Menentukan jumlah limbah pemboran (cuttings) prinsip dasarnya menggunakan prinsip archimedes. Lubang pemboran biasanya berbentuk tabung (tube) sehingga volume lubang sebanding dengan volume cuttings. Biasanya para engineer lumpur memiliki perhitungan volum annulus untuk menentukan jumlah cuttings dan lumpur. Bisa buka handbook untuk perhitungannya.

Tanya – Isa, Boga

Ditempat saya bekerja saat ini direncanakan akan dilakukan pengeboran pengembangan sebanyak 5 sumur. Saat ini saya diberi tugas untuk memperkirakan jumlah limbah yang akan dihasilkan dalam pengeboran nanti. Sebagai informasi bahwa TD rata-rata untuk kelima sumur tersebut adalah 1230 m. Dengan profile sumur yang telah ada saat ini dan mungkin juga jadi acuan nantinya adalah Surface Casing (200m; 9 5/8′) dan Production Casing (1230 m; 7′). Yang ingin saya tanyakan adalah:

1. Bagaimana menentukan limbah yang akan dihasilkan dalam pengeboran nanti?

2. Apakah lumpur yang dipakai pada suatu sumur bisa digunakan disumur lain dan berapa % jumlah yang dapat dipakai kembali?

3. Berapa perkiraan jumlah volume cutting yang akan di hasilkan jika sample diambil mulai dari kedalaman 200 meter?

4. Yang terakhir agak sedikit menyimpang, apa fungsi log FDC?

Mohon maaf kalau pertanyaan saya sangat dasar sekali karena saya baru 1,5 tahun bekerja di oil company. Mohon penjelasannya dari bapak2 yang telah mahir didunia ngebor-mengebor….:-). Terima kasih.

Tanggapan 2 – Afriandi Prasetya

Mas Isa, cuma mau bantu konsepnya aja, soalnya saya juga masih baru di pemboran, barang kali Bapak2 yang sudah berpengalaman bisa mengoreksi.

1. menentukan jumlah limbah pemboran (cuttings) prinsip dasarnya menggunakan prinsip archimedes. lubang pemboran biasanya berbentuk tabung (tube) sehingga volume lubang sebanding dengan volume cuttings. Biasanya para engineer lumpur memiliki perhitungan volum annulus untuk menentukan jumlah cuttings dan lumpur. Bisa buka handbook untuk perhitungannya.

2. Lumpur yang sudah digunakan bisa digunakan kembali setelah ditreatment sesuai dengan kebutuhan sumur yang akan menggunakannya. secara prinsip kalau sudah ditreatment, 100% kualitas dapat digunakan kembali, mengenai kuantitasnya ya tergantung dari sumur sebelumnya apakah ada lumpur yang masih tertinggal. Sepengetahuan saya, di Total atau Unocal ada Mud Center untuk treatment lumpur tsb.

3. kira-kira mirip dgn jawaban no. 1

4. wah, ini perlu bertanya ke orang logging dulu

Sekian dulu, mas Isa, kalau ada kabar baru, saya kabari. Buat milister yg lain kalo ada koreksi silakan. Terima kasih.

Tanggapan 3 – Doddy Samperuru

Pak Isa,

My two cents worth:

On Thu, 28 Oct 2004 17:36:09 +0800, Isa, Boga

Dear milister….,

Untuk Tahun 2005 nanti, ditempat saya bekerja saat ini direncanakan akan dilakukan pengeboran pengembangan sebanyak 5 sumur. Saat ini saya diberi tugas untuk memperkirakan jumlah limbah yang akan dihasilkan dalam pengeboran nanti. Sebagai informasi bahwa TD rata-rata untuk kelima sumur tersebut adalah 1230 m. Dengan profile sumur yang telah ada saat ini dan mungkin juga jadi acuan nantinya adalah Surface Casing (200m; 9 5/8′) dan Production Casing (1230 m; 7′). Yang ingin saya tanyakan adalah:

1. Bagaimana menentukan limbah yang akan dihasilkan dalam pengeboran nanti?

Pada saat pemboran, yg paling menentukan adalah jenis mud apa yg akan digunakan. Umumnya: water-based-mud (WBM) vs oil-based-mud (OBM). WBM murah, banyak dipakai di mana2 & more environment friendly. Banyak operator yg secara legal boleh mendump WBM ke tengah laut, tentu dgn propertinya yg tidak membahayakan lingkungan. OBM mahal, tapi lebih unggul dibanding WBM, cocok utk reservoir/formasi yg sensitif thd air. OBM tak bisa dibuang sembarangan krn umumnya toxic. Biasanya harus ditreat terlebih dulu sebelum bisa disposal. Mud Company pilihan Talisman bisa menjawab pertanyaan Anda lebih detil.

2. Apakah lumpur yang dipakai pada suatu sumur bisa digunakan disumur lain dan berapa % jumlah yang dapat dipakai kembali?

Secara umum bisa & lazim dilakukan, tergantung apakah propertinya masih di dalam range yg ditentukan atau tidak. Faktor ekonomi & logistik juga harus diperhatikan. Simple barite water based mud tidaklah mahal. Mana yg lebih ekonomis, membuat mud baru atau membawa sekian banyak mud lama ke lokasi pemboran baru ?
Persentase jumlah reuseable mud sangat tergantung banyak hal: properti mud, karakter reservoir, spesifikasi sumur, dsb. Kalau lapangannya sudah mapan & well-developed, biasanya Operator sudah punya patokan kuantitatif.
Soal mud, Mud Engineer yg paling tepat utk mejawab segala pertanyaan Anda.

3. Berapa perkiraan jumlah volume cutting yang akan di hasilkan jika sample diambil mulai dari kedalaman 200 meter?

Hampir seluruh komposisi cutting adalah material formasi, umumnya bebatuan.

Ditambah sedikit material solid dari mud. Volumenya ? =~ Volume silinder sumur (hukum kekekalan massa). Soal cutting samples, Mud Logging Company Anda akan menjawab lebih detil.

4. Yang terakhir agak sedikit menyimpang, apa fungsi log FDC?

FDC = Compensated Formation Density log adalah measurement utk menentukan formation bulk density dgn mengikutsertakan efek dari ketebalan mud-cake & ukuran lubang sumur. Hasilnya lebih akurat utk interpretasi.

Mohon maaf kalau pertanyaan saya sangat dasar sekali karena saya baru 1,5 tahun bekerja di oil company. Mohon penjelasannya dari bapak2 yang telah mahir didunia ngebor-mengebor….:-). Terima kasih.

Tanggapan 4 – Afriandi Prasetya

Nah ini dari orang lumpur dan logging sudah menjawabnya, terima kasih juga lho pak Doddy, jadi belajar ;).