Memahami dispersi di bawah permukaan laut itu sungguh sulit. Karena faktor2 : – tidak adanya faktor angin, melainkan arus bawah laut (dan gelombang permukaan), dan sejauh ini sangat minim sekali ilmuwan yang melakukan riset tentang ini; – sangat bergantung pada kelarutan gas dalam air laut setempat, kadar garam, dan compatibility gas dan mineral dalam air laut; – laut memiliki perbedaan tekanan yang tinggi, tiap turun 10 m = 1 bar, faktor ini harus dipertimbangkan dalam dispersi. Bisa bisa bukannya dispersi yang terjadi, melainkan air laut yang bertekanan yang mendesak masuk ke sistem proses; – faktor faktor lain.

Tanya – Miftahul Arif

Dear Bapak / Ibu professional milis yang terhormat,

Saat ini saya sedang mengerjakan dispersion dari Subsea vent sebuah platform dengan menggunakan software BP Cirrus.
Adakah bapak2/ibu2 yang sudah sangat experience dalam perhitungan dispersion dari sebuah subsea vent dalam BP Cirrus?
Mohon advise dan guidelinenya.
Terus terang saya sangat blank menggunakan option dispersion calculation dalam bp cirrus untuk sebuah subsea vent nya.

Atas bantuan dan pertolongan bpk/ibu, saya ucapkan terima kasih.

Tanggapan 1 – Crootth Crootth

Dear Arif,

Setahu saya BP Cirrus tidak memodelkan dispersi untuk subsea, kalau versi terbaru nya menyediakan itu saya kurang tahu. Pilihan untuk crater fire pun – besar kemungkinan ga ada, apalagi underwater dispersion.

Memahami dispersi di bawah permukaan laut itu sungguh sulit. Karena faktor2 berikut:

– Tidak adanya faktor angin, melainkan arus bawah laut (dan gelombang permukaan), dan sejauh ini sangat minim sekali ilmuwan yang emlakukan riset tentang ini

– Sangat bergantung pada kelarutan gas dalam air laut setempat, kadar garam, dan compatibility gas dan mineral dalam air laut

– Laut memiliki perbedaan tekanan yang tinggi, tiap turun 10 m = 1 bar, faktor ini harus dipertimbangkan dalam dispersi. Bisa bisa bukannya dispersi yang terjadi, melainkan air laut yang bertekanan yang mendesak masuk ke sistem proses.

– Faktor faktor lain

Saya justru nanya balik, kenapa di venting di bawah permukaan laut???? Kenapa anda disuruh mengerjakan sesuatu yang secara substantial sulit dilakukan oleh engineer, betapapun dia senior??

Kalau bentuknya liquid, Chevron Thailand pernah melakukan studinya, dan mereka memakai software tertentu untuk menghitungnya.

Tanggapan 2 – hendra taruna

Mas Crooth-Crooth,

Menanggapi pernyataan ‘kenapa di venting di bawah permukaan laut????’

Btw apa kah menurut mas Dam, vent system yang nyemplung ke laut tidak pernah ada di fasilitas oil & gas di manapun?
Jikalau ada, apa yang seharusnya dilakukan? re-routing vent kah atau ada strategy jitu untuk mengubah sub sea vent?

Jika ada engineer yang sengaja men-design venting system dengan cara ‘sub sea vent’ kira2 rekan2 Migas ada yang curious ga kenapa? misalnya kok ada pikiran PSV tail pipe nya nyemplung 10 feet di bawah permukaan laut?

Just asking

Tanggapan 3 – Awaluddin Berwanto

Sepengetahuan saya, subsea venting tidak diijinkan…apalagi kalau mengacu kepada pengembangan subsea di kawasan laut utara dan teluk mexico, apalagi kalau fluid tersebut mengandung condensate atau oil. Salah satu yg mendasari adalah pencemaran lingkungan hidup. Selain itu, apabila subsea venting dilakukan laut yg dangkal dan di atasnya terdapat vessel atau barge yg sedang bekerja, baik untuk drilling, subsea inspection atau lainnya dikhawatirkan dapat menimbulkan ledakan atau fire yg membahayakan orang-orang di atas vessel atau barge tsb.

Untuk melakukan venting dari subsea facilities, dapat dilakukan melalui umbilical dengan menggunakan satu line dalam umbilical dan dikirim ke host facilities (baik Off-shore atau On-shore). Untuk fasilitas subsea yg memerlukan venting dalam jumlah besar dan memerlukan piping dalam ukuran lebih besar maka biasanye dibuat venting line khusus dari rigid pipeline atau flexible pipeline.

Untuk beberapa pengembangan subsea to beach (S2B) dan long tie back, biasanya dilakukan penambahan venting line. Beberapa contohnya adalah Snohvit & Ormen Lange di laut utara dan WDDM di Mesir.

Tanggapan 4 – Crootth Crootth

Mas Awaluddin untuk negara kita as long as kadarnya dibawah 25 ppm, itu diperbolehkan. Plus peraturan daerah, yang mungkin sedikit berbeda dengan aturan migas.

Tapi memang Mas Awaluddin benar, perancangan subsea Venting (yang melepas gas/condensate begitu saja ke kedalaman laut) adalah sesuatu yang patut dikritisi, kenapa harus di venting di bawah (laut) jika masih bisa di ‘insert’ ke umbilical sistem?

Tanggapan 5 – Jauhar M. Khaeruddin@depriwangga

Dear Mas Arif,

Saya pernah membaca sebuah report mengenai dispersion analysis dari subsea vent. Di dalam report tersebut disebutkan, dispersion analysis-nya menggunakan software FROST yang dimiliki oleh Advantica (www.advanticagroup.com). Saya sendiri belum punya dan belum pernah menggunakan software tersebut. Tetapi semoga informasi ini bisa menjadi clue bagi Mas Arif untuk mencari informasi lebih lanjut lagi.

Tanggapan 6 – Miftahul Arif

Terima kasih Mas DAM, Mas Jauhar.

Saya sebenarnya memang masih belajar, dan tetap terus mencari tau.

Tanggapan 7 – Milis Oil<.b>

Dear All,Mas Crootth,saya sendiri belom pernah mencoba susbsea vent dispersion dengan bp cirrus.tapi menurut saya, BP cirrus bisa digunakan untuk dispersi di subsea vent.caranya, dengan membuat diameter imajiner pas dipermukaan laut.maksudnya, gas yang dibuang ke laut akan naik kembali ke permukaan . maka untuk memodelkan dispersi di atas permukaan laut, maka kita harus bisa mengakali diameter imajiner pas di permukaan laut.Jika mas ada ide mengenai ini , Mungkin mas ada tambahannya dan masukannya…

Tanggapan 8 – Crootth Crootth

Kelemahan utama metode QRA adalah besarnya Uncertainties.

Dengan anda menambahkan ‘diameter imaginaire’ maka saya yakin ketidaksahihan QRA nya menjadi bertambah.

Arus laut itu memiliki pengaruh besar, bagaimana anda bisa meletakkan ‘diameter imaginaire’ tersebut… saya pas diving saja masih suka terbawa arus kalau lagi diving di Toyapakeh, atau di Pulau Peucang… apalagi gas .

Sekali lagi… ide nya bukan dispersi ya bisa dimodelkan apa tidak, tapi kenapa harus ada venting di bawah permukaan?? QRA itu ga akan ada gunanya untuk menghitung sesuatu yang sudah gamblang ngga ada manfaatnya.

Tanggapan 9 – Milis Oil

Dear Mas Crootth,
senang bisa berdiskusi dengan mas,
saya coba menjawab pertanyaan mas,

1. ketidak tepatan hasil menjadi kelemahan permodelan subsea vent dengan bp cirrus…
jawab: memang benar seperti yang mas utarakan, tetapi, jika kita mau memodelkan kelayakan dan keamanan flare radiation atau vent dispersion (diatas platform/tanah), nilai acuan yang dijadikan pasti mas akan ambil dalam worst case scenario, walau misalnya prevalent wind direction dan parameter lain kenyataannya tidak begitu.
demikian juga dengan subsea vent, misalnya
jika subsea vent nya pas dibawah platform, maka untuk menganalisa apakah dispersionnya masih di level aman / tidak, waktu dilakukan simulasi bp cirrus bisa diasumsikan velocity air laut = 0. (worst case). dan sebaliknya dimana arus laut yang sangat besar sehingga bisa membawa gas ke arah platform dan sehingga diameter imaginernya mendekati platform dan ditambah prevalent wind velocity yang mengarah ke platform dan wind velocity maximum

2. Kenapa harus pake subsea vent, kenapa tidak pake vent biasa?
Jawab: memang benar kata mas crootth, beberapa peraturan termasuk peraturan dari end user sendiri tidak lagi mengizinkan penggunaan subsea vent.
tetapi, dimasa yang lalu, peraturan tersebut boleh dibilang belom ada.
jadi sejarahnya begini
di masa lalu, setelah dilakukan calculasi, maka vent yang didapat itu membutuhkan vent yang sangat tinggi. dan untuk membangun vent boom yang seukuran itu, dibutuhkan biaya yang sangat besar. karena di masa lalu, peraturan yang belom ketat dari pemerintah dan end user, maka zaman itu, cara yang paling praktis dan murah adalah dengan memasukkan saja sekitar 10 ft (tergantung flow vent) ke dalam laut.
zaman sudah berobah mas, seiring adanya incident2 yang terjadi, maka end user pun membuat kebijakan untuk itu.

Tanggapan 10 – Crootth Crootth

Wah mulai sekarang kelihatannya anda berhati hati

1. Penerima resiko tidak hanya ENTITY dari pemilik resiko, melainkan pula PUBLIC. termasuk public (l nya jangan dihilangkan yah) di sini adalah: nelayan nelayan yang melaut di sekitar platform, kapal kapal transportasi umum, kapal kapal pemasok (kalau memang di anggap bukan entity) dll.

Bayangkan vent gas anda ter drift arus sejauh 200 m dan keluar di sana tepat di bawah kapal nelayan yang memancing cumi dengan menggunakan petromaks sebagai penarik perhatian cumi.

Gas keluar tersulut petromaks dan DUARR, beberapa anak menjadi yatim karenanya, LSM bersama rakyat mendemo perusahaan anda, kemudian class action, kasus mendunia dan saham jatuh, siapa yang dirugikan?? (mungkin ini berlebihan, tapi ini mungkin terjadi).

Jadi worst case arus = 0 m/s saya patut pertanyakan. Kenapa musti selalu menganggap entitas platform itu sendirian dan terisolasi?? bukannya biasanya setiap platform mnarik banyak nelayan untuk memancing di sekitarnya.

2. Kenapa ga disambung saja vent nya (ada banyak teknologi penyambungan saat ini) dan di masukkan ke flar header/vent header??

Mengapa capek2 QRA kalau sudah tahu apa yang dialkukan itu sia sia? lagi pula kalau BP MIGAS tahu, ada vent di bawah laut, toh akan diminta berapa ppm kandungan HC yang dibuang??

Again, buat saya sebagai mantan process engineer, adalah sia sia menghitung dispersi seperti ini – tanpa bermaksud mengecilkan hati anda buat belajar dispersi bawah air yah.