p-y curves pada tiang yang terkena beban lateral (laterally loaded pile) diselesaikan dengan metode alih beban. Artinya tiang di bagi menjadi beberapa increment. Pada setiap increment dapat diketahui berapa deformasi (arah lateral) yang terjadi berikut dengan beban yang bekerja di increment tsb. Dengan konsep ini tentunya dapat disimak bahwa semakin banyak increment, semakin baik hasil p-y curvenya. Nama p-y curve sendiri adalah : p = load di titik yang ditinjau, dan y = deformasi arah sb y. Dari matriks yang terbentuk, diselesaikanlah persamaan p-y dengan metode numerik, yang umum dipakai adalah finite difference method.

Tanya – yudha_maulana

Teman teman ada yang tahu engga prosedur untuk membuat p-y curves untuk Piling pada ofshore structure, kalo teman teman ada yang tahu tolong dong pencerahannya, terus kelebihannya apa sich metode tersebut dibandingkan dengan Beam-Column Methode.

Tanggapan 1 – muhammad.yusuf@saipem

MAS MAULANA,

Saya biasa mereview document utk offfshore pile driveability analysis, Maaf sebelumnya, mungkin bisa dijelaskan dulu p-y yang dimaksud,

Biasanya utk pile driving,

Grafik yg dipakai utk analysis ialah,

– Ultimate pile acapcity curve Bisa dgn API’86 or API’93, tergantung client requirement

– Soil properties dari hasil soil investigation(by bore hole), Kemudian dengan kedalaman yg jadi target penetration, pile properties, Juga tipe hammer utk driving (misalnya) termasuk energy yg digunakan,

Dapat diperoleh grafik Soil Resistant driving terhadap jadi Blowcount(jml tumbukan dari hammer) Juga blowcount terhadap penetration.

Juga dapat diperoleh wave equation curve ttg stress pada pile tergantung hammer efficiency,

Salah satu Program computer yg digunakan GRLWEAP,

Permodelan dinamic yg digunakan hammer, pile and soil sebagai one diminsional series dari masses, springs and dashpots.

Semoga membantu…

Ada yang ingin menambahkan….

Tanggapan 2 – AImam@mcdermott

Selamat Pagi rekan2 migas,

Tahapan analisis suatu pondasi pile dimulai dgn soil investigation di sekitar lokasi pile yg akan kita pancang. Metodanya bisa CPT, SPT, maupun bore hole. Setelah investagi tersebut, kita akan mendapatkan soil investigation report yang berisi soil properties dari tanah di sekitar pile. Dari soil properties tersebut, kita bisa mendapatkan parameter-parameter tanah yg diperlukan dalam analisis/disain, baik untuk Pile Driveability Study maupun Pile Analysis and Design (Laterally/Axially).

Sebelum melakukan analisis ‘laterally/axially Loaded Pile’, terlebih dahulu dilakukan seperti yg P’Yusuf sebutkan dibawah ini yaitu Pile Driveability Study. Tujuannya untuk mengetahui tipe hammer yg dipake, sampai berapa dalam pile bisa di drive, dan berapa kapasitas pemancangannya. Softwarenya yang populer adalah GRLWEAP. Studi ini penting, terutama bila jenis pilenya adalah concrete pile dimana akibat tumbukan hammer bisa jadi pile akan retak. Keretakan pile beton ini bisa menyebabkan kehilangan kekuatannnya hingga 50%.

Setelah studi tersebut dilakukan, barulah kita memasuki tahapan analisis Pile Yang Dibebani Secara Lateral (maupun Axial). Ada banyak metoda yg umum digunakan, bisa dgn cara subgrade reaction, P-Y curve hingga finite element.

P’Yudha,

Apakah pile yg akan dianalisis tersebut hanya semata-mata menerima gaya aksial saja ? Saya kira mungkin juga ada aksialnya, bisa tension (uplift). Bila aksialnya ada maka tidak hanya P-Y curve yang perlu digenerate, juga T-Z curve (compression maupun tension) serta Q-Z curve (untuk kasus compression saja). Di API 2A-WSD yg saya sebutkan dlm posting sebelumnya, juga dijelaskan cara mengenerate T-Z/Q-Z curve.

Tanggapan 3 – Kajuputra.Elpianto@Halliburton

Rekan2 migas yth,

Penentuan jenis soil test yang akan dilakukan juga berpengaruh terhadap hasil akurat yang dikehendaki. Ada 2 kategori besar dalam soil test, yaitu lab-test dan in-situ test.

Lab-test umumnya membutuhkan waktu yang lama serta biaya yang lebih mahal, namun memberikan hasil yang lebih akurat (un-disturbed soil).

Untuk in-situ test, membutuhkan waktu yang lebih cepat serta biaya yang relative lebih murah tergantung kondisi tanah atau kasus yang dihadapi. Hasil yang didapatkan pun cukup baik bila diinterpretasikan oleh ahli geoteknik yang berpengalaman.

Ada beberapa tipe in-situ test seperti di bawah ini:

CPT (Cone Penetration Test) atau umum disebut DCPT (Dutch Cone Penetration Test atau sering dikenal sebagai sondir. Keunggulan tipe ini, cocok untuk semua tipe tanah, namun tidak didapatkan sample tanah, serta kedalaman yang didapat terbatas pada kapasitas alat.

SPT (Standard Penetration Test) yang menggunakan hammer untuk melakukan penetrasi dan dihitung blow setiap 150 mm. Tipe ini tidak baik digunakan pada tanah lunak dan lebih baik untuk tanah pasir maupun stiff clay. Disturbed soil sample bisa didapatkan untuk dilakukan lab-test. VST (Vane Shear Test) untuk mengetahui daya dukung geser tanah serta hanya cocok untuk tanah clay. Sering digunakan untuk proyek bendungan, basement atau cut & Fill.

Pressuremeter untuk mengetahui sub-grade reaction lateral tanah dan dapat di-develop menjadi p-y kurve. Test ini membutuhkan biaya yang cukup mahal.

Terdapat beberapa formula interpretasi (rule of thumb) untuk mendapatkan parameter tanah (kuat geser, sudut geser dalam, modulus tanah) berdasarkan hasil in-situ test yang didapat berdasarkan penelitian atau studi kasus. Karena itu untuk interpretasinya diperlukan ahli geoteknik yang berpengalaman.

Semoga bermanfaat.

Tanggapan 4 – AImam@mcdermott

Met siang rekan2 migas,

Saya ingin ikut berbagi ttg kasus ini, semoga bisa membantu. Tentunya para pakar2 pondasi di milis ini lebih diharapkan muncul untuk memberi pencerahan untuk kita semua.

Metoda P-Y Curve menggunakan sistem nonlinear (bisa juga linear) spring untuk menggambarkan interaksi antara tanah dan struktur/pondasi. Metoda ini menggunakan teknik pemodelan pile sebagai beam yg disupport oleh discrete spring yg merepresentasikan tahanan tanah atas suatu beban. Metoda ini computer-based modelling. Dan di pasaran saya kira sudah banyak software untuk running analisis menggunakan P-Y curve untuk lateral load maupun T-Z/Q-Z curve untuk aksial load. Kalo di company saya, analisis untuk kasus seperti itu menggunakan subroutine SPIA (Soil Pile Interaction Analysis) yg sudah built in dgn software MicroSAS (McDermott Internal Software).

Standard Code merefer salah satunya (yg populer) ke API 2A-WSD, lebih spesifiknya yaitu section 6.8 Soil Reaction For Laterally-Loaded Piles.
Di section tersebut pun disebutkan lagi, untuk lebih detail ttg pengembangan P-Y curve referensinya ke paper2 seperti;
Soft Clay (OTC 1204, Correlation for Design of Laterally Loaded Piles in Soft Clay by H.Matlock 1970), Stiff Clay (OTC 2312, Field Testing and Analysis of Laterally Loaded Piles in Stiff Clay by L.C.Reese and W.R.Cox 1975), and Sand (Report to API 1983, Fan Evaluation of P-Y Relationships in Sands by M.W.O’Neill and J.M.Murchinson).

Hal terpenting tentu P’Yudha harus mendefinisikan dulu soil parameter dari data2 tanah (CPT, Bor Log dll) yg ada untuk lokasi sekitar pile berada. Soil parameter yg penting adalah berat jenis tanah, undrained shear strength, dan angle of internal friction of sand. Karena ketiga parameter tsb dibutuhkan untuk mencari parameter2 lain di grafik2 yg ada di section 6.8.

Setelah itu tinggal ikuti saja prosedurnya seperti tercantum di section 6.8.3, 6.8.5 dan 6.8.7 dari API 2A-WSD.

Kelebihannya mungkin dlm metoda ini adalah P-Y curve yg dikembangkan telah dikalibrasi secara intensif dgn hasil uji/tes skala penuh dan banyaknya software untuk metoda ini yg dijual di pasaran. Kalo beam-column method mungkin termasuk Elastic Continuum Model (yg dikembangkan oleh Poulos), dgn menganggap pile sebagai ‘an infinite thin strip’ yg memiliki kekakuan sama dgn prototype pile. Jadi berbeda dgn metoda yg kita bahas tadi yang justru Discrete Model.

Demikian dan semoga berguna.

Tanggapan selengkapnya dari pembahasan tersebut diatas dapat dilihat dalam file berikut: