Deepwater operations didefinisikan sebagai aktivitas E&P (explorations & productions) di lepas pantai yg mempunyai kedalaman air lebih dari 200m (600ft), yaitu kedalaman rata-rata batas paparan benua (continental shelf). Beberapa operator E&P menyebutkan 500m sebagai batas awal deepwater & diatas 2000m sebagai ultradeep water.
Deepwater drilling, sesuai namanya, adalah pemboran sumur lepas pantai di kedalaman air lebih dari 200m (atau 500m). FYI, kedalaman rata-rata Laut Jawa adalah 200m. Deepwater E&P dimulai pada akhir tahun 70-an di Teluk Meksiko, Brazil & Afrika Barat. Deepwater operations sejak 20 tahun terakhir semakin diminati para operator E&P, sejalan dgn menipisnya cadangan hidrokarbon dunia & semakin majunya teknologi. Selain diketiga area di atas, sekarang deepwater operations juga dapat ditemui di Laut Utara, lepas pantai Malaysia timur, Australia barat daya, dll. Di Indonesia, lapangan West Seno milik Unocal memiliki kedalaman sekitar 1000m di Selat Makasar.

Tanya – oranjacob

Saya sering mendengar istilah Deepwater drilling, di majalah & di kampus. Kedengarannya menarik. Mohon pencerahannya apakah yg dimaksud dengan Deepwater drilling. Apa saja tantangannya ? Sudah adakah di Indonesia ?

Tanggapan 1 – samperuru@labuan.oilfield.slb

Dear Pak OJ,

a very good question from a student.

Deepwater operations didefinisikan sbg aktivitas E&P (explorations & productions) di lepas pantai yg mempunyai kedalaman air lebih dari 200m (600ft), yaitu kedalaman rata-rata batas paparan benua (continental shelf). Beberapa operator E&P menyebutkan 500m sebagai batas awal deepwater & diatas 2000m sebagai ultradeep water.
Deepwater drilling, sesuai namanya, adalah pemboran sumur lepas pantai di kedalaman air lebih dari 200m (atau 500m). FYI, kedalaman rata-rata Laut Jawa adalah 200m. Deepwater E&P dimulai pada akhir tahun 70-an di Teluk Meksiko, Brazil & Afrika Barat. Deepwater operations sejak 20 tahun terakhir semakin diminati para operator E&P, sejalan dgn menipisnya cadangan hidrokarbon dunia & semakin majunya teknologi. Selain diketiga area di atas, sekarang deepwater operations juga dapat ditemui di Laut Utara, lepas pantai Malaysia timur, Australia barat daya, dll. Di Indonesia, lapangan West Seno milik Unocal memiliki kedalaman sekitar 1000m di Selat Makasar.

Karakteristik deepwater operations:

1. Cost: hampir semua aktivitas di atas rig lebih kompleks & membutuhkan waktu yg lebih lama mengakibatkan ongkos sewa rig makin mahal (sewa rig untuk deepwater termasuk yg termahal).

2. Temperatur air yg rendah (di perairan tropis sekalipun, temperatur air bisa mencapai sekitar 1-2oC di kedalaman 1700m), efeknya ke:

A. Viskositas & rheology fluida berubah

B. Waktu yg dibutuhkan semen untuk mengering menjadi lebih lama

C. Resiko gas hydrates di sekitar sea-bed/mud line

D. Deposit paraffin atau asphaltene

3. Margin pore pressure & fracture pressure yg hanya berbeda sedikit, efeknya ke lost-circulation waktu pemboran atau lost-return pada saat
penyemenan.

4. Bahaya ‘shallow water /gas flow’: umumnya terjadi jika terdapat lapisan unconsolidated sand yg berisi fluida (air atau gas) bertekanan pada kedalaman yg rendah. Temperatur yg rendah menyebabkan semen konvensional akan memakan waktu yg lebih lama untuk mengeras. Pada saat ini sebelum semen 100% mengeras, air atau gas bertekanan tadi akan masuk ke dalam annulus sumur berisi semen lalu naik ke
permukaan sampai keluar ke mudline. Jika ini terjadi, integrasi semen akan gagal & remedial penyemenan yg mahal harus dilakukan.

5. Well-control yg lebih sulit (BOP terletak di dasar laut & temperatur yg rendah akan berefek ke properti lumpur).

6. Sub-sea production facilities yg juga kompleks (temperatur rendah & tekanan hidrostatik air yg tinggi) & sangat mahal.

Bahaya gas hydrates:

1. Dapat menyumbat BOP choke & kill lines.

2. Dapat menyebabkan dehidrasi lumpur pemboran dan/atau semen.

3. Dapat meng-overload peralatan pemisahan gas (gas separator).

Beberapa angka-angka:

1. Menurut estimasi, 95% dari area lautan yg potential mengandung hidrokarbon tetapi belum dieksplorasi terletak di kedalaman lebih dari 1000m.

2. Sampai hari ini, deepwater telah menyumbang sebanyak 60milyar barel minyak ke cadangan minyak dunia.

3. Baru 25% dari cadangan deepwater yg sudah & sedang didevelop.

4. Baru 5% yg sudah berproduksi.

5. Tingkat keberhasilan (success rate) eksplorasi di deepwater naik dari 10% menjadi 30%.

6. Rekor laut terdalam dimiliki oleh Petrobras: 2351m.

Untuk bacaan sebelum tidur:

http://www.slb.com/Hub/index.cfm?id=id8520

http://www.slb.com/Hub/index.cfm?id=id688288

http://www.slb.com/Hub/index.cfm?id=id862688

http://www.slb.com/Hub/index.cfm?id=id32944

http://www.slb.com/Hub/Docs/connect/reference/oilfield_review/ors00/spr00/pdf/p2_17.pdf

http://www.slb.com/Hub/index.cfm?id=id335036

http://www.slb.com/Hub/index.cfm?id=id334728

http://www.slb.com/Hub/index.cfm?id=id390130

dan masih banyak lagi…..

PS: saya meng-encourage para mahasiswa untuk menggunakan milis ini sebagai wahana mencari informasi.

Tanggapan 2 – deden.supriyatman@totalfinaelf

Coba tanya teman-teman dari Unocal Indonesia, sebab di Selat Makasar mereka punya ‘deepwater project’ yang namanya West Seno (yang saya dengar kedalamannya airnya bisa lebih dari 1,5 km, belum kedalamannya drilling-nya). Tolong bantu atuh, Cak Ary Retmono, adik kita ini….

Tanggapan 3 – weby@tf.itb

Dear Pak Doddy dan members,

Karena saya masih mahasiswa, saya merasa ter-encourage untuk bertanya-tanya..

1. Semen. Sebenarnya semen yang digunakan untuk cementing itu semen kelas apa? Saya pernah download i-handbook, ada beberapa kelas (A,B,C,D,dst). Pembuatan kelas-kelas (pengkelasan) semen itu berdasarkan apa dan kapan juga harus menggunakannya? Apakah untuk kondisi begini, harus pakai semen itu dst?

2. Deposit Paraffin dan Asphaltene. Maaf, saya tidak mengerti maksudnya. Bisa dijelaskan lebih rinci?

3. Gradien pressure. (saya telah download pdf mengenai Deepwater) Secara sederhana – dari gambar – mud pressure harus dijaga diantara pore pressure dan fracture pressure? Boleh dijelaskan bagaimana jika terletak di luar gradien tsb? Saya baca di bagian Predicting Pressures, apakah drilling company selalu punya history data2 mengenai sumur disekitarnya? kalau tidak, berarti mengandalkan data2 dari while drilling logs, sonic,
resistivity dlsb itu?

4. Refining Predrill Pressure Prediction. Didalam artikel pdf itu disebutkan interval velocities. Disana (p.7-8) disebut2 bahwa traveltime dari sumber seismik tsb tidak mewakili besaran fisik traveltime dari interval velocities kecuali dengan asumsi bahwa formasi flat dan homogen. Namun, setiap nilai kecepatan mewakili dari rata2 spatial extent dari sumber seismik. Mohon dijelaskan Spatial Extent itu maksudnya apa?

Kemudian untuk mendapatkan besaran kecepatan yang berarti, dari data 3D digunakan Tomography-Based (tomography inversion) Pore-Pressure Prediction. Mohon sekiranya dijelaskan bedanya (secara prinsip) dengan Conventional Pore-pressure Prediction ? (gbr-nya bersebelahan di artikel tsb).

Mohon maaf apabila pertanyaannya terlalu memberondong. Kebetulan saja ‘bacaan sebelum tidur’nya baru file pdf itu saja.