Ex artinya proteksi terhadap ledakan atau explosion proof (Ex) dan huruf d dibelakangnya adalah salah satu metoda proteksi yang lumayan populer, yaitu flame proof.
Ex d menggunakan proteksi yang mampu menahan tekanan dari dalam yang diakibatkan oleh ledakan dari campuran flammable gas ttt, melepaskan tekanan dari dalam ruang melalui suatu flame path seperti cover dan lubang2 si sekeliling baut. Makanya tidak heran, barangnya biasanya berat. Biasanya direkomendasikan di motor2 listrik, trafo, kapasitor, switch gear, control gear, dll (orang listrik lebih tahu nih..). dan kelas Exd ini katanya API 505 tidak direkomendasikan di zone 0 (menurut standard eropa). IIC asal muasalnya adalah menurut kode API 505/NEC/Eropa yang deal dengan gas seperti asetilen, H2, Etilen oksida, etc….Dan T6 adalah kode temperatur, yang baik menurut API RP 500 atau RP 505/NEC /dll dipakai untuk temperatur tidak lebih dari atau sama dgn 85 C. kalau ada T6, tentunya ada T1 s/d T5.

Tanya – novi zulemi

Selamat siang bapak2,

Mohon pencerahan mengenai kode untuk hazardous area, misalnya seperti kode EEx d IIC T6 apakah ini termasuk explosion proof?.

Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih

Tanggapan 1 – cahyo@migas-indonesia

Cuma tahu dikit ttg elektrical sewaktu CBTA (competency-based training assesment) di laut natuna dulu…

Ex kalau tidak salah artinya emang proteksi terhadap ledakan atau explosion proof (Ex) dan huruf d dibelakangnya adalah salah satu metoda proteksi yang lumayan populer, yaitu flame proof. Selain itu kalau tidak salah ada e, n, p, dll.

Ex d kalau tidak salah menggunakan proteksi yang mampu menahan tekanan dari dalam yang diakibatkan oleh ledakan dari campuran flammable gas ttt, melepaskan tekanan dari dalam ruang melalui suatu flame path seperti cover dan lubang2 si sekeliling baut. Makanya tidak heran, barangnya biasanya berat….tampangnya engga meriah pokoke..Biasanya direkomendasikan di motor2 listrik, trafo, kapasitor, switch gear, control gear, dll (orang listrik lebih tahu nih..). dan kelas Exd ini katanya API 505 tidak direkomendasikan di zone 0 (menurut standard eropa) .

Kalau IIC itu asal muasalnya adalah menurut kode API 505/NEC/Eropa yang deal dgn gas seperti asetilen, H2, Etilen oksida, etc….Dan T6 adalah kode temperatur, yang baik menurut API RP 500 atau RP 505/NEC /dll dipakai untuk temperatur tidak lebih dari atau sama dgn 85 C. kalau ada T6, tentunya ada T1 s/d T5.

Orang listrik mungkin lebih detil bisa memberi tahu anda.

Tanggapan 2 – feriansyah abubakar

Apa kabar Pak Cahyo? cuma nambahin sedikit, menurut reference yang saya punya; ‘EEx d IIC T6’ artinya:

‘E’ : alat tersebut di sertifikasi oleh CENELEC (Standard Eropa).

‘Ex’ : Explosion Protected (Explosion proof) ‘d’ : Protection concept yang digunakan adalah ‘Flame Proof’, artinya kalo enggak salah apabila terjadi ledakan didalam enclosure dari alat tersebut, maka energy panas yang timbul tidak akan keluar dari enclosure tersebut. ‘IIC’: Ini adalah klasifikasi jenis gas, kalo IIC artinya peralatan tsb. dapat digunakan unruk daerah dimana terdapat gas ‘Acetylene’ atau ‘Hydrogen’. ‘T6’: ini adalah klasifikasi temperatur, artinya maximum surface temperature adalah 85 Derajat Celcius.

Kebeneran saya punya chart untuk peralatan ‘explosion proof’, kalo ada yang berminat silahkan, tapi lumayan gede approx. 1.8 MB ajdi lewat Japri aja.

Tanggapan 3 – Crootth Crootth

Mas Feriansyah,

Harap hati hati dengan T6 ini, T6 ini disamakan dengan 85 degC untuk kondisi ambient temperature 40degC, untuk daerah teluk dan timur tengah, revisi perlu dilakukan karena temperatur di sana kadang bisa mencapai 50 degC; sebaliknya saya belum menemukan literatur yang membahas tentang kondidi T6 di daerah siberia misalnya yang dapat mencapai -50 degC.

Tanggapan 4 – feriansyah abubakar

Terima kasih atas masukan anda, pak anda benar sekali 85 deg C itu memang untuk ambient temp. 40 C. apakah bapak punya referensi lain untuk menentukan max surface temp, bila ambient temp tidak 40 deg. C?

Tanggapan 5 – Dirman Artib@amec

Saat codes/standard kurang cukup dalam menyediakan informasi saya memandang bahwa di sinilah perlunya ‘Engineering Judgment’ yanf disandarkan kepada pengetahuan, pengalaman dan skill seorang engineer dalam melahirkan hasil analysis tentu saja bisa dilakukan dengan berbagai approach e.g. Risk Analysis, Cost and Benefit Analysis, dll.

Tanggapan 6 – Crootth Crootth

Betul sekalil Mas Dirman..

Se-prescriptive prescriptivenya sebuah standard, standar (atau recommended practice) memberi ‘ruang’ bagi ‘engineering judgment’ dan ini sangat umum saya lihat di semua standard prescriptive… tak terkecuali API 500 dan API 550 yang membicarakan hal ini.
Jadi kesimpulannya, user diberi keleluasaan untuk menentukan sendiri andai kata suhu ambien tidak 40 degC.