Kalau melihat keadaan sekarang yang notabennya kekurangan energy untuk Power, kadang jadi mikir kapan ya Indonesia punya pesaing PLN biar tidak ada pemadaman bergilir. Kalau ada investor dalam hal ini?

Tanya – Evta Yulianto

Hi all,

Klo melihat keadaan sekarang yang notabenya kekurangan energy tuk Power.
Kadang jadi Mikir Kapan Ya Indonesia Punya Pesaing PLN biar gak Ada pemadaman bergilir.Klo ada investor dalam hal ini??????

Tanggapan 1 – Erwin@wiratman

Wah bener juga tuh, usul yang bagus, ada yg mau? ๐Ÿ™‚

Kalau ada pesaingnya, pasti PLN ga bakal bertindak sembarangan, dapat dipikir2 sekarang ini kaya monopoli ya?

Dapat kita liat contohnya:

1. Kartu GSM HP: sekarang saking banyaknya malah tambah bersaing murah

2. Pertamina VS Shell VS Petronas : sayang pertamina sudah duluan banyak SPBUnya sehingga konsumen lebih memilih yang mudah, tapi dapat dilihat Pertamina sekarang memberikan pelayanan yang lebih baik dengan meluncurkan program pasti pas.

Bagaimana menurut pendapat bapak2 sekalian dalam hal ini? yang pastinya saya sangat setuju sekali jika ada yang berniat menjadi pesaing PLN, siapa tau PLN akan memberikan pelayanan yang lebih baik…

Tanggapan 2 – ‘Zaki’

Usul bagus. Utk itu harus bisa jawab 2 pertanyaan mudah berikut:

Siapa (penduduk) yg mau beli listrik mahal yg sesuai dg harga keekonomiannya?

Siapa (swasta) yg mau jual listrik murah dg harga di bawah biaya pengadaan?

Kalau listrik dijual dg harga keekonomiannya, lalu swasta masuk, nanti ribut lagi seperti dibukanya sektor hilir migas.

Tanggapan 3 รขโ‚ฌโ€œ ebahagia

Om Zaki memang oye hehehe

Kenapa juga mau jadi ‘PLN Perjuagan’ dengan business plan yang jelas2 merugi???

Coba hitung dulu biaya bikin listrik per satuan kwh.. terserah mau pakai minyak bumi, coal, gas, etc.. trus bandingkan dengan harga jual..

Rekan2 yang membangkitkan energi listrik sendiri pasti tau enaknya listrik murah ala PLN…so saatnya bersiap2 bayar listrik rumahan sekitar 12 cent/ kwh (barangkali)…

Simplenya…apa ada lembaga pembiayaan or bank yang mau bikin program BLT sendiri ????

Tanggapan 4 – Erwin@wiratman

Wah betul juga ya, terimakasih loh pak zaki atas jawabannya,

Jadi menurut pak zaki ga bakal mungkin terjadi ya???

Tanggapan 5 – Zaki

Di dunia ini mana ada sih yg ga mungkin? ๐Ÿ™‚

Sebetulnya mungkin saja yaitu dg cara harga listrik sesuai keekonomiannya. Tapi pada kondisi skrg ketika negara susah dan rakyat susah, sulit utk membuat keputusan yg bisa memuaskan semua pihak. Walaupun rumus penyediaan listrik yg murah itu mudah tapi pelaksanaannya sulit. Utk membuat listrik murah maka harus berdasarkan teknologi pembangkitan dan bahan bakar yg murah, tapi yg murah di suatu zaman belum tentu akan murah di zaman berikutnya (misal diesel di zaman orba murah banget, sampai2 gas aja kalah murah, tapi skrg diesel mahalnya ampun2an).

Utk saat ini, walaupun rumusannya akan mengatakan: ganti diesel dg batubara atau gas, kenyataannya tidak semudah itu. Pembangkit baru yg akan dibangun (gas atau batubara) boro2 utk menggantikan diesel, tapi utk memenuhi pertumbuhan demand, jadi penggantian diesel ini tidak bisa diterapkan dalam semalam. Misalnya beberapa waktu lalu ada berita PLN (di Tangerang kalo ga salah) masih belum membuka permintaan langganan baru utk listrik. Lah, di Tangerang aja masih ada yg belum dapat listrik!

Tanggapan 6 – siasadi sastrodihardjo

Kelihatannya susah yah mau nyaingi PLN, terutama untuk penyaluran ke pelanggan harus ada jaringan tersendiri tidak campur dengan jaringan PLN.

