Pertamax memiliki nilai oktan lebih tinggi. Akibatnya, Pertamax memiliki titik didih lebih tinggi daripada premium biasa. Karena titik didihnya lebih tinggi, maka dia baru akan terbakar bila ada percikan api. Dalam hal ini percikan listrik dari busi itulah yang membakarnya. Apabila menggunakan premium, biasanya karena tekanan kompresi dari piston itu sendiri, premiumnya sudah terbakar. Jadi terbakar sebelum dipicu oleh percikan api busi. Nah terbakarnya premium oleh tekanan kompresi dan bukan oleh percikan busi inilah yang membuat pembakaran yang terjadi di ruang bakar piston menjadi tidak sempurna. Karena pembakaran yang terjadi tidak sempurna maka akan ada sebagian kecil bahan bakar yang tersisa. Atau biasanya menyisakan kerak berupa karbon yang berwarna hitam. Sehingga bisa disimpulkan bahwa memakai pertamax yang bilangan oktannya lebih tinggi jelas lebih efisien karena pembakarannya lebih sempurna. Dari tes road yang dilakukan oleh para komunitas biker, terbukti bahwa dengan menggunakan pertamax konsumsi bensin jadi lebih irit. Meskipun demikian penggunaan pertamax bukannya tanpa efek samping. Efek sampingnya berupa panas mesin yang berlebih. Sehingga harus dipastikan bahwa oli mesin dapat mengalir dengan lancar untuk melumasi bagian dalam mesin.

Tanya – Budianto, Subkhan@bluescopesteel

Yang terhomat milister semua,

Mohon maaf bila sudah pernah dibahas sebelumnya.

Saya mau tanya perihal Pertamax untuk sepeda motor harian, karena akhir-akhir ini Pertamina gencar mengiklankannya.
Saya pernah dengar kalau oktan Pertamax lebih tinggi daripada premium, sehingga lebih ‘dingin’ (lebih lambat menguap) saat proses pembakaran. Efek dari hal tersebut adalah timbulnya kerak pada mesin lebih cepat.
Mohon bantuannya.

Tanggapan 1 – Arthur Silalahi @lmbsp.ms.itb

Pak Subkhan,

Mungkin yg benar adalah pertamax dgn oktan yang lebih tinggi sifat pembakarannya lebih baik. benar lebih ‘lambat’ tapi dari sisi lebih tahan terhadap tekanan tinggi (istilah awamnya). sehingga pembakaran tidak terjadi sebelum titik pembakaran terjadi. hasilnya adalah pembakaran yg ‘tepat waktu’ jadi tidak menyebabkan knocking pada ruang bakar. saran saya karena harga pertamax skrg sudah murah silahkan pake utk motor bapak. yah hitung2 kita bantu pemerintah ngurangi subsidi. dari sisi kualitas pertamax/plus lebih baik dari premium. mungkin teman2 yg di proses lebih bisa menjelaskan.

Tanggapan 2 – Budianto, Subkhan @bluescopesteel

Terima kasih Pak Arthur,

Maaf ada yang ketinggalan, bagaimana kalau sering mencampur pertamax dengan premium?
saya ingin informasi lebih banyak agar lebih mantap pakai pertamax dan mau saya share dengan teman-teman.
Terima kasih.

Tanggapan 3 – M.A. Hadi Prasetya

Pak Subkhan,

Setahu saya, dr beberapa informasi yg sudah pernah di publikasikan di beberapa majalah otomotif, baik atau tidaknya menggunakan pertamax atau premium itu tergantung dari desain ratio compresi ruang bakarnya. CMIIW. Kalo ratio kompressinya tinggi, misal (1:9,8 atau 1:10) mungkin pertamax lbh bagus dibandingkan premium, dikarenakan diperlukan titik pembakaran yang tinggi sehingga pembakaran di ruang bakar jd lbh optimum, Sedangkan untuk kendaraan yg mempunyai ratio kompresi rendah menggunakan premium lebih optimum dibandingkan menggunakan pertamax, karena tidak diperlukan titik pembakaran yang tinggi untuk menciptakan pembakaran di ruang bakar. Kalo ratio compresi di ruang bakarnya tinggi dan premium digunakan sebagai bahan bakarnya, sepertinya apa yang dijelaskan pak Arhur itu benar, karena premium akan terlebih dulu terbakar sebelum mencapai compresi yang maximal, sehingga akan ada efek knocking. CMIIW, mungkin orang mechanical ada yang bisa menambahkan.

Tanggapan 4 – andreas hutagalung

Kebetulan niy lagi membahas masalah bahan bakar.

Begini ceritanya, teman saya ada punya mobil, mobil nya ini menurut spesifikasi pabrikan nya rasio kompresi nya tidak tinggi kisaran 9 lah gak sampai 10 (kalau tidak salah ingat), intinya pemakaian bensin cukup dengan premium saja.

Jadilah dia pakai nya premium saja, dan memang bagus-bagus saja, nah di kemudian hari kawan saya ini dapat jatah bensin , tepatnya harus mengisi dengan Shell Super Extra, namun jatah ini sifatnya intermitten,,

kebetulan juga sih kawan saya ini sewaktu kuliah di Teknik Mesin juga, jadi meskipun gak pinter-pinter kali tapi gak bodoh-bodoh amat juga lah, nah singkat kata kawan saya ini ambil jatah bensin ‘gratis’ tersebut.

Lalu saya tanya dia, kenapa mau ngambil jatah bensin itu?
Padahal kan jatah nya intermitten…?

Lalu kawan saya ini bilang ke saya, yaa,, ibarat katanya manusia, kalau setiap hari menu makan rutin nya lauk nya dengan tahu tempe, ya gak papa lah sekali-kali dikasih makan steak Belanda..
Beda misalnya kalo menu makan rutin nya steak Belanda, tiba- tiba dikasi makan tahu tempe, bisa jadi ada masalah pencernaan dengan nya..

Menurut rekan-rekan milis migas, bener gak sih jawaban nya kawan saya ini?
Karena sependek yang saya tahu, saya belum tahu apa-apa ttg pemilihan bahan bakar niy,,

Mohon pecerahan nya dong…

Terimakasih…

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia pembahasan bulan November 2008 dapat dilihat dalam file berikut: