Stainless steel AISI 316 adalah jenis austenitik stainless steel dimana fasa dalam temperatur ruang adalah austenitik atau gama. material ini dapat di produksi dalam berbagai cara antara lain dengan steel making process yang produknya berupa ‘Wrought’ stainless steel yang dimensinya kebanyakan dalam bentuk lembaran atau batangan (rod). Namun ada pula yang diproduksi dengan cara pengecoran (casting) dimana dimana bentuknya agak intricate (rumit).

Tanya – yudatomo@pgpaiton

Dear All,

Berikut ini ada pertanyaan dari rekan kerja saya mengenai sifat magnetic material, mungkin rekan2 ada yg bisa menjelaskan.

Saya mereject disc (casting) material SS 316 karena saya coba tempelin dg magnet ternyata nempel, supplier tidak terima terus sepkat untuk bareng mengetest kan ke lab metalurgi ITS, ternyata hasilnya material tsb SS316. Jadi terpaksa saya harus terima.

Yg saya tidak habis pikir, saya punya jenis valve yg sama, materialnya sama SS316, ukurannya bahkan lebih besar, namun magnet tidak menempel kok yg kecil ukurannya magnet mau nempel.

Mohon bantuannya mengenai kenapa hal ini bisa terjadi ?

Tanggapan 1 – Winarto

Dear Pak Yuda,

Sekedar sharing knowledge mengenai stainless steel 316 yang bersifat magnetik.

Stainless steel AISI 316 adalah jenis austenitik stainless steel dimana fasa dalam temperatur ruang adalah austenitik atau gama. material ini dapat di produksi dalam berbagai cara antara lain dengan steel making process yang produknya berupa ‘Wrought’ stainless steel yang dimensinya kebanyakan dalam bentuk lembaran atau batangan (rod). Namun ada pula yang diproduksi dengan cara pengecoran (casting) dimana dimana bentuknya agak intricate (rumit).

Sifat magnet material ini dipengaruhi oleh komposisinya, struktur matriks logamnya (feritik, austenitik, martensitik), metoda/proses pembuatannya (manufakturnya) seperti casting, rolling dll serta kondisi fisik nya (dalam keadaan anil, keadaan cold work seperti rolling dll).

Dari 4 pengaruh parameter utama diatas (komposisi, struktur matriks, proses manufaktur dan kondisi fisik), maka material yang tadinya tidak bersifat magnet akan memiliki sifat magnetik.

Mengenai stainless steel 316, bila dalam keadaan anil akan bersifat non magnetik, namun bila material tersebut di ‘cold work’ (proses pembentukan dingin) seperti di giling (rolling), ditempa (forging) atau di shoot blasting, maka material 316 akan bersifat magnetik. Hal ini disebabkan oleh terbentuknya sebagian kecil struktur feritik atau alfa setelah proses ‘cold working’ tersebut.

Selain itu akibat proses manufaktur seperti pengecoran (casting), pada saat proses pembekuannya akan terjadi proses perubahan fasa yang seharusnya menjadi full-austenitik, tetapi sebagian kecil akan berubah menjadi ferritik. Apalagi jika dimensi material castingnya lebih tipis maka proses pembekuannya menjadi cepat (high solidification rate) dan ini yang menyebabkan sebagian fasa austenitik berubah menjadi ferritik (yang nota bene bersifat magnetik).

Sebenarnya baik yang produk ‘wrought’ maupun ‘cast’ umumnya direkomendasikan adanya fasa ferritik sekitar kurang dari 7%. Persentase ferrit yang kecil tersebut berfungsi untuk mencegah apa yang disebut dengan solidification cracking (retak pembekuan).

Jadi kesimpulannya, ada beberapa faktor penyebab sehingga austenitik stainless steel 316 bersifat magnetik dan untuk mencegahnya dapat dilakukan ‘solution annealing’ pada material yang bersifat magnetik tersebut supaya bersifat non-magnetik.

Untuk lebih jelasnya Bapak bisa merefer ke alamat dibawah ini:
http://www.assda.asn.au/asp/index.asp?pgid=18535

Demikian semoga informasi ini bermanfaat.

http://www.metal.ui.ac.id/cmpfa/introduction.html

Tanggapan 2 – andryansyah rivai

P.Win, lalu kalau kejadiannya seperti yang ditanyakan itu, apakah sebaiknya disc itu diterima atau tidak?

Saya juga ingin tahu, adakah produsen SS di Indonesia?

Tanggapan 3 – Winarto

Dear Pak Adryansyah,

Dari kasus tersebut, apakah produk tersebut diterima atau ditolak ? menurut saya perlu diuji lebih mendalam di laboratorium dengan mengacu pada spesifikasi standard yang berlaku untuk material disk tersebut apakah mengacu pada standard JIS, ASTM atau standard lainnya.

Pengujian yang sering dilakukan umumnya adalah:

Uji komposisi kimia, Uji metalografi (micro-structure), Uji kekerasan dan kekuatan tarik. Jika ada persyaratan didalam standard tsb untuk uji ketahanan korosinya, maka bisa dilakukan uji polarisasi untuk mendapatkan kurva polarisasinya.

Pengalaman di tempat kami di Lab Metalurgi UI, kustomer umumnya meminta Uji komposisi kimia dan metallografi bahkan SEM dan EDS, untuk menentukan apakah benar material tersebut masuk dalam spesifikasi 316. Uji SEM dan EDS umumnya untuk mengetahu apakah penyebaran struktur ferrite / martensit ada didalam matriksnya. Dari pengalaman uji komposisi kimia dengan specro-meter, rentang komposisi material yang diuji sering keluar dari spec-nya terutama unsur krom (Cr), Nickel (Ni) dan Molibdenumnya (Mo). Beberapa material yang menurut kustomer adalah tipe AISI 316, setelah diuji di lab ternyata hasilnya adalah type AISI 304, dimana keduanya sama-sama austenitik stainless steel namun kandungan Molibdenumnya sering tidak memenuhi syarat untuk tipe 316 (yaitu antara 2 s/d 3 % Mo). Apalagi kalau material tersebut hasil coran (casting), dimana komposisi bagian tengah dan pinggir terkadang agak berbeda.

Adapun produsen untuk stainless steel yang cabangnya ada di Indonesia, yang saya ketahui adalah PT. Avesta Polarit dan juga PT. Sandvik. Ada beberapa keagenan produk Asia seperti dari Cina, Korea dan juga Jepang.

Demikian semoga informasi ini bermanfaat.

Tanggapan 4 – andryansyah rivai

Jadi tidak bisa gampang saja ditolak, misalnya dengan alasan magnet bisa nempel? Lalu kalau produk itu sudah jadi dan tidak boleh/tidak bisa ‘digerogoti’ untuk diuji sampelnya, bagaimana?

Ttg produsen itu, maksud saya apa sudah diproduksi di Indonesia?

Sekali lagi terimaksih untuk bantuan penjelasannya.

Tanggapan 5 – qaqcptmeco

Saya hanya ingin menambahkan berdasarkan applikasi yang ada di lapangan.
Sekarang kita lihat case per case kalau equipment tersebut digunakan untuk industri makanan dan obat-obatan bahkan industri chemical jelas sekali material tersebut dikaji lebih dalam lagi. Lebih-lebih kalau material tersebut adalah Austenitic type 304 jelas harus ditolak dengan alas an material 304 akan lebih korosif dan life time equipment dari material tersebut akan lebih pendek daripada equipment yang menggunakan base material 316 diakibatkan corrosion rate dari material tersebut berbeda sekali. Biasanya untuk industri-industri yang telah saya sebutkan diatas costumer akan lebih selektif didalam memilih dan menggunakan base material tersebut. Dia akan menghitung seberapa besar % kah Ferrite Content yang terkandung dalam material itu (base Material 316). Apalagi kalau equipment tersebut mengalami suatu proses pengelasan. Sampai pernah ada salah satu Buyer mensyaratkan bahwa untuk consumable welding harus mempunyai persyaratan FERRITE CONTENTNYA 0 %. Padahal kalau kita amati dipasaran consumble welding hampir semua CONSUMABLE WELDING untuk type AUSTENITE ini dimasukkan unsure FERRITE oleh manufacture kawat las hal ini akan mencegah terjadinya HOT CRACK pada weld metal. Ditambah lagi dengan adanya proses cutting jika equipment tersebut mengalami cutting proses yang apabila tidak hati-hati dipinggiran hasil cutting tersebut sedikit banyak kalau kita analisakan dilab pasti akan ada unsur FERRITENYA.

Demikianlah HEAD LINE NEWS PAGI INI hanya sekadar tambahan. Dari seseorang yang merindukan akan kemakmuran di negeri ini.

