On-Line Testing untuk SDV secara mudahnya dimaksudkan sebagai cara untuk mengetes ‘Intergrity’ dari SDV dalam keadaan plant on-line. Karena hanya dengan cara seperti itu kita bisa mengetahui secara actual SDV bisa iosolate process apa tidak. Ada dua cara : 1. Full Stroke Testing; 2. Partial Stroke testing.

Tanya – matsant@REKAYASA

Mohon pencerahan kpd teman2 bgm implementasi atau aplikasi utk requirement ‘online testing’ pada ESD system di refinery.

Tanggapan 1 – arief_rahman@singgarmulia

‘On-Line Testing’ untuk SDV secara mudahnya , menurut saya, dimaksudkan sebagai cara untuk mengetes ‘Intergrity’ dari SDV dalam keadaan plant on-line. Karena hanya dengan cara seperti itu kita bisa mengetahui secara actual SDV bisa iosolate process apa tidak.

Ada dua cara yang saya ketahui :

1. Full Stroke Testing

2. Partial Stroke testing

Untuk yang Full Stroke testing tentu saja tidak disukai oleh owner plant karena akan menyebabkan plant shutdown (mengingat SDV tidak diperkenankan mempunyai bypass). Akan tetapi memang Full stroke test mesti dilakukan untuk membuktikan bahwa SDV bisa fully shut the process in case plant shutdown karena emergency situation. Berapa interval testing time-nya tergantung hitung-hitung berapa Safety Integrity Level yang diminta dan yang bias dipenuhi oleh system. Biasanya yearly.

Beberapa pakar (dan juga company, misalnya aramco dsb), mencoba menawar schedule Full Stroke Testing, tanpa mengorbankan integrity system requirement, dengan cara melakukan Partial Stroke Testing. SDV di test stroke tapi tidak sampai full close (biasanya +/- 20% closing) untuk menunjukkan bahwa SDV akan bisa bekerja in case required (walaupun tidak pernah bisa membuktikan akan bisa isolate secara baik atau tidak, karena memang tidak full stroke). Berdasarkan hitung-hitungan, maka dengan dilakukannya Partial Stroke Test, maka Full Partial Stroke testing periodnya bisa di extend lebih lama. Yang saya tahu philosophy ini diaplikasikan di Saudi Aramco yang kebetulan refinery.

Ada banyak cara untuk melakukan hal itu, misalnya :

1. Menggunakan mechanical jammer (Metso Automation). Cara ini adalah dengan menggunakan mechanical jammer yang akan mengganjal gerakan rotation dari shaft actuator sehingga akan bisa berhenti pada posisi yang diinginkan. Cuma cara ini mulai ditinggalkan, karena kalau SDV-nya banyak bisa saja kelupaan melepas mechanical jammer-nya. Seingat saya PT Badak mempunyai SDV yang memakai fasilitas seperti ini.

2. Menggunakan smart positioner yang bisa partial stroke (Metso Automation). Silahkan lihat di website mereka : www.metsoautomation.com

3. Campuran Pneumatic Positioner + Hart I/P + Hart Multiplexer (Bisa dilihat di www.saudiaramco.com)

4. Memakai FieldVue (dari Fisher Rosemount). Pak Bahrin mestinya lebih kompeten untuk memberitahunya.

5. dll.

Mudah-mudahan membantu, dan tidak melenceng dari yang ditanyakan.

Tanggapan 2 – Administrator

Sedikit menambahkan keterangan dari Pak Arif, bisa saja partial stroke testing ini menggunakan gabungan dari beberapa pneumatic/hydraulic valve yang umum ada di pasaran seperti buatan Versa, Swagelok, dll. Saya menggunakan hal ini untuk sebuah project di Natuna, semua SDV diperlengkapi dengan partial stroke testing. BDV saja yang tidak.

Tanggapan 3 – Bahrin.Saifudin@ptcs

Seperti disampaikan Pak Budi, partial stroke testing bisa dilakukan dg menggunakan pneumatic / hydraulic panel. Sebagian besar sistem testing yg ada sekarang ini mungkin menggunakan cara ini.

Dengan kemajuan teknologi Smart Positioner, untuk tugas partial stroke testing ini bisa menggunakan Smart Positioner. Sampai saat ini diantaranya adalah Fisher (dg Fieldvue DVC ESD) dan Metso / Neles. Untuk memahami partial stroke testing dg smart positioner ini cukup mudah. Seperti diketahui, salah satu kemampuan utama smart positiner adalah Auto – Calibration yg biasanya untuk control valve dilakukan secara full stroke 100%. Untuk Fieldvue DVC ESD, stroke hanya bisa dilakukan sampai maximum 30% dari range, dan by software (ValveLink) bisa dipilih sesuai standard di plant yg diinginkan mis : 15%, 20%, 25%. Dengan menggunakan smart positioner untuk ESD, bisa dilakukan pula test yg lain spt step response test dan sigature test, dan bisa juga dilakukan Automatic testing (batch runner).

Penggunaan Smart Pos untuk ESD partial stroke test ini relatif baru, dan secara specific memang dipacu oleh permintaan dari Saudi Aramco dimana banyak ESD mereka berada pada area yg sulit (gurun). Disamping memudahkan, secara cost sangat murah dibanding dg pneumatic / hydraulic panel.

Kalau ada yg kurang atau salah mohon dimaafin. Terutama kalau ada yg mau nambahin minusnya, karena kalau dari saya, yg bisa keluar plusnya aja, maklum tuntutan kerjaan.

Tanggapan 4 – arief_rahman@singgarmulia

Pak Budi, kalau bisa diberi ilustrasi (gambar atau sketch) kayak apa konfigurasi-nya saya akan sangat berterima kasih. Soalnya belum pernah melakukan sih.

Tanggapan 5 – WKundono@mcdermott

Sebagai tambahan saja,

Ada teknik lain yang bisa dilakukan untuk partial stroking, yaitu meletakkan sensor pressure di air supply line ke actuator sebagai komponen diagnostic. SVM (Smart Valve Monitoring) keluaran Drallim menggunakan teknik ini. Untuk lebih lengkapnya bisa download di http://www.drallim.com/docs/ControlsDocs/SVM/Drallim_Monitoring_Systems_SVM_ Intro_Version_1.3.pdf