Bagi rekan-rekan, akan bermanfaat apabila berbagi pengalaman mengatasi stress di tempat kerja offshore, karena sifat tempat kerjanya yang spesifik. Salah satu metode mengatasi stress di tempat kerja adalah menanamkan rasa syukur bahwa kita masih hidup dengan denyut nadi yang masih teratur, sehat, selamat, & produktif. Memikirkan sejenak akan detak jantung saja sudah membantu mengatasi rasa stress.

Pembahasan – Hanifa Gunawan

Rekan-rekan, kemajuan teknologi, dinamika kerja sering membuat kita lupa memikirkan hal-hal yang kita anggap sepele. Kutipan hasil penelitian berikut ini semoga akan memperbaiki kealfaan kita ketika larut dalam ritme pekerjaan.

A self-administered questionnaire were distributed to study stress associated with off-shore oil work among 561 Chinese workers in a state-owned oil company. The top four sources of stress were, in descending order of importance: physical environment of the workplace, safety, interface between job and family/social life and career and achievement. The perceived sources of work stress in Chinese workers were different from those reported in earlier studies on UK off-shore oil workers. These differences might be attributable to socio-cultural factors or possibly, changes in perception to stress over time. A better understanding of the sources of stress is essential to promote the physical and mental health of off-shore oil workers. More cross-cultural comparative studies would be useful in elucidating the influence of sociocultural and environmental factors on stress perception.

Copyright © 2002 John Wiley & Sons, Ltd. Correspondence to Tze-Wai Wong, Department of Community & Family Medicine, Faculty of Medicine, The Chinese University of Hong Kong, 4/F., School of Public Health, Prince of Wales Hospital, Shatin, N.T., Hong Kong.

Bagi rekan-rekan, akan bermanfaat apabila berbagi pengalaman mengatasi stress di tempat kerja offshore, karena sifat tempat kerjanya yang spesifik.

Salah satu metode mengatasi stress di tempat kerja adalah menanamkan rasa syukur bahwa kita masih hidup dengan denyut nadi yang masih teratur, sehat, selamat, & produktif. Memikirkan sejenak akan detak jantung saja sudah membantu mengatasi rasa stress.

Tanggapan 1 – Share Teknik

Kita sering berada dalam situasi harus bisa segera meredakan stres. Tenang saja, ada kok cara yang mudah dan cepat untuk usir stres. Hanya butuh semenit untuk mengontrol ketika stres mulai datang.

caranya:

1. Mendengarkan musik

Saat bangun tidur, jangan langsung mendengarkan stasiun radio berita yang bakal menyiarkan segala bencana di negeri kita. Itu sudah pasti menambah parah stres. Mulailah hari dengan mendengarkan musik favorit Anda.

2. Mencium

Sejumlah penelitian membuktikan bahwa mencium aroma menyenangkan dapat memperbaiki suasana hati. Keluarkan tungku terapi aroma dan bakar beberapa tetes minyak esensial kesukaan ketika gejala-gejala stres mulai mendera. Itu pasti membantu Anda rileks di rumah dan tempat kerja.

3. Menangis

Ini cara paling manusiawi untuk meringankan stres. Sekitar 85 persen wanita mengaku merasa agak membaik setelah menangis. Kenapa? Air mata membebaskan kimia tubuh yang dibentuk selama periode stres berlangsung.

4. Bicara

Ketika stres menyerang, segera bicaralah dengan teman sehingga membuat Anda jauh dari situasi tegang. Ini akan membuat Anda merasa lebih baik dan membantu Anda untuk rileks.

Dikutip dari Kompas.com

Tanggapan 2 – Eko Prasetyo

Saya cenderung tidak peduli dengan environment, safety bla-bla-bla sebagai pencetus stress, karena yang paling memicu stress adalah HUMAN INCOMPETENCE FACTORS, yang bisa merembet ke mana-mana.

Tapi tentu saja: SAFETY FIRST!

Tanggapan 3 – nasrul hidayat

Klo saya melihat sterss akibat sebenarnya adalah dimana pada saat manusia tersebut memang mengalami depresi yang sangat kuat dan kelelahan dimana disatu sisi harus bisa bekerja dengan sesuai target ditambah gaya kerja yang kaku buat nah disitu akan komplit tingkat stressss yang besar.

Bukan karena factor saftey dan bla bla yang ada.

Semangat lah para pejuang pencari Nafkah.

Tanggapan 4 – Akh. Munawir

Klo saya melihat stress itu akan tiba2 hilang jika sdh tgl 25…he3x.

Tanggapan 5 – Muhammad Meiliyanto

Ikut nimbrung juga ahh …

Nggak tahan baca komentar – komentar teman2 semua, apalagi berkaitan dgn offshore.

Lumayan jadi orang nomaden nya offshore ada suka ada dukanya apalagi klo yang suka adventure wuihh cocok banget tuh kerja di offshore (Drilling Rig terutama) kita bisa menjelajah seluruh dunia tergantung client yg kita pake, tpi untuk Stress dan segala macam teman – teman nya itu akan hilang dengan sendirinya klo kita
sudah mendengar suara dan senyuman orang yang kita cintai terutama istri dan anak2 kita
, meskipun lewat udara alias onair alias via telephone, Kita bisa manfaatin tuh fasilitas gratis dari company, bebas telephone 24 Jam kemana kita mau, internet gratis, dan yang paling seru sebenarnya klo kita sudah mendekati ‘sign off’ rasanya suara announcement ‘helicopter will be landing in 10 menit’ kita impi – impikan …. dan kita nantikan kehadirannya. Semua stress dan capek kerja selama 28 hari alias 4 weeks (kebetulan sch saya 4-4) hilang tak berbekas … persiapan bertemu dengan orang2 yg kita cintai …
Satu lagi khusus untuk yg sudah menikah setelah kita pulang sepertinya sepertinya kaya pengantin baru lagi .. betul nggak ?? Karena hidup adalah sebuah pilihan … dan Arti hidup adalah memberi hidup sebuah arti … arti buat org – org yg kita sayangi dan kita cintai.

Tanggapan 6 – Aziz Fathan

Coba ngasih masukan

Kebetulan saya juga bekerja di Offshore sudah 9 tahun, boleh dikatakan cukup pengalaman dan mengerti suasana di Offshore.

Mungkin satu2nya sekedule bekerja yang ada didunia yaitu 7-7 atinya 7 hari Off dan 7 hari On sangat membosankan karena frekuensi antara libur dan bekerja sangat cepat.

Bekerja bener2 touch di laut karena tugas pekerjaan kita di Wellhead bukan stay di Platform, artinya akomodasi di Platform bila malam hari dan berlayar dari jacket/ platform ke jacket lain di pagi hari hingga sore hari begitu tiap hari, bisa dibayangkan betapa susahnya perjalanan dengan crew boat setiap hari apalagi saat roughsea (ombak).

Apa yang bapak2 utarakan itu adalah semata untuk menghibur diri sendiri saja bisa senang bekerja di Offshore tapi sesungguhnya bekerja di offshore itu adalah penuh resiko seperti kita duduk diatas Bom yang sewaktu2 bisa meledak karena lingkungan kerja kita penuh dengan gas beracun H2S, pressurize dan toxid yang terisolasi jika ada kebocoran mudah sekali terbakar jika konsentrasi gas melebihi ambang yang ditentukan. Apalagi access untuk escape atau melarikan diri dari tempat hazard atau bahaya sangat susah kecuali nyemplung kelaut .

Terus terang untuk awal2 bekerja di offshore kita merasa senang karena rate atau package yang didapat lebih dari onshore (darat). Bekerja 5 bulan saja bisa kebeli Toyota Fortuner baru.

Tapi setelah semua didapat baru kita menyadari bahwa bekerja di Offshore sangat beresiko.

Untuk Orang yang mudah mabuk naik kapal laut jelas tidak bisa bekerja di departemen saya sekarang, dari Darat ke akomodasi menggunakan Chopper/ helikopter mewah jenis sikorsky 5 blade kapasitas seats 20 penumpang milik perusahaan sendiri sebanyak 50 helikopter, yang dalam kabin kita mendengarkan musik dan ber AC, untuk ngedrop penumpang yang akan tinggal di pulau tempat akomodasi kita jarak 120 km dar darat, disana kita tinggal selama seminggu. Dipulau ini tempat kita tidur, makan dan istirahat setelah pulang malam hari dari field. Begitu dimanjanya kita sampai2 fasilitas hotel sekelas bintang 5 saja kalah, mulai dari sarana Gym, kolam renang, olahraga tenis, sepakbola sampai bermain Golf, begitu juga dengan makanan yang disediakan, sampai air yang kita gunakan untuk mandi adalah air mineral atau Aqua .

Fasilitas wireless konet internet ada dimana2 gratis 24 jam, dan tilpun interolkal ke indonesia pun Gartis.

Nah bapak2..keadaan seperti ini untuk karyawan yang baru masuk akan terheran2 dan sangat senang karena jarang terjadi.

Lama2 akan merasa bosan, dan tidak ada yang lebih penting dari keselamatan diri kita sendiri.

Gas H2S yang kita hirup sedikit demi sedikit lama2 akan terakumulasi dan akan mempengaruhi kesehatan kita seperti mudah lelah dan gangguan pada penglihatan.

Dokter offshore hanya bisa menangani hal kasus penyakit biasa2 saja, untuk sifatnya emergency biasanya tidak sanggup dan segera diterbangkan ke rumahsakiit dan tidak sedikit karyawan meninggal dijalan karena harus segera dikirim ke rumah sakit, misal sakit jantung, heatsroke, dll.

Jika kita harus memilih maka bekerja di darat (bukan Offshore) adalah lebih baik, karena penanganan yang cepat akan dapat diatasi bila ada emergency karena sakit tiba2.

Jangan tergiur gaji besar, karena didarat bisa aja dapat gaji besar selisih pendapatan ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan resiko bekerja di laut.

Naik helikopter rutin itu sangat beresiko, selain getaran yang tinggi, bila rotor belakang rusak/ tidak bekerja saat terbang maka matilah semua penumpang, karena helikopter akan crash dan berutar sama dengan putaran blade, belum lagi floating body tidak mengembang jika ada pendaratan emergency, helikopter akan tenggelam, prosentasi selamat kursus HUET kira2 hanya 5 persen saja sisanya adalah nyawa kita selesai alias mati.

Bukannya saya menakut2i, karena kenyataan ini sudah sering kita pahami dari berita2 dan rekaman video2 safety, mangkanya perusahaan kita tidak tanggung2 selalu mengupgrade helikopter2 menjadi super mewah dan safe.

Tapi yang namanya celaka bisa saja terjadi karena masih buatan manusia.

Nah.masih ingin bekerja di Offshore?

Pembahasan selengkapnya dari rangkuman diskusi ini dapat dilihat dalam file berikut: