Lebih dari 100 pakar geologi dari berbagai universitas ternama di dunia, termasuk Indonesia, mengadakan pertemuan dua hari mulai kemarin di London untuk mendiskusikan fenomena semburan lumpur di Sidoarjo, Jawa Timur. Hal tersebut disampaikan pakar dari Universitas Durham, Dr Richard Davies, dalam jumpa pers di London, Senin (20/10), terkait dengan konferensi internasional para ahli kebumian internasional dengan tema *Subsurface sediment remobilization and fluid flow in sedimentary basins*.

sugiarto.env

Dear Bpk/Ibu, FYI di harian Media Indonesia hari ini di halaman10, ada berita dg judul 100 pakar diskusikan lumpur lapindo bertempat di London. Sayangnya blm sempat discan.

Tanggapan 1 – hollyghozi

Source=http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=MzgyMzk=

Rabu, 22 Oktober 2008 00:01 WIB

100 Pakar Diskusikan Lumpur Lapindo

LEBIH dari 100 pakar geologi dari berbagai universitas ternama di dunia, termasuk Indonesia, mengadakan pertemuan dua hari mulai kemarin di London untuk mendiskusikan fenomena semburan lumpur di Sidoarjo, Jawa Timur. Hal tersebut disampaikan pakar dari Universitas Durham, Dr Richard Davies, dalam jumpa pers di London, Senin (20/10), terkait dengan konferensi internasional para ahli kebumian internasional dengan tema *Subsurface sediment remobilization and fluid flow in sedimentary basins*. Menurut salah satu peserta dari Indonesia, Sunaryo Suradi kepada *Antara*, Dr Davies yang berinisiatif menyelenggarakan jumpa pers itu mengatakan lumpur Sidoarjo akan dibahas secara profesional keteknikan dengan data-data hasil penelitian terkini. Sebanyak 40 pakar berkesempatan bicara dalam dua hari tersebut. Pada hari pertama, 22 pakar kebumian akan mempresentasikan makalah yang fokusnya mempertanyakan mengapa sedimentasi di cekungan bawah tanah menjelma reaktif dan menyembur.
Konferensi itu, yang disponsori perusahaan minyak BP, Chevron, ConocoPhilips, DONG Energy, Oilexco, Shell, dan StatoilHydro juga dihadiri Prof Dr Michael Manga dari Universitas California, Berkeley, Richard Swarbrick Geopressure Technology dan Dr Bambang Istadi, pakar geologi yang bekerja pada PT Energy Mega Persada sebagai pembicara. Profesor Svensen dari Universitas Oslo sebagai pembicara kunci dalam acara itu.
Sunaryo mengatakan semburan lumpur Sidoarjo sangat menarik perhatian pakar dunia dan hingga sekarang belum ada penjelasan tentang penyebab dan asal air, tekanan, volume, dan material lumpurnya. ‘Acara pertemuan pakar geologi dunia ini sangat menarik dan penting bagi masa depan Porong, Jawa Timur,’ katanya. Dalam konferensi pers itu, suasana sempat memanas dan saling pamer analisis. Dr Davies, misalnya, menyatakan bahwa temuannya menggunakan data asal Lapindo sendiri. Namun, pernyataannya itu langsung disanggah dan dipertanyakan oleh Dr
Sawolo, kepala *drilling* Sumur Banjar Panji (BJP I). ‘Data mana dan dari mana otorisasi untuk mendapat data itu, karena Lapindo merasa tidak pernah memberi data,’ bantahnya. Yuniwati Teryana, Wakil Presiden PR Lapindo Brantas Inc, juga mengatakan ia tidak pernah dimintai konfirmasi oleh Davies tentang data tersebut.*(N-1)*

Tanggapan 1 – Herry Putranto@cendrawasih

Wah akhirnya jadi juga diskusi tentang LUSI oleh para pakar yang kompeten di bidangnya. Mudah2an hasilnya bisa menjadi masukan bagi pemerintah RI untuk secepatnya menyelesaikan masalah ini agar tidak membebani saudara2 kita di sekitar Lokasi LUSI yang sudah lama merasakan penderitaan yang luar biasa ini.

Sayang ya penyelenggaraan diskusi LUSI ini nun jauhdi Eropa, mudah2an materi diskusi di London bisa kita peroleh melalui rekan2 kita yang hadir disana, sebagai pembelajaran bagi kita semua. Mudah2 an Mas Bambang Istadi membaca email ini.

Tanggapan 2 – Rawindra Sutarto

Wah wah wah … , semua pembicara Doktor yah.

Mungkin wartawannya silau melihat ratusan orang pinter buka suara.

Tapi di Amerika Selatan memang tidak aneh ‘orang sekolahan’ dipanggil Doktor atau Profesor.
Mungkin mas Sawolo dapet gelar Doktor saat masih bertualang di Ecuador.
Kalo Istadi pas-nya sih bergelar ‘Profesor Calculus’ yang masyhur dgn bandul mikrograviti-nya.

Kita doakan mereka dapat menyediakan solusi menutup LUSI yang paling ‘feasible’.
Amin.

Tanggapan 3 – Admin Migas

Ini hasil dari pertemuan tersebut. Adakah anggota yang bisa membantu membantu memberikan keterangan lebih lanjut dari berita di bawah ini, korelasi antara kesepakatan bahwa peristiwa ini adalah mul volcano dengan pernyataan bahwa semburan lumpur itu dipicu oleh kegiatan pengeboran sumur BJP I, dan lumpur bukan disebabkan oleh underground blowout. Kok korelasi dengan gempa bumi tidak disebutkan yah dalam konferensi ini.

Lumpur Lapindo Tidak Dapat Ditutup, Kata Geolog Internasional

Jakarta (ANTARA News) – Para geolog internasional sepakat bahwa semburan lumpur panas di Sidoarjo, Jawa Timur adalah “mud volcano” yang merupakan produk remobilisasi sedimen dan aliran fluida di wilayah cekungan bumi yang lemah, karena itu semburan itu tidak bisa ditutup.

Untuk itu, harus segera ada kerja sama dan saling berbagi data agar penyimpulan pemicu semburan lumpur itu menjadi benar, kata Dr. Christopher Jackson, geolog dari Imperial College London, seperti dikutip siaran pers Lapindo Brantas Inc di Jakarta, Rabu.

Kesepakatan itu muncul dalam konferensi bertema “Subsurface Sediment Remobilization And Fluid Flow in Sedimentary Basins” yang diselenggarakan The Geological Society di London, Inggris, Rabu.

Dalam siaran pers itu dikatakan, selama ini, beberapa geolog internasional seperti Richard Davies dari University of Durham, Inggris, Mark Tingay dari University of Adelaide, Australia, dan Michael Manga dari University of California, Berkeley, AS, menyimpulkan bahwa semburan lumpur itu dipicu oleh kegiatan pengeboran sumur Banjar Panji I (BJP I) milik Lapindo Brantas Inc.

Davies juga yakin bahwa lumpur itu adalah sebuah “mud volcano” yang merupakan hasil remobilisasi sedimentasi laut jutaan tahun lalu.

Dalam konferensi tersebut, geolog PT Energi Mega Persada, Bambang Istadi, yang menjadi pembicara asal Indonesia, menegaskan bahwa semburan lumpur itu bukan disebabkan oleh “underground blowout”.“Ini berdasarkan empat fakta yang ada pada data autentik yang dimiliki Lapindo,” kata Bambang.

Menurut Bambang, data rekaman tes temperatur dan sonan selama 50 hari terhadap sumur BJP I menunjukan hasil menolak fenomena “blowout”. Analisa suhu pada kedalaman 9000 kaki sumur adalah 140 derajat F, sedangkan suhu fluida di atas permukaan justru 200 derajat F. “Ini membuktikan bahwa sumur tidak terkoneksi dengan lumpur yang menyembur. Juga berdasarkan tes sonan tidak ada suara bising di dalam sumur,” jelas Bambang.

Fakta-fakta berikut yang diungkapkan Bambang adalah tidak ada luberan, gas, “steam” (uap air), ataupun lumpur yang keluar dari sumur BJP ketika dibuka. Kemudian, melalui proses “re-entry” diketahui bahwa mata bor tidak jatuh, walau semburan yang berjarak 200 meter dari sumut BJP I, itu sudah berlangsung satu setengah bulan.

“Bila terjadi underground blowout, pasti mata bor itu jatuh karena material lumpur yang keluar sudah jutaan ton,” ungkap Bambang seeprti dikutip siaran pers itu.

Fakta lain yang diungkap Bambang adalah tidak ditemukan “systhetic oil based drilling” dalam tes diberbagai titik survei semburan.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia pembahasan bulan Oktober 2008 ini dapat dilihat dalam file berikut: