Penentuan harga LNG biasanya dibuat dalam formula sebagai fungsi dari harga minyak, lalu dibuat batas atas dan batas bawah. Sewaktu kontrak LNG Tangguh utk Fujian ditandatangani, harga minyak sdg berada di posisi yang rendah, sehingga penentuan batas atas tidak mengantisipasi lonjakan harga minyak yg drastis dalam kurun 2 tahun terakhir (saat itu yang menjadi concern adalah penentuan batas bawah agar ketika harga minyak semakin rendah, harga LNG Tangguh tidak ikut jatuh terlalu dalam).
Jadi utk masa itu, harga kontrak ini ga jelek lah, apalagi beberapa bulan sebelumnya Indonesia gagal mendapatkan market LNG ke Guangdong, sehingga ketika negosiasi utk Fujian harus mau turun. Kalau saat itu kontrak Fujian tidak dapat, pembangunan proyek Tangguh pasti akan di-delay, karena skema pendanaan proyek gas bertumpu kepada faktor kontrak penjualan gas, tidak seperti minyak.

Tanya – Mustofa Sarbini

Pernahkah dibahas dimilis ini tentang Kontrak Tangguh LNG yg rugikan Negara?
Sebab melihat dimedia dan di TV sptnya hal ini sangat menyedihkan sekali bgmn bisa para pemimpin eksekutif tahun 2002 tidak tahu potensi kerugian??

Tanggapan 1 รขโ‚ฌโ€œ Zaki

Penentuan harga LNG biasanya dibuat dalam formula sbg fungsi dari harga minyak, lalu dibuat batas atas dan batas bawah.
Sewaktu kontrak LNG Tangguh utk Fujian ditandatangani, harga minyak sdg berada di posisi yg rendah, sehingga penentuan batas atas tidak mengantisipasi lonjakan harga minyak yg drastis dalam kurun 2 tahun terakhir (saat itu yg menjadi concern adalah penentuan batas bawah agar ketika harga minyak semakin rendah, harga LNG Tangguh tidak ikut jatuh terlalu dalam).
Jadi utk masa itu, harga kontrak ini ga jelek lah, apalagi beberapa bulan sebelumnya Indonesia gagal mendapatkan market LNG ke Guangdong, sehingga ketika negosiasi utk Fujian harus mau turun. Kalau saat itu kontrak Fujian tidak dapat, pembangunan proyek Tangguh pasti akan di-delay, karena skema pendanaan proyek gas bertumpu kepada faktor kontrak penjualan gas, tidak seperti minyak.

Tanggapan 2 – roeddy setiawan

Dear millis,

Datang lagi kasus Tangguh ini, memang betul seperti posting pak Zaki harga gas dikaitkan dg harga minyak kalau tourn ya ikut turun kalau naik ya naik.

biasanya formulanya sederhana

harga gas (tiap saat) = A + Factor X Harga ICP

misal nya harga kontract A = USD 2

Factor = 0.12 harga ICP / indonesian crude price = USD 15

harga saat itu = 2 + 0.12 x 15

= 3.8 usd

nah kalau sekarang icp = 100

Mustinya harga tangguh = usd 14 sama seperti harga di north amerika , ini logika nya,,,, tapi kadang kadang logika di kita ini engak jalan, contoh nya jual bensin harus sama, di setiap tempat… kalau wilayah nya setemil seperti singapure okay aja tapi ini dr sabang sapai merauke ???????…. ngak diributkan.

Tanggapan 3 – Yuyus Uskara

Saya pikir pertanyaannya adalah,

Kenapa di klausul kontrak dengan fijian ngga disebutin kalo harga minyak naik, harga gas juga naik?

‘Jadi utk masa itu, harga kontrak ini ga jelek lah, apalagi beberapa bulan sebelumnya Indonesia gagal mendapatkan market LNG ke Guangdong, sehingga ketika negosiasi utk Fujian harus mau turun’.

Harga kontrak waktu itu emang ga di permasalahkan, tapi masalah flat rate-nya itu yang lagi digonjang ganjing didunia politik he…he…

Anyway, saya ga ngerti logika ini:

‘Saat itu yg menjadi concern adalah penentuan batas bawah agar ketika harga minyak semakin rendah, harga LNG Tangguh tidak ikut jatuh terlalu dalam’.

Secara awam nih ya, saya selalu mikir dari tahun kapan gitu ya, kalo harga minyak pasti akan naik….

nah, kalo flat rate, apa ini kemudian jadi concern juga?

Siapa yang teken kontrak, siapa yang teken? he…he….

hope you live happily ever after ๐Ÿ™‚

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia ini dapat dilihat dalam file berikut: