A widely heralded view holds that nuclear power is experiencing a dramatic worldwide revival and vibrant growth, because it’s competitive, necessary, reliable, secure, and vital for fuel security and climate protection.
That’s all false. In fact, nuclear power is continuing its decades-long collapse in the global marketplace because it’s grossly uncompetitive, unneeded, and obsolete-so hopelessly uneconomic that one needn’t debate whether it’s clean and safe; it weakens electric reliability and national security; and it worsens climate change compared with devoting the same money and time to more effective options.

Pembahasan – soedardjo batan

Setebal 52 halaman, silahkan membaca di

http://www.rmi.org/images/PDFs/Energy/E08-01_AmbioNucIllusion.pdf

A widely heralded view holds that nuclear power is experiencing a dramatic worldwide revival and vibrant growth, because it’s competitive, necessary, reliable, secure, and vital for fuel security and climate protection.
That’s all false. In fact, nuclear power is continuing its decades-long collapse in the global marketplace because it’s grossly uncompetitive, unneeded, and obsolete-so hopelessly uneconomic that one needn’t debate whether it’s clean and safe; it weakens electric reliability and national security; and it worsens climate change compared with devoting the same money and time to more effective options.

This is not a new idea. As Keepin and Kats arrestingly put it in 1988,222 based on their reasonable and now-conservative estimate that efficiency would save ~7× as much carbon per dollar as nuclear power, ‘every $100 invested in nuclear power would effectively release an additional tonne of carbon into the atmosphere.’ Thus, counting the opportunity cost of nuclear power vs. a reasonable modern efficiency cost of 1¢/kWh, ‘the effective carbon intensity of nuclear power is nearly eight times greater than the direct carbon intensity of coal-fired power.’ That is, buying nuclear instead of coal-fired electricity saves carbon if those are the only two choices, but they’re not: efficiency is so much cheaper than either that buying 1¢/kWh efficiency instead of nuclear power saves about eight times more carbon than would have been released if the same money had bought new coal-fired electricity! Today, their 20-year-old estimate looks sounder than ever. These facts and findings raise a disquieting issue. Clearly the nuclear industry’s sales pitch is false. The case for nuclear power to protect the climate and enhance security is purely rhetorical and cannot withstand analytic scrutiny. The supposed nuclear revival is a carefully manufactured illusion that seeks to become a self-fulfilling prophecy, yet it cannot actually occur in a market economy, as many energy-industry leaders privately acknowledge. But then thought- ful citizens must ask: how can a credulous press continue to accept, report as fact, and promulgate a vision so divergent from observed market realities?223
To be sure, some leading newspapers have described nuclear regulatory and construction complications, and a few have mentioned that financing may present challenges. Yet the broader story-an industry that is failing and unfinanceable despite wildly escalating subsidies, has been massively outpaced by competitors it doesn’t even recognize, and is unable even in principle to deliver its claimed climate and security benefits-remains virtually untold.
Perhaps this article can stimulate journalists to sharpen their critical faculties, legislators to study evidence, and citizens to demand choices based on demonstrable facts. Sooner or later, truth will out. Sooner will do less harm to our climate, economy, and security.

Tanggapan 1 – Chairul Hudaya

Pak Dardjo,

Dijelaskan dengan bahasa urang awak dong pak artikelnya, jangan linknya terus yang diberikan, supaya kita semua mengerti 🙂
Dari artikel yang nampaknya masih draft ini, saya ingin menyoroti 2 point :
Terkait karbon yang diemisikan, mari kita bandingkan dengan hasil riset lainnya supaya kita banyak referensi. Misalnya hasil riset yang dimuat dalam laporan Oxford Research Group tahun 2007 tentang berapa gCO2/kWh yang diemisikan untuk beberapa sumber pembangkitan energi : Coal (755), Natural Gas (385), Biomass (29-62), Wind (11-37), Nuclear (by OECD and IAEA : 11-22), Nuclear (by ISA, University of Sydney : 10-130) dan Nuclear ( by Extrern-E UK : 11.5). Dari data data itu jelas beda sekali dengan apa yang mereka katakan. Lalu seberapa concern draft laporan tersebut jika dibadingkan dengan laporan riset para pakar yang berkecimpung dibidangnya?
Kalau pendapat saya justru sekarang nuklir akan banyak dipertimbangkan oleh banyak negara sebagai sebuah opsi untuk mensuplai energy mix negaranya (nuclear renaissance). Tidak dimaksudkan untuk mengganti yang ada, tetapi sebagai diversifikasi energi. Negara-negara di Eropa sudah mulai kembali untuk menggunakan nuklir, bahkan saya menemukan ada deklarasi dari 56 anggota Parlemen Eropa yang untuk penggunaan energi nuklir sebagai energy yang low-carbon. Bisa dilihat disini

:

http://www.foratom.org/dmdocuments/Declaration%20(European%20Voice%20).pdf.

