Kita harus membedakan antara prediksi: ‘supply vs. demand’ (baik minyak maupun total energi) dengan prediksi: harga minyak. Umumnya yang dilakukan institusi besar: IEA, DOE, OPEC dan lain lain, adalah mem forecast supply demand, walaupun tentu dari masing masing skenario tersebut ada asumsi harga minyaknya (low -high, pesimis – optimis, etc). Kalau kita rajin membandingkan hasil ‘outlook’ dari institusi tsb, outlook beberapa tahun terakhir, hasilnya selalu beda beda & ini memcerminkan ‘interest’ dari masing masing institusi. Ketika harga minyak tinggi, IEA cenderung mem forecast ‘oil supply’ lebih kecil atau ‘demand oil’ lebih besar dari OPEC, karena IEA sebagai think tank sekumpulan negara konsumen besar (OECD) punya kepentingan bahwa terjadi ‘oil shortage’ dan mem pressure OPEC untuk menggelontorkan minyak. Sementara OPEC lebih senang melempar isu bahwa kenaikan itu lebih karena peran spekulan ketimbang fundamental supply demand.

Tanya – BKC1037

Dear Maillister

Mohon bantuannya.

Jika kita ingin melakukan konversi bahan bakar dari minyak ke NG atau
batubara, adakah yang bisa memberi saran, bagaimana melakukan prediksi
perkembangan harga ketiga jenis bahan bakar tersebut untuk jangka panjang
(sampai 10 tahun ke depan).

Adakah sumber di intrnet yang menyediakan analisa predikisi tersebut?
Saya sudah coba cari2 tapi tidak pernah menemukannya. Yang ada hanya data
history perkembangan harga dari beberapa puluh tahun lalu sampai sekarang.

Terimakasih atas bantuannya.

Tanggapan 1 – Rovicky Dwi Putrohari

Aku pernah mendongengkan soal prediksi harga migas disini :
Is the oil BOOM over ? (2) – Do we need a prediction ?
Dongengan ini aku tulis dua tahun lalu. Yang lutju adalah prediksi
harga minyak selalu saja salah … yang terjadi menurutku bukan
prediksi tetapi ‘harapan’ atau mungkin manifestasi ketakutan. Hal ini
karena prediksi selalu jauh dari kenyataan. Keanehannya harga selalu
di’prediksi’kan naik.

Tanggapan 2 – BKC1037

Dear Pak RDP

Terimakasih atas masukannya.

Walaupun menurut ulasan Bapak, bahwa yang Ahlinya saja (DOE USA)
prediksinya tidak pernah tepat, apalagi saya yang awam.

Dari websitenya DOE ternyata memang cukup lengkap forecast berbagai sumber
energy.
Salah satu file yang saya unduh adalah International Energy Outlook 2008.
Barangkali ada yang perlu silakan download di sini:

http://www.eia.doe.gov/oiaf/ieo/index.html

Tanggapan 3 – Rovicky Dwi Putrohari

Pak Dadang yth.

Memang banyak yang memberikan prediksi. Yang ada di IEA itu prediksi
‘kebutuhan energi’ dimasa mendatang dalam berbagai skenario. Termasuk
didalamnya tentunya minyak bumi. Kalau ga salah mereka mempredisikan
kebutuhan energi ini berdasarkan ‘target-target’ yang ditetapkan oleh
negara-negara yg masuk dalam evaluasinya. Masing-masing negara akan
mentargetkan pertumbuhan tentusaja juga dibarengi kebutuhan energi
yang diperlukan untuk memenuhi pertumbuhannya.

Dan yang lebih menariknya memang saat ini lebih banyak prediksi
‘kebutuhan’nya ketimbang prediksi ‘harga’. Harga bisa sangat kompleks
dan lebih banyak faktor yang bersifat unpredictable. Dari kebutuhan
ini bisa saja nantinya dicocokkan dengan supply yang akan ‘menelorkan’
harga-harga. Seringkali memang prediksi harga-harga ini fantastis !

In reality … sepertinya banyak ‘coupling de-coupling’ proccess antar
variable-variable ini yang secara matematik tidak mudah dirumuskan.

Tanggapan 4 – Ivan Bintara

Saya kira Pak Rovicky benar, kita harus membedakan antara prediksi: ‘supply vs. demand’ (baik minyak maupun total energi) dengan prediksi: harga minyak.

Umumnya yang dilakukan institusi besar: IEA, DOE, OPEC dan lain lain, adalah mem forecast supply demand, walaupun tentu dari masing masing skenario tersebut ada asumsi harga minyaknya (low -high, pesimis – optimis, etc). Kalau kita rajin membandingkan hasil ‘outlook’ dari institusi tsb, outlook beberapa tahun terakhir, hasilnya selalu beda beda & ini memcerminkan ‘interest’ dari masing masing institusi. Ketika harga minyak tinggi, IEA cenderung mem forecast ‘oil supply’ lebih kecil atau ‘demand oil’ lebih besar dari OPEC, karena IEA sebagai think tank sekumpulan negara konsumen besar (OECD) punya kepentingan bahwa terjadi ‘oil shortage’ dan mem pressure OPEC untuk menggelontorkan minyak. Sementara OPEC lebih senang melempar isu bahwa kenaikan itu lebih karena peran spekulan ketimbang fundamental supply demand.

Kalau sekedar referensi bolehlah dilihat lihat forecast harga minyak dari beberapa konsultan. Akurat atau enggak, wallahulam, at the end, kita akan bertanya, untuk apa sich akurat, toh tiap tahun (atau tiap kuartal atau bulan, tergantung perkembangan pasar) mereka juga akan merevisi forecast-nya.

Awal tahun 2006, Analyst Goldman Sachs sukses meramal bahwa harga minyak akan melejit menjadi 100 $/bbl tahun depan (2007). Banyak pujian mengalir, ketika harga minyak sempat 150 $/bbl, mereka bilang akan naik lagi jadi 200 $/bbl. Ketika sekarang mulai turun, kemaren mereka mulai merevisi ke 60 – 80 $/bbl. Itulah enaknya analis, kapan saja bisa bikin revisi tanpa ada financial consequences, beda sama kita yang kerja di perusahaan, salah asumsi, boleh saja revisi, tapi ada efek finansial tentunya!

Tanggapan 5 – BKC1037

Terimakasih Pak Ivan dan Pak RDP atas ulasannya.
Sejak semula memang saya sudah menduga sulitnya mempredikis harga BBM ke
depan, apalagi sampai 5-10 tahun ke depan.
Dan, membaca ulasannya Pak RDP dan Pak Ivan, semakin yakin lagi tentang
sulitnya mempercayai nilai2 forecast tersebut.
Jangankan untuk 5-10 tahun kedepan, untuk anggaran tahunan saja, bisa
sangat jauh meleset, khususnya untuk contoh tahun 2008 ini.
Dan tentu efek financialnya tidak sedikit.

Seperti saya sampaikan di pertanyaan semula, alasan kebutuhan prediksi
perkembangan harga 5-10 tahun kedepan ini adalah untuk feseability study
untuk menentukan investasi dalam rangka konversi sumber energy dari BBM ke
sumber lain.
Artinya, tepat enggak tepat, bagaimanapun, toh tetap kita harus melakukan
prediksi tersebut.
Sayangnya, kalau meleset, maka biaya yang diinvest bisa jadi nggak ada
gunanya.
(Sekedar perumpamaan: misalnya kita ganti pembangkit listrik dari diesel
ke gas, tapi ternyata kedepannya harga gas juga mengejar harga minyak,
maka penghematan yang kita harapkan malah tidak tercapai, masih mending
kalau sudah sempat balik modal dulu [payback periodnya sudah tercapai,
ketika harga gas mengejar harga minyak]).

Seperti Pak Ivan sampaikan juga, outlook dari berbagai institusi,
‘hasilnya selalu beda beda & ini memcerminkan ‘interest’ dari masing
masing institusi’.
Kalau begitu, untuk kita2 yang jadi konsumen BBM di industri di Indonesia,
sebaiknya mengacu ke ‘outlook-nya’ instusi mana?.
Kalau untuk anggaran tahunan, mungkin kita bisa mengacu ke asumsi2 di
RAPBN-nya pemerintah.
Tapi, untuk forecast jangka panjang, adakah sumber2 lokal (misalnya dari
pemerintah juga) yang mengeluarkan forecast harga bahan bakar BBM, gas,
batubara?

Atau, kalau melihat dari sisi lain, bahwa karena sangat sulit untuk
memprediksi harga bahan bakar jauh kedepan, maka kalau kita mau invest,
tentunya harus dipilih yang ‘payback period [PBP]-nya sesingkat mungkin’.
Pertanyaannya, berapa angka yang wajar untuk investasi di bidang konversi
energi seperti ini. Misalnya PBP xxx tahun, atau ROI xxx%, dll.

Tanggapan 6 – Ivan Bintara

Pak Dadang,

Sebaiknya kumpulkan saja sebanyak mungkin dari institusi yang mengeluarkan forecast harga minyak, selanjutnya bapak tinggal olah lagi saja. Disinilah seni-nya, karena yang bermain adalah: judgement, feeling, risk preference etc.

Apa yang dilakukan oil company kan begitu juga, bedanya mereka punya team sendiri di head office yang bertanggung jawab thd hal tersebut (supaya tiap orang tidak bikin forecast sendiri sendiri), dan umumnya ada macam macam forecast yang harus dipakai sesuai kebutuhan.

Pada saat harga minyak 100 – 140 $/bbl, saya kira oil company tidak ada yang menggunakan harga tersebut untuk perhitungan keekonomian proyek mereka, paling paling masih disekitar 40 – 80 $/bbl. Saya kira bapak perlu juga konservatif.

Bapak perlu buat berbagai skenario, paling tidak: worst case & most likely, kalau dengan asumsi forecast yang ‘worst case’ saja masih bagus, berarti project OK punya.

Harga minyak yang menurun juga harus diwaspadai, karena efeknya kedepan juga ‘berbahaya’, ibarat main yo-yo, semakin kenceng kita lempar kebawah, semakin kenceng dia akan mantul keatas.