agak repot adalah penyalaan flare dengan sistem FFG. ini bisa dilakukan beberapa kali hingga api di ujung sana menyala stabil. yang sering terjadi adalah orang lupa buka/tutup valve di jalur FFG (valve nya jauh dari panel sih…). akibatnya bisa fatal karena api bisa keluar melalui saluran drain, warnanya biru cerah, kalau siang tidak tampak. bisa dibayangkan kalau hal ini terjadi pada hazardous area pada siang hari dimana ada kemungkinan terdapat gas2 di sekitar pipa2 flare.