Select Page

Fracturing berasal dari kata ‘to fracture’ yg berarti memecahkan. Hydraulic Fracturing adalah salah satu proses stimulasi (stimulation) dimana formasi hidrokarbon kita ‘pecahkan’ dgn cara memompa fluida tertentu dalam rate & tekanan tertentu (di atas fracture pressure formasi tsb). Proppant atau pasir dipompa bersama-sama dgn fluida (yg umumnya sangat eksotik, berteknologi chemistry terdepan & sangat mahal pergalonnya) bertujuan untuk menahan agar rekahannya tetap terbuka, tidak tertutup, setelah proses pemompaan berhenti. Rekahan (fractures) yg terisi proppant akan membypass damage di sekitar wellbore & akan menjadi semacam jalan toll berkonduktivitas tinggi, sehingga hidrokarbon dapat mengalir lebih efisien dari formasi ke dalam sumur. Ujungnya, produksi akan naik & smiling face. Hydraulic fracturing atau sering hanya disebut fracturing termasuk proses stimulasi yg sangat populer umumnya untuk reservoir berpermeabilitas rendah, baik oil maupun gas.

Tanya – Yudi_Handradika

Saya butuh pencerahan nih, mungkin ada dari rekan-rekan milis yang bisa membantu, saya kurang mengerti tentang prinsip-prinsip dari hydraulic fracturing, mungkin bisa dijelaskan secara singkat dan padat, atau ada dari rekan-rekan yang memiliki buku tentang hydraulic fracturing tersebut, terima kasih.

Tanggapan 1 – samperuru@labuan.oilfield.slb

Dear Pak Yudi,

My two-cents worth:

Fracturing berasal dari kata ‘to fracture’ yg berarti memecahkan. Hydraulic Fracturing adalah salah satu proses stimulasi (stimulation) dimana formasi hidrokarbon kita ‘pecahkan’ dgn cara memompa fluida tertentu dalam rate & tekanan tertentu (di atas fracture pressure formasi tsb). Proppant atau pasir dipompa bersama-sama dgn fluida (yg umumnya sangat eksotik, berteknologi chemistry terdepan & sangat mahal pergalonnya) bertujuan untuk menahan agar rekahannya tetap terbuka, tidak tertutup, setelah proses pemompaan berhenti. Rekahan (fractures) yg terisi proppant akan membypass damage di sekitar wellbore & akan menjadi semacam jalan toll berkonduktivitas tinggi, sehingga hidrokarbon dapat mengalir lebih efisien dari formasi ke dalam sumur. Ujungnya, produksi akan naik & smiling face. Hydraulic fracturing atau sering hanya disebut fracturing termasuk proses stimulasi yg sangat populer umumnya untuk reservoir berpermeabilitas rendah, baik oil maupun gas.

Silahkan klik situs berikut untuk berbagai macam info tentang fracturing (& juga stimulasi): http://www.slb.com/oilfield/index.cfm?id=id1381830&allowRedirect=false.

Untuk peminat serius fracturing & stimulation, ada buku sakti berjudul ‘Reservoir Stimulation II’, karangan Nolte & Economides. Sebetulnya buku ini dapat didownload di situs tsb di atas, tetapi Anda harus register dulu.

Untuk para praktisi fracturing, Schlumberger i-Handbook

(http://www.slb.com/oilfield/index.cfm?id=id1384022) berisi berbagai macam data, table & info tentang berbagai hal menyangkut fracturing (& oilfield lainnya).

Bacaan lain pengantar tidur:

http://www.slb.com/oilfield/index.cfm?id=id1298218

http://www.slb.com/oilfield/index.cfm?id=id683987

http://www.hub.slb.com/Docs/connect/reference/oilfield_review/ors95/aut95/pdf/08953451.pdf

http://www.slb.com/Hub/index.cfm?id=id1044268

Fracturing case studies: http://www.slb.com/Hub/index.cfm?id=id8568

Fracturing systems: http://www.slb.com/Hub/index.cfm?id=id15200

http://www.slb.com/Hub/index.cfm?id=id17638

http://www.slb.com/Hub/index.cfm?id=id8588

Semoga mencerahkan.

Tanggapan 2 – ardiann@unocal

Sedikit menambahkan Pak Doddy, menarik untuk di share dari sisi ‘chemistry’:

Fluida tertentu yg Mas Doddy ceritakan ini (yg mahal harganya) umumnya berbentuk gel dan terdiri dari bahan polymer: -0.5-1% Polysaccarida (Gelling agent) -0.01-0.1% Organic Titanate (cross linking agent).