Tanggapan 6 – DARMAYADI @adhireksa

Anda bisa hubungi PT.Metinca Prima Industrial Works

Telp : 021-4600828; 4616030 (Hunting )

Att; Bpk. Lenthis Perbawadi, Harun Nur Rasyid

Tanggapan 7 – Dirman Artib

Pak Adryansah,

Ada hal mendasar yg saya cermati dalam kasus anda ini.

Sebagai customer, pihak anda mungkin tidak menetapkan secara detail spesifikasi dari produk yang anda beli. Penetapan spesifikasi produk (Informasi pembelian) sangat penting artinya dalam sebuah proses pembelian. Sebaiknya spesifikasi mengacu kepada standard nasional/internasional yg sudah umum digunakan spt. ASTM, SNI, DIN, JIS atau industrial code lainnya yang applicable. Jelas anda bisa menambahkan karakteristik lainnya sesuai dengan selera dan kebutuhan, misalnya anda nyatakan bahwa warnanya harus merah, hijau dll. Hal ini bertujuan untuk penetapan standard keberterimaan produk tsb. dalam proses delivery nantinya. Apabila ada permasalahan maka antara anda dan supplier bisa kembali merujuk kepada standard ini. Masalahnya, banyak customer yang kurang paham menggunakan bahasa standard dalam merancang persyaratan pembelian produk, sehingga membuat bahasa standard sendiri. Terkadang ini tidak dipahami seluruhnya oleh supplier atau sang supplier sering salah interpretasi.

Sebagai supplier, hendaknya supplier juga menetapkan kembali spesifikasi produk yg sesuai dengan persyaratan standard yg telah anda tetapkan dalam penawarannya ‘quotation’. Ini tujuannya adalah untuk menegaskan kembali komitmen-nya dalam menyediakan produk sesuai permintaan anda di atas. Dalam hal customer tidak mempunyai pengetahuan yang cukup tentang fungsi/performance produk, atau ada hal-hal lain yang perlu dipersyaratkan dalam produk tsb. dalam hubungannya dengan fungsi/performance misalnya harus anti api, lebih efisien, dll. maka supplier boleh saja menawarkan spesifikasi tambahan . Bahkan supplier boleh saja menawarkan alternative-alternatif spesifikasi lain dalam penawarannya yang equivalent.
Contoh : ASTM XXX akan equivalent dengan JIS XXX.

Sebagai pihak pembeli anda harus melakukan tinjauan terhadap penawaran.

Apakah penawaran produk sudah sesuai dengan kebutuhan. Atau perlu tambahan Informasi lainnya.

Yang lebih-lebih penting lagi adalah proses anda menseleksi supplier. Tentunya anda perlu mencari Informasi terhadap kapabilitas supplier ini serta bagaimana supplier tsb. membuat, menguji menyimpan dan menjaga mutu produknya yg sesuai standard. Dalam artian anda melakukan penilaian terhadap keseluruhan Sistem Manajemen Mutu dalam perusahaan tersebut.

Pertanyaan yang menarik adalah :

Apakah standard keberterimaan yg anda gunakan sehingga melakukan pengujian produk hanya dengan cara menempeli magnet dan kemudian merejectnya ?

Saran saya, sebaiknya anda belajar dari supplier tsb tentang cara mereka memastikan bahwa produk tsb. adalah ASTM 316 L. Lakukan assessment terhadap metode ini dengan berpegang kepada Standard tsb. tentunya.

Tanggapan 8 – andryansyah rivai

P.Dirman, sebenarnya saya hanya tergelitik menanyakan masalah itu ke P.Winarto karena adanya jawaban yang diberikan berkaitan dengan masalah yang dihadapi seseorang, jadi bukan saya customernya.

Benar yang dikatakan P.Dirman. Hanya karena masalahnya sudah terjadi, bagaimna seharusnya, menerima atau tidak. SS ASTM 316L itu untuk casting khususnya, apakah wajar bila magnet bisa menempel?. Kalau wajar, apakah ada kerugian yang akan terjadi bila disc itu nantinya digunakan dalam operasi yang menghendaki persyaratan SS ASTM 316L?

Juga apakah P.Dirman tahu kalau di Indonesia sudah ada produsen SS?

Terimakasih.

Tanggapan 9 – Dirman Artib

Sepanjang pengalaman saya berhubungan dengan produk pompa centrifugal, maka casing pompa yg SS sudah diproduksi sendiri oleh perusahaan Indonesia dengan lokal konten 100% mengacu kepada standard JIS (ma’af lupa seri std-nya).

Tidak etis jika saya menyebutkan nama perusahaannya. Tapi bisa lewat Japri tentunya.