Suka ngga’ suka, design juga perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan u/ bikin baru atau konversi karena design dari suatu floating unit akan berperan dalam menentukan kapabilitas dan reliability dari floating unit tsb. Malah bukan hanya dari sisi type dan fungsinya saja. Tapi walaupun tipe nya yg akan dikonversi itu sama, perlu juga dipertimbangkan aspek lain, seperti kemampuan station keeping menurut rule yg berlaku, dsb.
Misalnya semi-submersible deep water drilling unit yang designnya sebenarnya ‘hanya’ diperuntukkan untuk comply dengan Dynamic Positioning System class 2 notation.

Tanggapan 1 – hasanuddin

All,

Untuk diskusi ‘pemanasan’ menjelang seminar floating unit yang rencananya akan diadakan oleh KMI bulan Desember nanti….dan kebetulan masih hangat didiskusikan di milis tentang floating unit-nya MCL.

Berikut adalah beberapa concern yg menurut saya sering menjadi key driver dalam pemilihan opsi new built or converted dalam pengadaan suatu floating unit:

– project budget

– capex/opex decision

– required delivery time

– project lifetime (duration)

– availability of (suitable) tanker hull

– availability of shipyard

Khusus utk point terakhir..rasanya galangan lokal kita mesti harus segera ‘dibangunkan dari tidurnya’ supaya siap utk menjadi tuan rumah dinegeri sendiri. Payung hukum UU no 17 th 2008 tentang pelayaran dan ketentuan asas cabotage sudah memberi jalan yang teramat sangat lapang… Kalau tidak bisa termanfaatkan dengan baik, wah….kebangeten pelaku bisnis galangan dinegeri kita ini.. :-((

Mungkin ada tambahan/comment dari rekan2 yang lain? Mari kita berdiskusi di forum ini.. Saya yakin result-nya akan sangat berguna dan mencerahkan buat rekan2 di BPMIGAS, KKKS, shipowner dan stakeholder lainnya yg terkait dg floating unit.

Tanggapan 2 – Yuyus Uskara

Great, Pak Hasanuddin, ini fokus sekali.

Untuk point terakhir pak Hasanuddin, saya pikir galangan lokal diluar zona kerjasama ekonomi ekslusif seperti batam dan sekitarnya, saya pikir akan sulit bersaing –saya belom tahu apa masih berlaku atau tidak–

Misal aja galangan batam –rata2 punya singapore– bisa mendapat diskon barang produksi sekitar 20% apa sanggup galangan diluar zona ini bersaing dengan selisih modal awal 20%?

Kalau key driver buat pemilihan konversi atau newbuilt, emang itulah keydriver yang paling signifikan kenapa owner bikin baru atau konversi.

–pemanasan, up..up…—

Tanggapan 3 – hasanuddin

Setahu saya masih berlaku previlage tsb… Sempet diprotes tuh beberapa wkt yg lalu oleh fabricator / shipyard non-batam yg dimotori oleh PT Adiguna Shipbuilding.

Keunggulan batam dan sktrnya tidak cuma di selisih modal awal saja..tapi mrk juga dekat dg akses trading singapore dimana nyari produk / services bisa sangat mudah kalo tahu jalurnya.. So, delivery time cukup terbantu pastinya.

Masak niy kita ikhlas aja cuma bisa bikin kapal roro aja? Ini kesempatan udah dibuka lho..ayo dimanfaatkan. Jangan bisanya cuma teriak (misalnya) UU ini produk asing, pesanan si XYZ, dsb..hehehe.

Maap, kadang2 posting yg provokatif dan ngawur (yang saya amati di milis ini) justru suka memancing para pakarnya utk turun gunung… Tul gak ya?? Hehehe.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia pembahasan bulan September 2008 dapat dilihat dalam file berikut: