Pada dasarnya pelajaran yang sudah didapat dari training dikelas WI standard Indonesia sudah bisa dibilang cukup untuk memulai pekerjaan dibidang konstruksi khususnya.
Yang terpenting adalah semangat untuk belajar lebih, terutama dalam pendalaman masalah code, aplikasi standard NDE dan sistem reporting.
Sedikit banyak mengerti masalah design engineering akan lebih membantu anda agar lebih berkuku dibidang ini.

Tanya – MahadiCapah@Eaton

Selamat pagi Pak Budhi dan rekan2 yang lain.

Saat ini saya sedang mendalami ilmu wel-welan di batam dan kalau gak ada aral melintang akan selesai pada akhir tahun ini. Selama training saya sudah mempelajari banyak hal yang berhubungan dengan marine and on/off-shore mulai dari basic welding, NDT, dll. Namun saya masih kurang jelas seperti apa job yang harus dilakukan seorang WI ketika suatu saat nanti saya di hire oleh satu company. Mohon pencerahan dari bapak2 yang punya pengalaman yang sama seperti saya(entry level), dulu waktu pertama kali masuk ke dunia marine and offshore ini.

Tanggapan 1 – hasanuddin

Di beberapa installer, WI ada yg dikombinasikan / didobel fungsikan sbg QC. Sementara installer lainnya memisahkan antara WI dan QC.

Ya kita anggap saja yg dobel fungsi sbg Welding QC Inspector / Spv.

Sebelum naik (istilah umum utk start kerja di kapal) anda mesti punya juga sertifikat sea survival, medical fitness test dan syukur2 juga basic fire fighting.

Lebih ideal lagi (saran saya) anda jg punya lisensi level 2 utk at least RT method. Bermodal sertifiat kompetensi WI saja membuat anda kurang kompetitif mas..

Tugasnya secara umum ada 3:

# pre-construction

– pastikan code/std (e.g AWS D1.1, API 1104, ASME B31.4/8 atau DNV OSF 101) serta related client spec plus AFC drawing tersedia utk reference di kapal

– pastikan approved ITP tersedia dan pelajari dengan seksama krn ini adalah kunci utk semua aktifitas konstruksi

– verifikasi kesesuaian WPS/PQR, welder certificate dan sertifikat kalibrasi alat2

– pastikan NDT procedure, numbering system, dll related QC + contruction procedure sdh kumplit dan berstatus AFC

– cek kondisi alat2, konsumabel las..pastikan semua oke.

– hati2 dengan weld numbering system, krn kalo gak disiapin dulu bisa loncat2 ntar..

– arrange construction kick off meeting

# during construction

– cek parameter2 pengelasan dan bikin welding checklist report-nya

– koordinasi dg NDT company, thirdparty dan client dalam menginterpretasi hasil lasan

– masukkan input hasil lasan dalam report/record

# post-construction

– siapin asbuilt / construction final dossier

Kalo anda sama sekali baru dibidang ini (apalagi masih fresh grad) sebaiknya jangan dulu nyoba di offshore. Terutama utk pipeline construction. Akan terkaget2 anda nanti dg rentetan tugasnya…dan frekwensinya yg bener2 tight serta tanpa kompromi!!! Lalai sedikit saja, bukan mustahil akan dikirim crew boat/chopper yang membawa WI pengganti… :-((

Sebaiknya belajar membiasakan diri dulu di onshore/fabrikator sehingga tidak kaget dengan ritme di offshore.

Demikian sekilas gambaran.

Tanggapan 2 – reza rahman

Rekan Mahadi….

Pada dasarnya pelajaran yang sudah didapat dari training dikelas WI standard Indonesia sudah bisa dibilang cukup untuk memulai pekerjaan dibidang konstruksi khususnya.
Yang terpenting adalah semangat untuk belajar lebih, terutama dalam pendalaman masalah code, aplikasi standard NDE dan sistem reporting.
Sedikit banyak mengerti masalah design engineering akan lebih membantu anda agar lebih berkuku dibidang ini.

Tanggapan 3 – Asep Suharto

Dear Mahadi,

Tugas utama seorang WI :

1. Before welding (sebelum dan sesudah fit up)

– familiar code dan spec

– check peralatan las

– identifikasi material dan kawat las

– review WPS dan PQR

– check joint preparasi

– welder qualifikasi

– welding proses

2. During welding

– check variable pengelasan

– check kualitas las2an

– check cleaning dan interpass temp.

– monitor proses NDT

3. After welding

– hasil akhir las2an (dimensi)

– monitor additional NDT

– prepare report inspeksi

Kalau bisa ditambah qualifikasi lain misal RT, UT atau MT/PT.

Tanggapan 4 – sonny hadi christianto

Absolutely right,

Hanya saja jika kita (QC) yang harus menyiapkan / membuat ITP atau procedure lainnya maka agar seorang QC dapat running well and faster perlu sedikit tambahan yaitu :

1. *Contract Document atau TOR (term of references)*, adalah mandatory QC
harus tahu karena didalamnya terdpt koridor2 yang harus dilakukan, misal
tentang NDE atau metode inspection lainnya

2. *Construction atau Fabrication drawing (yang IFC),* adalah juga batasan2
yang amat jelas tentang kontrol kualitas yang harus dilakukan tanpa tambahan pengetahuan tersebut , bagaimana bisa sebagai seorang QC membuat / menyusun ITP atau lainnya , lah wong gak tau apa yang mau dibangun (project itu) seperti apa?? (on / off shore construction,
Industrial , marine atau power plant ??)

Tanggapan 5 – Endri Prasetyo

Tambahan dari saya. Technical Specification juga tidak bisa diabaikan,
karena TS umumnya memuat spesifikasi secara detail suatu project. Tidak
semua spec dapat dituangkan dalam drawing.
Walaupun drawing nantinya mempunyai status ‘Approved Drawing’, tetapi
seringkali harus dicross check juga dengan Tech Spec-nya.
QC juga harus paham tentang proses fabrikasi. Ini menjadi modal juga dalam
membuat dokumen QC, misal ITP. Karena bagaimanapun ITP adalah adalah juga
memuat summary proses fabrikasinya.

Tanggapan 6 – hadi muttaqien

Dear rekan2 milis,

Saya membaca komentar2 mengenai tugas2 WI koq jadi kurang menerima sebagian sharing dari rekan2, menurut saya sharing-nya sudah melebar bukan sebagai WI lagi tapi sudah menjadi QA/QC Engineer, seperti pembuatan ITP, itu adalah tugas QA/QC Engineer, WI hanyalah sebagai pemakai ITP tersebut. QA/QC Engineer bisa sebagai WI tetapi WI belum tentu bisa sebagai QA/QC Engineer (sesuai basic pendidikannya dan kursus yang sudah dijalaninya).
WI tidak harus selalu bagian dari QC, tergantung kegiatan pekerjaan di tempatnya masing2. ITP sendiri terbagi ITP individual dan integrated ITP. WI kemungkinan hanya menangani/mengacu ke individual ITP, antara lain yang bisa berupa WPS/PQR. Karena ITP yang lain bisa saja di lakukan oleh Mechanical Engineer, Electrical Engineer atau engineer lainnya.
Dimilis ini pernah ada sharing mengenai WI tersebut, coba di buka2 lagi file nya sebagai tambahan informasi.

Tanggapan 7 – Ramzy SA@radiant-utama

Saya coba qoute dari AWS tugas WI sbb:

Welding Inspector Technical responsibilities

Tanggapan 8 – Endri Prasetyo

Betul Pak Hadi,

Komentar saya dibawah juga terlalu melebar.

Tanggapan 9 – sonny hadi christianto

Oke secara profesional pekerjaan, saya setuju sekali makanya saya tulis
absolutely right, WI dan QA/QC itu seperti apa
dan melihat subject di mail ini juga jelas,
hanya pertanyaannya adalah : Bukan kah kita dengan segudang abrek
certificate, sering ada pertanyaan anda QC? anda WI?? anda UT?? anda RT??
anda PT atau UT?? anda CWI?? anda Cswip?? ada absic First Aid?? ada Basic
Fire Fighting?? ada Basic Rescue??
BERARTI KAN ANDA YA .. JUGA QA/QC Engineer?? anda kan juga .. QHSE??
jadi hal-hal tersebut, baik itu Installer, Contractor, sampai Client atau
Owner akan selalu begitu : One for All and All for One
sehingga menurut saya tidak ada salahnya seorang WI mengetahui sedikit
pekerjaan QC atau QAQC dan seorang QAQC malah harus tahu lebih banyak
tentang WI atau wel.. welan tadi.