Implementasi HIPS sebaiknya dimulai dari study tentang Risk Assessment dan Reliability dari process yang akan dipasangkan sistem HIPS. TIDAK SELALU HIPS itu dipasang untuk menggantikan PSV. HIPS bisa menggantikan PSV pada aplikasi tertentu . Di
beberapa negara yang peduli lingkungan , HIPS dipasang untuk menghindari pencemaran lingkungan akibat
terbakarnya fraksi berat Hidro-carbon ; jadi HIPS BISA untuk menggantikan PSV / Flaring .

Tanya – Cahyo Hardo

Bapak-bapak instrument engineer, saya mau bertanya. Jika kita melakukan testing sistem HIPS, lalu apakah penggantinya pada saat itu jika plant tidak shutdown? Dan apakah penggantinya itu juga harus setara dengan HIPS-nya sehingga safety integrity tidak dikorbankan.

Tanggapan 1 – patria indrayana

Saya punya pertanyaan yang sama dengan pak Cahyo :

Kalau di production separator misalnya kita selalu punya 2 x 100% capacity jadi kalau yang satu mau dicabut untuk testing, maintenance atau satu lagi yang masih standby.

Sementara si HIPS ini kan katanya instrumented system untuk menggantikan peran PSV. Kalau HIPS sedang maintenance siapa yang menggantikannya ? apa harus total shut down ? atau apa ada konsep HIPS 2 x 100% ?

Enggak mungkin kan plant jalan tapi HIPS nya lagi di-inhibit semua ?

Tanggapan 2 – gunawan@re.rekayasa

Yth Pak Patria / Pak Cahyo ,

Kebetulan saya memiliki prosedur testing untuk HIPS dari tempat saya pernah bertugas, hanya saya ragu apakah bisa di distribute. Saya ingin coba menjawab pertanyaan-pertanyaan bapak-bapak , mudah-mudahan bisa memuaskan. Pertanyaan inti nampaknya bias dijawab dari filosofi sistem.

Berikut ini saya kutipkan paragraph ttg HIPS dari dokumen Safety System Philosophy.

‘ In addition to the Plant Safety System (PSS ) , a HIPS shall be installed to protect the plant from overpressure conditions in case of PSS failure.

Dari dokumen yang sama, didefinisikan juga sbb :

‘ The plant shall be controlled and monitored by a Centralized Integrated Control System( CICS), consisting of the following major sub-systems :

1. Plant Supervisory Control System, consisting of : 1.1. Process Control System ( PCS )

1.2. Plant Information System ( PIS )

2. Plant Safety System ( PSS ) , consisting of : 2.1.

Emergency Shutdown System ( ESD )

2.2. Fire & Gas System ( F & G )

3. Power Distribution Control System ( PDC )

……. dst . … dst

Jadi, terlihat di atas bahwa HIPS dipasang IN ADDITION TO PSS.
Jadi HIPS adalah sebagai lapis kedua ( FINAL PROTECTION ). Kalau HIPS lagi di test, pabriknya masih ada yang jaga yaitu si PSS tadi ( ESD System plus Emergency Depressurizing System ). Kebetulan di tempat tsb ESD adalah buatan GTI Automation ( Maglog ) dan TMR ABB – August. Jadi nggak ada deh HIPS 2 X 100 %.
Saya tidak tahu safety philosophy yang di’adopt’ di tempat bapak-bapak bertugas. Setiap company bisa jadi berbeda. Safety System Philosophy ini mungkin bias dikatakan sebagai GBHN dalam pengembangan Safety System di pabrik ybs. Pembuatan Project Specificationspun harus merujuk pada dokumen filosofi tsb.
Implementasi HIPS sebaiknya dimulai dari study ttg Risk Assessment dan Reliability dari process yang akan dipasangkan sistem HIPS. TIDAK SELALU HIPS itu dipasang untuk menggantikan PSV. HIPS bisa menggantikan PSV pada aplikasi tertentu . Di
beberapa negara yang peduli lingkungan , HIPS dipasang untuk menghindari pencemaran lingkungan akibat
terbakarnya fraksi berat Hidro-carbon ; jadi HIPS BISA untuk menggantikan PSV / Flaring .

Mudah-mudahan sedikit argumen ini bisa menjawab pertanyaan rekan Patria & Cahyo.

Tanggapan 3 – arief_rahman@singgarmulia

Cukup menarik mengamati bahwa dasar filosofinya : ‘ In addition to the Plant Safety System (PSS ) , a HIPS shall be installed to protect the plant from overpressure conditions in case of PSS failure.’ Menarik, karena bisa timbul pertanyaan mengapa si PSS-nya tidak dibuat se-reliable untuk meet SIL requirement ketimbang harus sampai sampai nambah HIPPS. Bukan apa-apa, soalnya kayak ABB-August, kan TMR yang fault tolerant dan reliability-nya cukup baik dan bahkan bisa sampai mencapai SIL-3. Tentu saja kalau total sistemnya maka harus semuanya dipertimbangkan sampai end devices dan sensor serta instalasinya.

Dari itulah secara sepintas saya menduga bahwa HIPPS tetap diperlukan karena Risk yang ada masih belum bisa dikurangi oleh PSS in case PSS fail (seberapapun handalnya PSS tersebut). Karena itu juga jadi pertanyaan kalau pada saat HIPPS test, bukankah PSS juga kemungkinan masih bisa fail ? Kenapa kok pada saat test PSS ‘saja’ jadi dianggap cukup untuk memprotect plant ? Apakah ada effort lain sehingga keperluan akan HIPPS-nya bisa tergantikan in case PSS fail ? Mungkin disini letak pertanyaan Pak Cahyo mengenai 2X 100% HIPPS. Atau saya salah tangkap Cahyo ?

Tanggapan 4 – Tahzudin.Noor@vico

Mau dipilah-pilih ya boleh saja. kalau balik ke hierarchy kan ya nggak nyimpang. batasnya mau sampai mana? kalau kaget dibelakang, eh ngetest nya gimana, dll, berarti dulu-dulunya waktu assessment, design dan project safety review pasti ketinggalan, atau saat itu lagi ke kamar kecil, atau ngantuk atau lagi nyuri waktu buat ngerokok, atau memang budgetnya dibatasi, atau ..commitment sudah beda.

Tanggapan 5 – arief_rahman@singgarmulia

Pak Tahz,

HIPS yang saya bicarakan dalam konteks seperti dalam makalah Ibu Angela Summer yang dulu Pak Din sarankan itu lho.

Disitu dibilang :

‘The fourth edition of API 521 allows credit to be taken for a favorable response of some of the instrument systems. While this design alternative is provided, API 521 part 2.2 recommend the use of High integrity protective system (HIPS) only when the use of pressure relief devices is impractical. Kalau benar bahwa HIPS lahir dari requirement seperti ini artinya secara hierarchy dia akan sejajar dengan PSV (level-2 protection).

Saya sih punyanya masih yang 3rd edition, jadi belum baca yang 4th edition-nya. Di edisi ke-3 part 2.2. tidak ngomong apa-apa mengenai HIPS.

Mengenai Safety Review requirement, kalau saya lihat di IEC-61511 (Functional Safety : Safety Instrumented Systems for the process industry
sector) sebagian besar requirement untuk keep up integrity dari SIS kelihatannya sudah lumayan di cover (mulai dari maintenance requirement, testing design requirement, application software testing, decommissioning, management of change dsb-dsb) sehingga paling tidak bisa mengurangi yang terkaget-kaget di belakang hari.

Tapi tetap terasa nada khas Pak Tahzudin pas nyinggung soal commitment (nulisnya itu lho : atau …. Commitment sudah beda). Paling tidak saya nggak kena yang ‘lagi nyuri waktu buat ngerokok’ ..

Tanggapan selengkapnya: