Ada empat kelompok pendapat dari para ahli geologi dunia tentang pemicu munculnya lumpur Lapindo. Mayoritas berpendapat, penyebabnya adalah kesalahan pengeboran. Sebagai salah satu peserta American Association of Petroleum Geologists (AAPG) 2008 International Conference and Exhibition di Cape Town, Afrika Selatan, 26-29 Oktober 2008 lalu, Dr Rudy Rubiandini begitu kecewa ketika hasil konferensi internasional tersebut diplintir untuk kepentingan Bakrie Group dalam kasus lumpur Lapindo. Padahal, dalam sesi diskusi ‘Lusi Mud Volcano: Earthquake of Drilling Trigger’, mayoritas peserta sepakat bahwa penyebab lumpur Lapindo adalah karena kesalahan pengeboran, bukan gempa bumi. ‘Kalau menyalahkan alam kan tidak ada tuntutan. Yang seperti itu sudah amat gamblang,’ ujar ahli geologi dari ITB itu kepada Sri Widodo dari Indonesia Monitor, Rabu (5/11). Berikut ini petikan wawancaranya.

Pembahasan – Harry Eddyarso

For your info aja..

Selamat siang Pak Rudy,

Ini draft wawancara saya dengan Bapak.

Tulisan ini mau naik cetak nanti malam, saya menunggu foto dari Bapak.
Terima kasih sebelumnya. Widodo

Dr Rudy Rubiandini

‘Kalau Salahkan Alam Kan Nggak Ada Tuntutan’

Ada empat kelompok pendapat dari para ahli geologi dunia tentang pemicu munculnya lumpur Lapindo. Mayoritas berpendapat, penyebabnya adalah kesalahan pengeboran.

Sebagai salah satu peserta American Association of Petroleum Geologists (AAPG) 2008 International Conference and Exhibition di Cape Town, Afrika Selatan, 26-29 Oktober 2008 lalu, Dr Rudy Rubiandini begitu kecewa ketika hasil konferensi internasional tersebut diplintir untuk kepentingan Bakrie Group dalam kasus lumpur Lapindo. Padahal, dalam sesi diskusi ‘Lusi Mud Volcano: Earthquake of Drilling Trigger’, mayoritas peserta sepakat bahwa penyebab lumpur Lapindo adalah karena kesalahan pengeboran, bukan gempa bumi. ‘Kalau menyalahkan alam kan tidak ada tuntutan. Yang seperti itu sudah amat gamblang,’ ujar ahli geologi dari ITB itu kepada Sri Widodo dari Indonesia Monitor, Rabu (5/11). Berikut ini petikan wawancaranya.

Mengapa dalam diskusi itu tidak dibuat laporan tertulis, berarti hanya sebatas pertemuan informal?

Bukan begitu, formal itu tidak harus tertulis. Tidak perlu bikin laporan buat orang Indonesia. Justru kita yang seharusnya kemudian mencari tahu, apa sih yang sebenarnya terjadi. Apakah pemerintah mau atau tidak menerima keputusan orang-orang yang tidak punya interest dengan Lapindo, interest dengan politik Indonesia dan sebagainya.

Bagaimana hasil diskusi itu?

Mereka beranggapan, hasil diskusi sudah panjang karena memakan waktu dua tahun. Bertemulah mereka di Cape Town sebagai titik puncak, setelah seminggu sebelumnya di London. Di situ ada empat kelompok. Pertama, kelompok yang mempercayai bencana Lapindo disebabkan bencana alam. Kedua, kelompok yang percaya bencana itu akibat dari pengeboran. Ketiga, kelompok yang percaya akibat dari kedua-duanya. Keempat, kelompok yang mengatakan data ini inkonklusif sehingga masih harus dikaji ulang. Setelah panjang lebar dan sebagainya si moderator bilang, ‘ini kelihatannya kita harus akhiri, karena sudah sore’.

Dari situ lalu muncul usul untuk pemungutan suara?

Moderator mengatakan, untuk mengakhiri pertemuan itu, mari kita lihat petanya seperti apa sih pendapat saudara-saudara. Akhirnya para hadirin diminta untuk mengacungkan tangan. Kelompok pertama yang setuju akibat bencana alam, yang ngacung cuma 3 orang. Kelompok kedua yang setujuakibat dari pengeboran, yang ngacung 42 orang. Kelompok ketiga yang percaya akibat kedua-duanya yang ngacung ada 13 orang. Lalu kelompok keempat yang inkonklusif yang ngacung ada 16 orang.

Dari peta 42 orang dan 3 orang, kita mau ambil kesimpulan seperti apa lagi. Silakan simpulkan, pertemuan itu tidak akan menyimpulkan apa-apa, biar masyarakat sendiri yang menyimpulkan apakah lumpur Lapindo terjadi akibat bencana alam atau pengeboran.

Bagaimana tanggapan Lapindo?

Ya pasti menolak. Tapi saya mau katakan, apakah bangsa Indonesia mau mencari kebenaran atau tidak. Kalau mau mencari kebenaran, dengarkan apa kata mereka. Mereka itu tingkat keahliannya tinggi, tidak dipengaruhi oleh apapun. Mereka ilmunya tinggi. Mereka bukan hanya orang Indonesia, mereka bukan orang idiot, mereka bukan masyarakat biasa, mereka semua mengerti tentang ilmu minyak dan gas bumi, mereka memahami geologi, mereka berbicara membahas fakta yang ada, berjam-jam. Masak kita tidak percaya terhadap analisis mereka. Bahwa kemudian pemerintah tidak menganggap pertemuan itu pertemuan resmi, silakan saja, bahwa itu nonformal silakan, bahwa DPR tetap menganggap kasus Lapindo sebagai bencana alam, silakan. Cuma, kasihan sekali bangsa ini ditertawakan dunia.