Kalau telekom bisa disaingi oleh Esia (taripnya sama telkom) karena bisa lewat udara.
Seandainya listrik bisa disalurkan lewat udara (seperti tilpon) pasti bakalan murah dan saingan banyak yang muncul.

Tanggapan 7 – Sulistiyono

Bagaimana kalau daerah yang mempunyai sumberdaya yang dapat men-generate listrik membuat listriknya sendiri. Misal ada daerah yang punya air terjun, lalu membuat hydro electric, yang punya gas kecil2, membuat listrik yang digerakkan gas dsb.Di zaman Belanda dulu banyak hydro electric dikembangkan untuk pedesaan yang punya air terjun, lha sekarang banyak gas2 ‘dangkal’ yang KPS nggak meliriknya , kan dapat untuk bahan bakar untuk turbin serta masih banyak lagi..Sepertinya kita ini tidak mau ngopeni yang kecil2.

Tanggapan 8 – vimala sariputera

Di Kalimantan timur sudah ada pembangkit listrik swasta tenaga batu bara yg baru diresmikan SBY 2 minggu lalu di Tanjung Batu sebelum pembukaan PON. Perusahaan tersebut patungan antara Jawa pos group dengan pemprov kaltim. Tapi dia menjual listriknya ke PLN dan PLN yg mendistribusikan. Nggak tahu sekarang sudah deal atau belum harganya dengan PLN.

Tanggapan 9 – Nurakhit

Memang untuk menyalurkan listrik perlu jaringan infrastuktur yang mahal untuk menyalurkan.

Dan sebetulnya kan bisa di alihkan dengan adanya perusahaan yang mau menyewakan teknologi.

Solar sell nya dengan pembayaran per KWh di tiap rumah2 penduduk ataupun menyewakan kincir angin (wind) yang bersifat micro untuk koperasi di pedesaan kemudian bangun infra yang melingkupi suatu kelurahan atau kecamatan.

Tapi semua konsep kerakyatan itu perlu cash flow yang ngak murah.

Tanggapan 10 – rahmat ardiansyah

Selamat Pagi,

Pertanyaan saya, seandainya saya mampu membangun pembangkit yang lebih murah dari PLN apakah saya boleh mendirikan jaringan ke penduduk langsung tanpa memakai jaringan PLN ?. Hanya dengan cara itu saya bisa untung dan saya dapat memastikan produk saya akan sampai ke pelanggan saya dengan baik. Ok, saya paham kalau tenaga listrik termasuk komoditi strategis, makanya dikelola oleh negara. Tetapi di era yang dimana kekuasaan negara semakin tak jelas begini maka bolehlah swasta diberi kesempatan. Persoalan sekarang adalah bukan lagi murah atau mahal, ketersediaan komoditi itu yang paling utama. Belum lagi persoalan pelayanan di lapangan yang compang-camping. Bagi sebagian kalangan, murah atau mahal bukanlah persoalan berapa perak kita keluarkan ke PLN. Anda beli murah tetapi tidak manfaat sama dengan mahal, sebaliknya anda beli mahal tetapi manfaat adalah setimpal. Coba lihat KWh meter anda di rumah, pernahkah dikalibrasi?, berapa Rpm kah untuk 1 Kwh? Di rumah saya meteran tersebut sudah 18 tahun tidak diganti. Rata-rata 4 jam x 2 di Medan listrik off, kenapa jumlah meter terpakai tetap tidak jauh beda? Bagaiman PLN mengakali agar KWh tetap sama, walaupun hour berkurang hampir 20 s/d 25 %?. Apakah relevan kalau kita bayar biaya abonemen selalu sama walaupun listrik mati?.

Kantor saya hanya berjarak 100 meter dari kantor PLN wilayah 1. Tidak tercermin dari penampilan karyawan PLN ini kalau perusahaan ini lagi mpot-mpotan. Tetap berhebring ria seperti masa-masa 90 an.
Akhir kalam, kami di Medan sudah menderita dan bergelap gulita sejak 4 tahun lalu, alhamdulillah rata-rata UAN di Medan lebih tingga dari tahun lalu walaupun belajar pakai lampu teplok, artinya kami orang Medan memang sangat tangguh dan pekerja keras seperti ucapan SBY tadi malam di Hotel Angkasa di depan para tokoh masyarakat Medan. Sekarang mulailah Pulau Jawa……tahankanlah saudara-saudaraku……kami sudah dahulu.

Tanggapan 11 – Ahfas, Amir

Sekitar 5 tahun lalu, pernah ada kuliah tamu di kampus saya, pematerinya kebetulan dari PLN (Jakarta? maap saya lupa) beliau bercerita banyak tentang kondisi kelistrikan di Indonesia singkat ceritanya apa yang sekarang jadi bahasan kita sekarang sudah disadari betul oleh PLN sejak beberapa tahun yang lalu, dan untuk meningkatkan kualitas pelayanan pada konsumen, PLN ‘menginginkan’ kelak PLN hanya bertanggungjawab atas Penyaluran/Transmisi Daya saja, sedangkan untuk pembangkitan dan distribusi alangkah baiknya jika bisa dipegang oleh swasta.

Cuman sebagaimana kata Mas Zaki, ga gampang…. he3…

Tetapi, setidak-tidaknya langkah-langkah agar sektor pembangkitan bukan hanya menjadi monopoli PLN telah dimulai. PLN telah menyerahkan semua unit pembangkitnya kepada Indonesia Power dan Pembangkitan Jawa Bali (2 anak perusahaan PLN), tentunya dengan pengecualian unit-unit PLTD yang sangat banyak bertebaran di daerah timur Indonesia.
Kalau dulu yang saya tahu hanya ada beberapa IPP (Independen Power Producer) yang menjual listriknya ke PLN, misalnya : Paiton 5-6 (Jawa Power) dan Paiton 7-8 (IPMOMI) di Jawa Timur, sekarang sudah bertambah beberapa lagi, misalnya PLTU 600MW di Cilacap.

Sedangkan untuk sektor distribusi, bagaimana pengalihannya, PLN sendiri (waktu itu) belum mempunyai scheme yang jelas.
Salah satu kesulitannya adalah masalah jaringan dan area. Apakah akan ada satu operator/distributor di tiap daerah tertentu ataukah akan ada lebih dari satu operator/distributor di suatu area sehingga memungkinkan timbulnya persaingan kualitas pelayanan pada pelanggan?
Jika ada lebih dari satu distributor maka pelanggan akan diuntungkan, pelanggan tentunya akan memilih distributor yang memiliki service terbaik. Tetapi kendalanya adalah, berhubung yang didistribusikan adalah listrik, dan sampai sekarang listrik dalam daya besar belum dapat dikirimkan ke pelanggan secara wireless maupun dengan truk tangki maka jumlah distributor di suatu area akan sebanding dengan jaringan distribusi yang harus ada. Dan jika jaringan ini semuanya menggunakan over head line maka akan banyak kabel 230V sampai 20kV yang malang melintang di atas kepala kita bagaikan jaring laba2, :-).

Let’s initiate the green and clean power generation!

Tanggapan 12 – Andriansyah

Ikut Nimbrung sedikit,

Kalau pakai jaringan sendiri masih memungkinkan untuk dapat menyaingi PLN, Misalnya dapat dimulai dengan Kawasan Industri, Kawasan Perumahan Elit, Dll.

Yang intinya penyaluran kepada sebuah area yang ter-cluster.
Tetapi kendalanya mungkin harga yang ditawarkan kepada end user nantinya berapa?

Kalau saya masih berpikir, biaya berapapun nggak masalah asalkan wajar dan bisa terjelaskan (transparan).

Dan supply listriknya tidak byaarrr-pett (mati hidup, hidup mati hehehe…)

Ada lagi Solusi yang lain yaitu bisa saja dengan mengadakan ‘value added service’,

atau kalau buat seorang karyawan bilang bilang ‘Employee Benefit’

Kalau tidak salah, tahun 2000 atau 2001 PLN sendiri pernah menguji coba Value Added Service ini.

PLN bekerja sama dengan salah satu provider Internet besar di jakarta mengadakan jaringan Internet Via kabel Listrik Existing.

Mungkin ada teman-teman yang pernah dengar ini?

Dengan bantuan sebuah Modem Listrik maka pelanggan dapat menggunakan access internet.

Tetapi menurut kabar hal ini terkendala karena biaya pembuatan servernya, dan yang pasti safety nya.

Tanggapan 13 – Apriadi

Mungkin ada rekans dari Krakatau Daya Listrik (KDL) yg bisa ikut sharing mengenai masalah ini.