Bio Fuel yang berbasis ethanol lazim disebut dengan BIOETHANOL bisa menjadi subsitusi dari bensin. Saat ini dipasaran atau di SPBU Pertamina dikenal dengan nama BIO Premium atau BIO Pertamax. Kandungan Ethanol di bensin produksi Pertamina yang saya sebutkan tadi saat ini sekitar 1% namun dalam tahun 2008 target Pertamina adalah 2.5%. Rencananya 2009 kandungan Ethanolnya akan menjadi 5% atau E 95. Untuk sementara bensin dengan kandunngan Ethanol sampai 5% bisa diterima oleh para produsen mobil di Indonesia (Gaikindo) karena tidak berdampak apa2 terhadap kinerja mesin bahkan sampai 10% pun tidak masalah. Hanya para produsen masih ragu karena menunggu persetujuan prinsipalnya.

Tanya – ari diana

Maaf, nih.. boleh gak bertanya seputar bio fuel di forum ini?
Kalau boleh, semoga ada rekan2 yang dapat memberi informasi ttg bio fuel. soalnya dipasaran sdh ada dan mulai rame.

Sebenarnya bio fuel itu apa? apa bedanya dgn bhn bakar (bensin)?
bagaimana pula dengan penggunaan dan standarisasinya? kok dengar2 sebenarnya bahan bakar ini cukup bahaya di mesin.

Puyeng juga nih jadi konsumen.

Terimakasih seblumnya.

Tanggapan 1 – Amos Christian Knight

Alo sis/bro?, kebetulan saya baru masuk di PT Indo Biofuel Energy Indonesia

Fokus utama perusahaan kami sebenarnya bukan mengenai produk cairan Biofuel, tetapi lebih kepada produksi/instalasi mesin untuk memproduksi Biofuel, tetapi kami juga mempunyai pabrik Biofuel sendiri di Merak.

Yang kami produksi disana itu BioDiesel, jadi sebagai pengganti solar, tetapi beda dengan yang pertamina gunakan, karena pertamina menggunakan B2-B5, maksudnya adalah kandungannya sekitar 2-5 persen BioDiesel, sisanya solar.

Sedangkan perusahaan kami memproduksi B100, artinya benar2 100 persen dari bahan nabati yang mudah diuraikan, dengan bahan baku RBDPO, bukan CPO, karena menurut kami kualitas RBDPO jauh lebih baik dari CPO, dan untuk pasar export kebanyakan negara tidak mau terima kualitas Biodiesel dengan bahan baku dari CPO, karena masih rendah kualitasnya.

Produksi B100 kami sendiri sudah ditest ke mesin2 diesel, baik seperti genset, forklit, juga kemaren terakhir kami test dengan Kijang Innova versi diesel, bisa dipakai untuk lari 100km./jam

Kalau untuk Bioetanol sendiri atau bensin bio, perusahaan kami belum bergerak sampai kesana walau ada rencana untuk itu heheh. smoga membantu ya informasinya.

Tanggapan 2 – Herry Putranto@cendrawasih

Wah senang sekali rasanya jika diskusi mengenai Bio Fuel atau yang lebih umum dibicarakan adalah Bahan Bakar Nabati (BBN). Di forum milis Migas diskusi tentang BBN sangat dimungkinkan karena jika sudah menjadi Bio Fuel maka peizinan terkait pemasaran kepada masyrakat dan pengguna harus melalui izin niaga dari Ditjen Migas.

Sebagai info kita memiliki Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati itu berada dibawah koordinasi Menteri ESDM. Pemerintah RI sudah memiliki Blue Print maupun Road Map mengenai BBN ini yaitu Instruksi Presiden No.1/2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan BBN (Bio Fuel) sebagai bahan bakar lain.

Bio Fuel yang berbasis ethanol lazim disebut dengan BIOETHANOL bisa menjadi subsitusi dari bensin. Saat ini dipasaran atau di SPBU Pertamina dikenal dengan nama BIO Premium atau BIO Pertamax. Kandungan Ethanol di bensin produksi Pertamina yang saya sebutkan tadi saat ini sekitar 1% namun dalam tahun 2008 target Pertamina adalah 2.5%. Rencananya 2009 kandungan Ethanolnya akan menjadi 5% atau E 95. Untuk sementara bensin dengan kandunngan Ethanol sampai 5% bisa diterima oleh para produsen mobil di Indonesia (Gaikindo) karena tidak berdampak apa2 terhadap kinerja mesin bahkan sampai 10% pun tidak masalah. Hanya para produsen masih ragu karena menunggu persetujuan prinsipalnya. Yang saya tahu kandungan sampai 15% masih bisa diakomodir tanpa perubahan dimesin mobil kita.

Bio Fuel lainnya yang berbasis CPO atau minyak Jarak adalah BioDiesel dan ini juga sufah banyak ditemui di SPBU Pertamina di Jabodetabek. Kandungan Bio (FAME) saat ini berkisar 2,5% dan akan menjadi 5%.

Indonesia sangat potensial mengembangkan BBN ini, karena itu Pemerintah cq Pertamina sedang menjajaki kerjasama dengan Pemerintah Brasil untuk mengembangkan Bensin Ethanol di Ind. Minggu ini MEDCO Energi mengandeng perusahaan Ethanol dari Brasil untuk membuka lahan untuk perkebunan tebu di Merauke.

So, jangan kuatir deh dengan isue bahan bakar ini cukup bahaya di bensin, yang jelas trader BBM akan berkurang Porsi Import BBM untuk supply dalam negeri karena Pertamina secara bertahap mencampur BBM nya dengan Nabati hingga 5%. Lumayan khan kita bisa melakukan penghematan sekaligus membantu Petani kita.

Nanti saya kirimkan Blue Print BBN 2005 – 2025 ini jika anda butuhkan.

Tanggapan 3 – untoro@batan

Rupanya banyak juga yang bergerak di Biofuel dan memang harus mulai digunakan di negeri kita tetapi memang harus memilih bahan baku yang tidak bertabrakan dengan kebutuhan untuk makanan sehingga bisa jadi rebutan.

Tetapi kalau biofuel tersebut digunakan hanya sebagai substitusi dan dari bahan baku yang tidak jadi rebutan, maka ada teknologi yang mungkin kita campurkan menjadi bahan gas atau hidro karbon lain sehingga tidak digunakan sebagai bahan bakar utama akan lebih menarik lagi.

Kita peneliti di ISED di kawasan Puspipek ini juga sedang mengembangkan kearah sana dengan menggunakan teknologi ultrasonik dan ternyata teknologi tersebut selain banyak keuntungannya dan akan memotong proses konvensional.

aat ini kita dalam proses untuk membuat prototipe untuk proses tersebut baik digunakan dalam proses reaksinya maupun proses untuk pemisahan/pemurniannya.

Bravo Biofuel tapi bukan sebagai bahan bakar utama.