Pertemuan yang di London hasilnya juga sama?

Betul. Tapi yang di London memang dibuat press release-nya. Dan yang membuat release itu teman-teman Lapindo, hasilnya juga sama, tidak ada kesimpulan.

Berapa yang hadir dalam pertemuan di Cape Town?

Sekitar 90 ahli geologi dari seluruh dunia. Di sana kita tidak melihat dari mana asal usulnya, yang penting itu adalah international event yang dilakukan setiap tahun, yang sudah berjalan sekian puluh tahun.

Mereka itu siapa saja?

Itu adalah asosiasi ahli geologi dunia yang kredibilitasnya tidak diragukan. Saya dengar, di Indonesia katanya mau diadakan lagi.
Pertanyaan saya, apakah bisa lebih kompeten dari mereka? Apakah bisa lebih netral dari mereka? Apakah bisa lebih hebat kemampuan menganalisisnya dari mereka? Mari kita berkaca, jangan mengaku sok pinter.

Mereka berdiskusi atas inisiatif siapa?

Orang-orang itu datang tanpa kepala, datang tanpa dasar. Mereka itu tergabung dalam asosiasi sudah bertahun-tahun. Sekarang dunia melihat kepada lumpur Lapindo, tanpa diminta. Para ahli geologi interest untuk datang ke tempat itu, jauh-jauh dari berbagai negara hanya untuk mengikuti acara itu. Kita harus apresiasi itu. Mereka tidak punya kepentingan apapun. Mereka bisa datang saja sudah hebat kok, ngapain ada kepentingan-kepentingan tertentu. Netralitas mereka sangat tinggi, sehingga kalau ada isu bahwa pertemuan itu dipolitisasi, itu sangat menyesatkan. Tadi saya cerita, itu hanya polling, memetakan, dan petanya seperti itu, simpulannya silakan putuskan sendiri.

Anda sendiri melihatnya seperti apa?

Saya justru banyak muncul pertanyaan. Waktu DPR mengatakan bahwa ini akibat dari bencana alam, waktu BPPT, Aspermigas (Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Bumi), maupun IAGI mengatakan ini akibat gempa, ada tidak media massa yang protes? Ada apa? Caranya bagaimana? Mereka bikin tim perumus yang orang-orangnya berasal dari Lapindo. Kenapa ketika ada yang melakukan dengan cara voting di luar negeri, tanpa ada yang mengatur, tanpa ada tim perumus, kenapa malah diributkan? Aduh, kacau benar bangsa ini. Rekayasanya sungguh amat telanjang. Janganlah muka buruk cermin dibelah. Kalau kita berkaca, saat muka kita kelihatan jelek, janganlah cerminnya dipecahin. Harapan saya terhadap pemerintah tidak terlalu muluk, tolong dianalisis hasil diskusi itu.

Pihak Lapindo ngotot bahwa lumpur Lapindo akibat gempa?

Ya, kalau menyalahkan alam, kan tidak ada tuntutan. Yang seperti itu sudah amat gamblang.

Anda menilai media massa sudah dikooptasi untuk kepentingan Bakrie Group, apa mesti dilakukan?

Ya, akhirnya saya hanya bisa menyarankan, mari kita gunakan hati nurani. Selama pemimpin tidak memiliki hati nurani dan akal sehat, lumpur Lapindo tidak akan pernah tuntas. Kita tenang sajalah, wong DPR-nya juga tidak akan pernah percaya terhadap AAPG. Bakrie tenang saja, wong presidennya tidak akan pernah percaya terhadap temuan AAPG. Pemerintah juga tidak akan berpihak pada AAPG. Tenang saja wong kejaksaan juga tidak akan pernah mengusut. Semua tidur nyenyak.

Kabarnya, ahli geologi yang memihak kepada kepentingan Bakrie Group akan menggelar pertemuan tandingan di Indonesia?

Berkacalah, apakah Anda lebih hebat dari orang-orang yang berkumpul di AAPG. Pesan saya cuma satu, berkacalah.

Kalau mereka tidak mau berkaca?

Kita menunggu perubahan hati nurani, terutama para pemimpinnya.
Ini masalahnya sederhana sekali, hanya hati nurani. Itu saja, tidak sulit-sulit kok. Apalagi yang harus kita usahakan, wong pertemuan tingkat internasional saja diabaikan, apalagi yang bisa diharapkan kecuali kembalinya hati nurani. Semua sudah kita lakukan. Semua yang kita lakukan, halal, berdasarkan keilmuan, tidak ada pesanan-pesanan, rekayasa dan sebagainya. Tidak ada permainan supaya kasus Lapindo merupakan kesalahan pengeboran. Semua transparan.

Apa tahun depan AAPG akan menggelar diskusi tentang lumpur Lapindo lagi?

Tidak mungkinlah. Itu kemarin dijadikan highlight saja, seharusnya bangsa Indonesia berterima kasih. Itu kan ada enam highlight. Highlight itu acara yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Pertemuan itu setara dengan climate change, setara dengan offshore exploration , setara dengan African change exploration, itu adalah sebuah masalah yang dianggap penting bagi para ahli. Kita harus berterima kasih terhadap mereka. Kok kita mau bikin acara tandingan di sini. Ya diketawain, dagelan yang tidak lucu.

Tanggapan dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia pembahasan bulan November 2008 dapat dilihat dalam file berikut :