Gelling agent yang lain adalah: Hydroxypropil, Carboxymethyl Cellulose atau Carboxymethyl Hydropropil. Sifat yg utamanya mampu melarutkan elektrolit dan menghasilkan kekentalan yg tinggi bersama-sama cross linking agent.

Mengapa perlu viscous (kental)? Karena fluid ini harus berfungsi sebagai ‘mud’.

Yang unik pH si gel agent bisa asam (3-4) atau basa (9-10) untuk cross linking-nya. Begini prosesnya: Ketika cross linking memasuki daerah well bore maka dia akan terdesak menuju formasi karena dorongan gel. Maka rate pompa menjadi kritikal, jika cross linking berpindah terlalu cepat maka pumping agak menjadi lambat karena pengaruh degradasi shear si gel. Jadi fungsi cross linking sangat dipengaruhi oleh T dan pH si Gel.

Bacaan lebih mendalam tentang ini dapat dicari di: SPE Annual Technology Conference Paper No. 15632.

Tanggapan 3 – samperuru@labuan.oilfield.slb

Melanjuti diskusi Fracturing ini:

Fluida yg Pak Ardian sebut betul & hanyalah salah satu fluida yg biasa dipakai di pekerjaan fracturing (atau kerennya ‘Frac’, baca: fraek). Gel memang sudah lama dipakai di dunia Frac krn kita memerlukan fluida yg viskositasnya cukup untuk mentransport proppant dari surface ke dalam fractures di formasi. Tergantung berbagai faktor, kadang air atau ‘linear gel’ (air campur gelling agent) saja cukup. Tetapi umumnya kita butuh fluida yg sangat kental. Lalu ditemukanlah teknologi ‘crosslinking’. Prinsipnya mengikat beberapa rantai polimer menjadi satu, sehingga viskositasnya naik. Dgn menambahkan beberapa tetes ‘crosslinker’ ke dalam satu galon linear gel, fluida tsb akan berubah menjadi ‘crosslinked gel’ (pernah lihat film horror The Blob ?) yg viskositasnya akan naik puluhan kali lipat. Crosslinker yg umum dipakai adalah berbasis Borat. Lainnya berbasis Titanium & Zirkonium untuk aplikasi temperatur yg lebih tinggi. Selain untuk transport proppant, viskositas yg tepat diperlukan untuk mengontrol ‘net pressure’ di permukaan serta mengontrol bentuk geometri fractures yg dikehendaki. Spesifikasi lainnya dari fluida Frac adalah kompatibel dgn fluida formasi, koefisien friksi yg rendah serta fluid loss yg terkontrol. Selain ‘water-based gelled fluids’ (linear & crosslinked), fluida Frac lainnya adalah ‘oil based’ & ‘multiphase/foamed fluids’ (memakai gas N2 atau CO2). Kelemahan oil-based, selain lebih mahal & applikasinya terbatas, juga impaknya terhadap lingkungan. Kelemahan fluida multiphase: sangat mahal, prosedurnya yg rumit & safetynya sangat demanding. Yg paling murah memang water based gelled fluids. Cuman, si gel ini (HPG, PSG, CMHPG, HEC, CMHEC & Xanthan Gum) kalau terkurung di dalam fracture atau formasi, beliau akan menjadi residu & menghambat aliran hidrokarbon (yaitu merusak formasi). Gel tsb harus dibersihkan, dikeluarkan dari dalam formasi. Proses pembersihan gel ini sampai sekarang belum ada yg benar-benar 100%. Ini menjadi kelemahan utama dari fluida gel. Berangkat dari situ, sekali lagi teknologi baru ditemukan, suatu jenis fluida yg dinamakan Viscoelastic Surfactant (VES). Fluida ini berbasis surfactant, 100% polymer-free, tidak akan ada sisa solid yg bisa merusak formasi. Sekedar angka-angka, ‘Retained Permeability’ dari Guar adalah sekitar 40%. Untuk HEC sekitar 65%. VES paling tinggi, hampir 100%.

Silahkan klik:

VES: http://www.slb.com/oilfield/index.cfm?id=id3252

Fluida Frac:

http://www.slb.com/oilfield/index.cfm?id=id496468,

http://www.slb.com/oilfield/index.cfm?id=id15233,

http://www.slb.com/oilfield/index.cfm?id=id15234,

http://www.slb.com/oilfield/index.cfm?id=id1452836

Silahkan menambahkan.

Share This