Kontaminan (polutan) pada pelumas & sistim pelumasan bertanggung jawab terhadap +80% gangguan, bahkan kerusakan susatu sistim pelumasan/mesin. Kontaminan dalam bentuk “insoluble” (polutan padat terlarut) seperti logam-logam, debu, pasir, plastik, dan karet. Partikel berukuran kecil, berukuran kurang dari 2 micron seperti resin/varnish, kumpulan polutan hasil proses oksidasi dengan perlahan tapi pasti menurunkan kualitas proses pelumasan dan unjuk kerja suatu sistim. Antara lain dengan merubah warna part menjadi lebih gelap, melapisi sistim penukar panas sehingga turun efisiensi-nya, menciptakan timbunan kerak, menyumbat jalur pelumasan dan sebagainya.

By : ebahagia

Kontaminan (polutan) pada pelumas & sistim pelumasan bertanggung jawab terhadap +80% gangguan, bahkan kerusakan susatu sistim pelumasan/mesin. Kontaminan dalam bentuk “insoluble” (polutan padat terlarut) seperti logam-logam, debu, pasir, plastik, dan karet. Partikel berukuran kecil, berukuran kurang dari 2 micron seperti resin/varnish, kumpulan polutan hasil proses oksidasi dengan perlahan tapi pasti menurunkan kualitas proses pelumasan dan unjuk kerja suatu sistim. Antara lain dengan merubah warna part menjadi lebih gelap, melapisi sistim penukar panas sehingga turun efisiensi-nya, menciptakan timbunan kerak, menyumbat jalur pelumasan dan sebagainya.

Secara umum polutan-polutan tersebut mempengaruhi kehandalan dan umur peralatan/mesin. Tetapi tidak perlu cemas, hamper 100% permasalahan & potensi permasalahn tersebut dapat di atasi dengan teknologi filtrasi plus penggunaan pelumas yang baik.

Polutan Padat (particles)

Mesin modern harus cepat, akurat, handal dan ekonomis di dalam bekerja. Pelumas harus mampu bekerja lebih keras sejalan kebutuhan pelumasan mesin yang kian presisi. Kebersihan pelumas dan sistim pelumasan mesin harus tetap terjaga bersih dari kotoran perusak yang bersumber dari dalam dan luar mesin.

Depth filtrations – teknologi filtrasi rapat bertekanan, sangat efektif dan hemat biaya dalam menghilangkan kotoran berukuran kecil. Riset membuktikan umur peralatan bertambah 6 kali, bahkan lebih dengan penggunaan teknologi filtrasi ini secara off-line.

Polutan air dalam bentuk bebas (free water)

Air adalah “pembunuh” utama sistim pelumasan dan mesin produksi. Polutan air pada tangki cukup sulit terukur dimana pengamatan melalui drain bottom valve hanya mampu sebatas indikasi visual. Air dapat teramati dengan mudah pada dasar sampel pelumas menggunakan botol bening (clear bottle). Analisa pelumas mampu mendeteksi kadar air dalam jumlah kecil. Air menyebakan pelumas kehilangan daya lumas, lapisan film yang lemah, tekanan kerja turun, dan daya angkat (hydrostatic) lemah pada pelumasan bantan poros. Sebagai katalis utama proses oksidasi, air mempersingkat masa kerja pelumas. Polutan air membuat berbagai komponen mesin berkarat dan masa kerja yang singkat.

Polutan air dalam bentuk terlarut (dissolved water)

Polutan air dalam pelumas terjadi secara terus-menerus dan dalam jumlah yang besar pada aplikasi industry pulp & paper, stern tube di kapal, dan roda gigi thruster. Pada aplikasi khusus seperti ini, telah di kembangkan pelumas jenis khusus untuk mengurangi resiko gangguan dan kerusakan. Meskipun demikian, pelumas akan mengalami kegagalan fungsi kerja bila polutan air menjadi terlarut dan ter-emulsi (dissolved & emulsify in oils). Polutan air meledak di dalam tekanan tinggi, sebagai contoh dalam bantalan (bearing) atau roda gigi, dan efek negatif micro-pitting sangat berpengaruh pada kehandalan serta umur peralatan.

Polutan hasil oksidasi (oxidation by-products)

Toleransi komponen mesin modern semakin kecil, kurang dari 3 micron. Kecepatan dan beban kerja pun kian bertambah, dan berakibat suhu kerja pelumas menjadi kian panas. Suhu kerja pelumas yang tinggi adalah sumber utama proses kerusakan pelumas, proses penuaan (aging) dimulai dengan tahap oksidasi yang membentuk polutan resin, atau varnish. Polutan dari proses oksidasi membuat warna gelap pada pelumas dan komponen mesin, seperti cat pelapis pernis. Resin/varnish membuat “clearance” antar komponen mesin berkurang, jalur pelumas yang menyempit, serta mengurangi efisiensi pendinginan pada alat penukar panas (heat exchangers). Polutan ini dapat di atasi dengan teknologi filter rapat bertekanan, yang terbukti jauh lebih efektif dan ekonomis di bandingkan filter elektronik (boros konsumsi energi).

Polutan gas (oxygen / air / gasses)

Pada travo listrik, polutan gas adalah indikasi proses penuaan (aging) pada lapisan kertas pembungkus lilitan.

Efek buruk polutan gas adalah kavitasi, vibrasi, dan tentu saja sebagai katalis proses oksidasi pelumas. Kekuatan lapisan film pelumas akan berkurang, pada aplikasi pelumasan gesek (sliding) – gas-gas tersebut akan terkompresi dan menjadi panas. Pada aplikasi travo, polutan gas dapat menyebabkan kebakaran dan ledakan – umur travo adalah umur lapisan pembungkus (cellulose) lilitan.

Polutan asam (acid)

Asam terbentuk dari kelembaban (moisture), panas dan oksigen. Asam juga terbentuk dari proses penuaan (aging) pelumas, sekali lagi akibat oksidasi pelumas. Menjaga nilai ke-asaman pelumas tetap rendah adalah syarat mutlak pada minyak travo, turbin, hidrolik, roda gigi dan mesin gas. Sistim pelumasan akan terjaga baik, begitu pula dengan “kesehatan” mesin dan peralatan.

Bila pelumas dan sistim pelumasan sudah dalam kondisi asam, produk filtrasi jenis Ion exchange adalah pilihan bijak dalam mengurangi tingkat ke-asaman pelumas jenis Phosphate Esther.

Setelah memahami berbagai polutan dan besarannya, akan mudah dalam penentuan teknologi filtrasi/separasi yang efektif pada suatu sistim – tidak lupa analisa biaya energy dan biaya perawatan sistim filtrasi tersebut.