Peralatan elektrik dibuat oleh pabriknya untuk spesifik frekuensi saja dan tidak bisa digunakan untuk frekuensi lain. Adapun pada peralatan elektrik tertentu, di buat untuk bisa bekerja di beberapa frekuensi seperti 50 Hz & 60 Hz dan ini biasanya pasti dicantumkan di name plate-nya, Mungkin dgn alasan mobilitas orang harus travelling lintas negara yg notabene berbeda frekuensi, di design lah batery charger laptop yang bs bekerja di dua frekuensi tsb.
Seperti batery charger pd laptop kalau tertulis 120 – 240 Volt dan 50 Hz/60 Hz, artinya bisa bekerja di voltase antara 120 sampai 240 volt dan 50 atau 60 Hz. diluar itu, ya mestinya tidak bisa.. Adapun kalau bisa, mungkin kita cuma ‘beruntung’… 🙂 dalam artian si pabrik men-mendesign nya sangat bagus :-).

>>Was:Bikin njenggirat kedua di hari ini –> STOP PRESS!! Hasil Seminar AAPG di Cape Town

Tanya – hadi muttaqien

Kebenaran juga akan selalu kalah bila keputusan berdasarkan nilai ekonomis atau kepentingan dagang, coba saja kita lihat dilingkungan kita sendiri kenapa ada keputusan memakai frekwensi listrik 50 Hz atau 60 Hz. malah ada negara yang memakai 50 Hz dan 60 Hz.
Atau istilah lainnya dipilih yang paling banyak maslahatnya dari pada mudharatnya, apa mungkin seperti itu?
Jangan2 kasus lumpur lapindo juga demikian?

Tanggapan 1 – Erwin (Jakarta)@WorleyParsons

Emang negara Kaya mana yg berani pakai 50 Hz & 60 Hz..berbarengan….luar biasa…emang beda dikit sich 50 ama 60…tapi Efek nya segunung.

Tanggapan 2 – Rawindra Sutarto

Ya negara kita yang kaya raya long jinawi lah.

Kalau saya ke drilling rig site, listriknya pasti 60 Hz.
Di rumah yang pake PLN, ya 50 Hz. Masak efeknya segunung ? Laptop sehat2 aja.

Tanggapan 3 – Kakang Keaton

Yup … mungkin untuk beberapa peralatan yang konvensional ini jadi masalah, tapi untuk yang baru2 kayanya no problemo. nah sekarang tinggal komparasi seberapa banyak yang konvensional dan yang baru.

Tanggapan 4 – Haryono, Suharyo

Setahu saya, Jepang juga punya frekuensi listrik yang berbeda antara bagian selatan dan utara. CMIIW.

Tanggapan 5 – Erwin (Jakarta)@WorleyParsons

He..he..he..Luar Biasa…Ada lap top yg bisa pakai 50 Hz & 60 Hz……saya pengen taut uh merek nya…..

Freeport juga pake 60 Hz..tapi PLN pake 50 Hz………..tapi beda Infrastructure…….he..he…jadi bukan laptop nya yg sama…he..he..he.

Tanggapan 6 – Teguh Santoso

Maksudnya mungkin battery chargernya mungkin.. sedangkan laptopnya sendiri yang dibutuhkan adalah tegangan searah (DC) (tidak ada Hz, sebab bukan tegangan AC). Rata-rata power supply untuk komputer bisa mengadopsi frequensi 50/60 hz..dengan tegangan 120-240 AC.

Tanggapan 7 – soedardjo batan

Ini jawaban orang teknik yang smart. Saya yach baru dengar kalau ada laptop menggunakan teganggan AC yang dapat menggunakan frekuensi 50 dan atau 60 Hz. Apa motor di dalamnya tidak jebol saat frekuensinya berbeda? Frekuensi apakah bukan fungsi kecepatan putaran per menit atau per detik dari suatu motor penggerak gigi-gigi, misal untuk DVD player di dalam suatu laptop? Apakah jika putarannya berubah gigi roda plastiknya tidak rompol? Beberapa laptop yang saya temui hanya menggunakan tegangan DC, bahkan tanpa tegangan AC pun (laptop tanpa charger dari Penyedia daya AC) yang frekuensinya 50 atau dan 60 HZ, laptop dapat dioperasikan. Mohon dikoreksi.

Tanggapan 8 – Admin Migas

Mas Erwin,

Apanya yang aneh ???, semua spesifikasi laptop saya (HP, Toshiba, Acer, Compac) semuanya bisa kok. Nothing special…. Ini spesifikasinya : 100-240 VAC, 50-60 Hz. Dirumah menggunakan 220VAC 50 Hz, di offshore 110 VAC 60 Hz, yah tinggal colok aja, nggak masalah di laptopnya.

Gini aja deh, di WorleyParsons pasti ada laptop kan… Minimal saya lihat expat Worley pada pakai laptop. Lihat adaptornya, kemudian laporan kembali ke milis, ada keanehan nggak.

Tanggapan 9 – Yose Ishak

Pak Budhi betul!

Gak ada yang aneh karena’semua’ laptop harusnya bisa bekerja di 50-60 Hz.
Mau merk Asus, Toshiba, Mac, IBM, Lenovo, HP, dll tidak ada masalah karena komponen penyearah dan perubahnya ada di Adaptor.

Lebih aman pakai stabilizer dan UPS (ini juga berfungsi sebagai emergency backup battery).

Soal kenapa ada 50 dan 60, itu lebih kearah ‘ego’ masing2 pihak kok.
Sama saja dengan penggunakan JIS, DIN, BS, ANSI ataupun ukuran metric vs fractional.

Yang harus ‘pintar’ adalah si Design Engineer yang kerja dari awal mempersiapkan agar tidak ada problem dikemudian hari. Harus banyak baca dan cari literatur gitu…

Pembahasan selengkapnya dapat dilihat dalam file berikut: