Ada nya perbedaan yang terjadi antar 50 Hz dan 60 Haz itu ga masalah,
yang penting dia tidak melebihi frequency tolerance nya lebih kurang 3 % ( IEEE
standar, pag. 23). Kelebihan dari 3 % itu yg tidak boleh. kenapa dia bisa lebih dari 3 %?
itu bersumber dari sumber electric nya sendiri. semisal generator nya Over
speed, atau load changes, swithboard meter error, atau drift, dan bahkan environment ( temperature, humidity, vibration, dll).

Tanya – Rovicky Dwi Putrohari

Aku ganti judul biar lebih nyaman

Btw, Menurut kawan-kawan IT di Malesa (KL) ini frekuensi listriknya naik turun. Lebih buruk ketimbang di Jawa. Ini dirasakan seringnya power failure di server-server mereka. Hanya saja tidak ada pemberitaan yang ‘vulgar’ mengenai kekurangan ini. Di Jakarta konon server lebih stabil karena listrik (powernya) juga stabil. Barangkali yang di Indonesia lebih suka protes, lah wong boleh dan punya kesempatan. Cuman kalau sudah jadi hobby whadduh !

Tanggapan 1 – hadi muttaqien

Apa karena freqwensi yang tidak stabil maka di hotel2 di KL outlet/steker jadi ada2 50 Hz dan 60 Hz? atau hanya sekedar melayani tamu2 yang dari manca negara?, kalau standard pemasangan oultlet di hotel memang apa harus 2 freqwensi?.
Keputusan memakai 50 Hz atau 60 Hz menurut saya karena keputusan bermotif dagang saja.

Tanggapan 2 – ‘Rovicky Dwi Putrohari’

Kalau aku sebagai pelanggan (50 hz atau 60 hz) manapun ndak masalah
yang penting stabil. Naik turunnya voltage dan berubahnya frekuensi
ini yang mengganggu. Sering terjadi ‘trip’. Kalau PC dirumah jadi
sering ter-reset ketika terjadi perubahan.
Yang lebih menyusahkan (lagi ini kata kawan yang kerja IT). Sedikitnya
protes atau keluhan soal electricity ini sering melenakan di KL.
Banyak gedung di KL yang tidak memiliki power BackUp. Kalau tak ade
api (maksudte listrik mati) semua susah lah. Ini terasa ketika terjadi
Black Out beberapa tahun lalu. Saya sendiri tinggal di Ukay Height
yang katanya kawasan elit (tapi kuno) sering mengalami mati listrik
kalau hujan deres. Dan kayaknya mati listrik sudah biasa, dan ga ada
protes rame sprt di Jakarta.

Lah di Jakarta banyak protes, akhire yang laris malah penjual generator. 🙂

Saya sebenernya pingin tahu apa akibatnya bila alat dioperasikan
dengan voltage dan frequency berbeda atau berubah ?

Tanggapan 3 – ardi soma

Ada nya perbedaan yang terjadi antar 50 Hz dan 60 Haz itu ga masalah,
yang penting dia tidak melebihi frequency tolerance nya lebih kurang 3 % ( IEEE
standar, pag. 23).

dari 3 % itu yg tidak boleh. kenapa dia bisa lebih dari 3 %?
itu bersumber dari sumber electric nya sendiri. semisal generator nya Over
speed, atau load changes, swithboard meter error, atau drift, dan bahkan
environment ( temperature, humidity, vibration, dll).

So, ketika anda punya stabilizer, rata2 UPS selain sebagai power back up, juag
sebagai stabilizer, itu ga masalah..

Nah ketika terjadi kelebihan dari toleransi itu, atau drop tegangan atau
tegangan lebih, saya yakin, breakernya akan kerja dan memutuskan aliran listrik..

So ga usah ragu dgn 50 / 60 Hz.

Tanggapan 4 – Djohan

Punten Mas Ardi,

Peralatan 50Hz yang disupply dengan 60Hz kan melebihi 3%? kelebihan 20%

malah. Apa bukan karena peralatannya beroperasi dengan arus DC, maka efek 50 atau

60 Hz frekwensi tidak ada, karena sudah melewati adaptor.

Tetapi bagaimana dengan motor AC misalnya?

Tanggapan 5 – ardi soma

Mas Jo,

3 % adalah untuk nilai 50 atau 60 nya.

Kalau untuk motor ac, jika jika peralatan 50 hz dan suply 60, maka kita harus
memainkan tegangan suplly untu memenuhi 50 hz nya,
berarti kita memainkan putaran nya mas..

Ada tabel yg menggamba kan, jika motor 50 hz maka putaran nya sekian, seprti yg di tulis oleh mas sebelm saya..
Nanti sya cba attach table nya.

Itu saja mas..
( maklum nih, masih blajar).

Tanggapan 6 – Aroon Pardede

Wah… saya justru bertanya sama temen2 pak Rovicky; kok untuk server
enggak pakai UPS…??? CMIIW, bukannya UPS juga membuat aliran listrik
lebih stabil?? Saya sih dulu diberitahu bahwa fungsi UPS juga selain
untuk backup ketika power outage, juga untuk power surge, dll….???
CMIIW???

Setau saya sih perangkat elektronik modern biasanya sudah di design
power inputnya untuk adaptif terhadap sistem kelistrikan yang
berbeda-beda di tiap negara. Setau saya di Eropa dan asia rata2
menggunakan 220 V; 50Hz. Untuk US, 110V; 60Hz, sama juga dengan Jepang.
Jadi, seperti posting pak Budhi, biasanya alat2 listrik sudah didesign
‘adaptif’, yakni dengan range voltase 100-240 V, dan gelombang AC 50-60Hz.

Tanggapan 7 – ‘Rovicky Dwi Putrohari’

Aaaahaa

Ketika anda bilang ‘power surge’ aku jadi inget fenomena alamiah di seputar KL.

Peninsular Malaysia (PM) batuannya banyak mengandung metal. tentunya
ingat daerah penghasil metal, nikel di Bangka dsk. PM ini batu dan
tanahnya juga buanyak sekali mengandung metal. Akibatnya frekuensi
petir cukup besat. Mungkin, akhirnya power surge sering terjadi
disini. Ini barangkali yang sering menjadikan power trip itu.

UPS tentusaja dipakai. Tetapi kan UPS punya limitasi waktu, paling
sejam dua jam. Tetep saja kalau listriknya belum nyala terpaksa
serverpun di shutdown juga kan ? Saya sampai hapal, kalau ada power
failure di hari kerja, pasti nanti orang IS (IT) memberikan pengumuman
akan diadakan server maintainance pas week end. Dan diminta semua
PC/Workstatsion di shutdown hari jumat sore.

Pssst yang lutju, UPS banyak dipasang juga di PC-PC Workstasion tetapi
ketika ditinggal pulang semalam, tetep saja ngga berguna kalau tidak
sempat shutdown dengan baik. Aku sendiri ngga tahu apa ada software
yang mampu menshutdown (properly) secara otomatis ketika UPS bekerja
akibat power failure. Alasan ini menjadikan saya selalu menutup PC
ketika balik kantor.

Tanggapan 8 – Aroon Pardede

Setau saya pak Rovicky, UPS yang ‘mumpuni’, diperlengkapi dengan
software yang bisa membuat komputer yang terhubung ke UPS tersebut
dishutdown dengan baik apabila terjadi kehilangan power. Di UPS biasanya
ada port serial (mungkin yang lebih baru sudah pakai port USB), yang
dihubungkan ke port komputer. Nah, ketika UPS mendeteksi kehilangan
pasokan listrik dari outlet, dia bisa men shutdown komputer sehingga
komputer bisa di shutdown dengan baik, dan data-data bisa tersimpan
sempurna.

Omong2, saya jadi heran juga, ternyata di malesa, yang (katanya) lebih
maju dari indonesia, kondisi listriknya ‘byar-pet’ juga kayak indonesia
ya….???? Oa lah… ternyata rumput tetangga memang cuman keliatan
(agak) hijau ya…. hehehe…..