Tanggapan 2 – Chairul Hudaya

Yth. Pak Chairul,

Justru jika saya buat dengan bahasa orang awak malahan banyak yang tidak mengerti dengan terjemahan saya yang pas-pasan atau malahan tambah tidak mudeng. Bukankah di milis ini banyak sekali Bapak/Ibu Saudara yang bekerja di Luar Negeri, sehingga akan cepat memahami dengan bahsa aslinya.

Memang hal tersebut masih draft, namun agar kita tahu, masih banyak ilusi-ilusi PLTN atau nuklir hingga saat ini, yang perlu dibuktikan kebenaran dari kecanggihan PLTN. Sebagai contoh, kejadian kerusakan teras, yang terjadi di Three Mile Island, Chernobyle dan satu reaktor lagi, membuktikan bahwa teori Core Damage Frequency (CDF) tidak terbukti dengan tepat. Masih banyak laporan-laporan yang tidak dibuka secara jelas ke masyarakat.

Diperkirakan tahun 2015 Uranium akan mendekati habis, walau orang akan dapat menggunakan plutonium, dan plutonium akan mudah dibuat sebagai bahan perang nuklir, selain untuk reaktor pembiak cepat, yang kinerjanya saat sekarang belum memuaskan. Joyo dan Monjupun di Jepang masih remang-remang, sedang Super Phenix di perancis sudah jelas didekomisioning.

Kalau pak Chairul memperhatikan tingkah polah orang Australia yang dikabarkan adalah produsen uranium nomor wahid di dunia, baru di susul Canada, dan Afrika, tetapi mengapa orang Australia nggak punya PLTN? Karena mereka percaya, uraniumlah yang membuat pemanasan global, malahan banyak sekali buruh tambang Uranium di Australia jika tidak terpepet mencari uang, menginginkan uraniumnya biarlah tinggal di bumi, daripada membuat polusi bumi, serta mereka tidak rela uaraniumnya dijual kenegara-negara lain, termasuk India, karena takut nantinya uranium tersebut dibuat untuk senjata perang nuklir.

Mungkin data yang berkaitan dengan ekonomi akan banyak berguna bagi Bu Ami. Silahkan dipergunakan. Karena memang tujuan saya memposting, agar Bapak/Ibu sekalian mempelajari yang menjadi daya tariknya, dari persoalan PLTN yang kompleks tersebut.

Saya sendiri mempunyai spesialisasi di bidang NDT, manufacture safety and quality. Jadi terus terang tidak mampu membahas semuanya. Sekaligus yang saya posting, mumpung masih dalam kondisi draft perlu dikoreksi. Sehingga tanggapan dari pak Chairul adalah tepat, untuk mengajukan second opinion, dan selanjutnya tergantung kita untuk mempercayai yang mana, untuk membuktikan di kemudian hari, mana yang benar.

Jadi posting saya hanya untuk bahan brain storming saja, untuk warming up, agar kita tidak buta sekali dengan informasi hanya dari satu belahan informasi, tapi ada informasi penyeimbang lainnya. Masalah informasi tersebut benar atau tidak, jika diulas berdasarkan berbagai referensi yang banyak, maka patut kita pertimbangkan, agar kita tidak dicekoki ilmu yang berat sebelah.

Yang paling utama, hal tersebut adalah untuk pak MENRISTEK. Bukankah komitmen pak Menristek adalah tidak akan membuat pernyataan jika informasinya tidak lengkap bukhan?

Ilusi tersebut, terkadang mengilusi saya sendiri, kapan ada teroris betul-betul menyerang instalasi PLTN atau Pusat Nuklir atau Reaktor Riset Indonesia, sehingga betul-betul PLTN atau Pusat Nuklir Indonesia terbukti andal terhadap serangan teroris. Lalu kapan jika ada pesawat Boeing menabrak bangunan reaktor kita di Indonesia yang bentuknya dari luar KOTAK. Apa betul bangunan tersebut tahan terhadap tabrakan pesawat tersebut? Semuanya khan baru masih tahap teori hingga saat ini, dan belum terbukti atau belum dilakukan secara ekperimental, alias masih perhitungan diatas kertas, sesenang kemauan atau kecapan (kecap nomor wahid) promosi penjual atau pejabat yang sedang menguasai reaktor atau PLTN tersebut.

Sekian dulu pak Chairul sebagai pemanasan diskusi kita, maaf tanpa koreksi ketik, karena saya masih berdiskusi di milis lain.

Pembahasan selengkapnya dari rangkuman Diskusi Milis Migas Indonesia ini dapat dilihat dalam file berikut: