Alat maupun operator perlu juga disertifikasi oleh Ditjen Migas. Referensi regulasinya adalah SK Dirjen Migas no 84K thn 1998. Sertifikasi Depnaker (saja), tidak bisa di accept di oil & gas. Karena daily rate crane/operator-nya juga beda jika di compare.

Tanya – Edwin Apriantoro

Milis yang budiman, kami ingin pencerahan mengenai sertifikasi Alat maupun
operator. Apakah perlu disertifikasi Migas, sedangkan kita sdh mempunyai
sertifikat dari Depnakertrans.

Misalnya :

Pesawat jenis angkat Crane, operatornya sdh mempunyai sertifikat dari
Depnakertrans. Apa perlu disertifikasi Migas. Apabila dia bekerja di Lap.
Minyak.

Terima kasih atas pencerahanya.

Tanggapan 1 – Hanifa Gunawan

Pak Edwin,

Wah ini selalu saja jadi masalah, banyak sektor yang tidak satu pintu. Sama seperti halnya poliklinik perusahaan migas: Ijin praktik dokter dari DEPKES, ada aturan DEPNAKER, ada aturan BP MIGAS. Nah bagaimana melalui perjuangan dan kontribusi dari KMI ini dapat mengatasi permasalahan redundancy birokrasi di Indonesia? Semoga bisa terwujud ‘ONE STOP SERVICE/PERMIT’ seperti halnya birokrasi perijinan di daerah kabupaten Sragen pasca OTODA.

Tanggapan 2 – hasanuddin_inspector

Pak Edwin,

Ya pak, kudu di sertifikasi juga oleh Ditjen Migas. Referensi regulasinya adalah SK Dirjen Migas no 84K thn 1998. Sertifikasi Depnaker (saja), mohon maaf..kagak bisa diaksep tuh di oil & gas. Kan daily rate crane/operator-nya juga beda pak jika di compare…..??? Wkwkwkw

Mengacu ke dokumen RPP keteknikan MIGAS, rasanya nanti kalo sudah diaplikasikan ketentuan SNI wajib, MUNGKIN tidak akan ada lagi dobel sertifikasi (CMIIW…soalnya RPP ini kan belum diundangkan, jadi bisa aja saya salah interpretasi).

SNI tentang kompetensi tenaga teknik khusus operator pesawat angkat/angkut dan scaffolder adalah salah satu SNI yg akan diwajibkan. Demikian juga SNI tentang konstruksi, operasi dan inspeksi alat angkat/angkut.

We’ll see later….masih dobel atau nggak ya??

Tanggapan 3 – Edwin Apriantoro

Terima Kasih pak, atas pencerahanya. Saya memang sependapat dengan pendapat
bapak mengenai hal tsb.
Kesimpulanya, karena kita bermain di Migas, kita juga harus punya sertifikat
migas. Yang sdh barang tentu si empunya
mempunyai skill khusus atau uji kelayakan khusus mengenai hal tsb, baik itu
berupa barang ( alat ) atau keahlianya ( operator ), sehingga diperlukan
sertifikasi atau semacam lisence untuk menangani hal – hal
yang sifatnya spesific atau khusus.

Terima kasih pak Hasanudin. Ada lagi yang saya mau urun rembuk di sini
mengenai SOP, kreteria, spesifikasi apa yang harus dipenuhi
oleh seorang piping construction, installation, ataupun welder untuk membuat
installasi pemipaan ( gas ) di bawah air laut (offshore ). Yang jelas
menurut saya yang perlu diperhatikan ;

1. Sertifikasi weldernya.

2. Sertifikasi diving.

3. Equipment supportnya.

Mungkin bapak, punya specifiknya lainya..boleh disharing pak. Sekali lagi terima kasih.

Tanggapan 4 – hasanuddin_inspector

1. Sertifikat welder (endorsed by MIGAS) is mandatory requirement.

2. Sertifikasi diving tergantung case by case. Beberapa KKKS mempersyaratkan bahwa diving hanya boleh dilaksanakan oleh diving company dan diving operator/technician yg bersertifikasi IMCA (international marine contractors association). Tapi konsekwensinya ya KKKS tersebut hanya mau bayar extra (bisa triplet selisih harganya lho..). Dan lagi, saat2 full book proyek kayak gini, mereka2 ini suka ikut2an nentuin installation window segala…hiks :-((

3. Equipment support? Saya kurang paham yg anda maksudkan. Laying barge gitu?