Umumnya TLP tidak menggunakan Dynamic Positioning System seperti pada semi submersible. TLP didesain dgn lifespan 20-30 th, dipasang pada sebuah field secara permanen. Pondasi berupa concrete piles. Misal utk Ursa TLP, menggunakan 16 piles untuk 16 tendon dgn diameter tiap pile 96′ (2,400mm) dan total berat piles 16,000 ton.

Tanya – Gde Pradnyana

Pak Swastioko, Maaf terlambat respon, satu minggu ini saya diluar kota.

Saya gembira melihat mulai banyaknya peminat diskusi tentang TLP. Ini penting karena dengan mulainya Indonesia memasuki era produksi di laut dalammaka kita akan mulai berkenalan dengan fasilitas produksi yg ‘aneh-aneh’ (TLP, Spar, dsb). Dimana, harapan saya, kita tidak boleh hanya sekedar jadi penonton saja. Tapi harus ikut berpartisipasi dalam proyek-proyek tersebut.

OK, dalam konteks materi yang ditanyakan, ringkasnya saya jawab sbb: Kaki (leg) dari TLP harus selalu dalam keadaan tension. Karena itu pondasi TLP tentunya harus dirancang untuk menahan beban tarik akibat gaya buoyancy. Jadi beda dengan pondasi jacket atau jack-up yang dirancang untuk menahan beban tekan (akibat berat struktur dan topside). Karena itu kalau prinsipnya mirip seperti cara anda menahan agar balon udara tidak terbang, yaitu bisa pakai pemberat atau ‘tali’-nya ‘dipaku’ (dipancang) ke dalam tanah.

‘Tali’ (lebih dikenal dengan istilah ‘tether’) selain harus didesain agar mampu menahan tension, juga harus ringan dan kalau bisa malah harus ‘ngapung’ agar tidak justru ‘menggelendoti’ TLP tsb. Caranya, ya jangan pakai sling atau wire rope. Pakailah pipa yang cukup besar agar buoyancy-nya lebih besar dari beratnya. Dalam aplikasi lain (misalnya untuk Spar), yang dipakai malah Kevlar (sejenis tali nilon yang ringan tapi kuat). Memakai pipa besar memang menguntungkan dari segi menambah buoyancy, tapi merugikan karena menambah beban lateral akibat gelombang, arus, dsb. Jadi harus dipilih diameter yang optimum. Pipa tsb, biasanya berdiameter antara 30 s/d 70 inch, memang tampak kaku. Namun kalau panjang (misalnya) 1 km (atau lebih) maka tak ubahnya seperti benang, sangat flexible, jadi tidak dapat menahan beban lateral. Tether ini bekerja, seperti disampaikan diatas, mirip tali penahan balon udara. Kalau balon saya dorong memang bergeser, tapi setelah dorongan saya lepas, akan kembali ke posisi semula. TLP juga demikian, dia biasanya (dalam kondisi storm) dapat mengalami offset hingga 10% thd depth. Jadi pada laut 1000m, maka offset bisa mencapai 100meter!!!
Do you feel it? No, karena yang terasa (kalau naik kapal) adalah gerakan vertical. Sedangkan TLP sangat kaku dalam arah vertical, seperti halnya perilaku benang tadi.

Hal lain, pada kedalaman 1000meter, tekanan hidrostatik akan sangat besar dan pipa-tether tidak boleh buckle atau fail, jadi criteria pipa tsb sangat ketat, selain high strength (dulu dipakai ultra high strength steel, sekarang sudah berani pakai mild steel), harus tipis (agar ringan) tapi tahan thd water pressure, tahan korosi, defect free (karena itu antar joint tidak di-las, tapi disambung spt halnya drill-string). Once the leg flooded (akibat korosi atau damage), maka harus diganti.

OK, mudah-mudahan penjelasan diatas dapat memberi manfaat.

Tanggapan 1 – Didik Setya@rekayasa

Menarik dan mengena sekali penjelasan dari Pak Gde Pradnyana. Ada beberapa hal lagi yang pengen saya tanyakan ke Pak Gde dan Rekan Milist Migas (semoga tidak bosan menjawab) mengenai :

1. Apakah di TLP ini juga menggunakan system ‘Dynamic Position’, seperti yang digunakan di structure SSM (Semi Submersible) dimana system ini dikontrol by computer untuk mengatur dan mempertahankan structure tetap pada posisinya? —–>> Mohon dikoreksi kalau salah.

2. Bagaimana sistem pemancangan pondasinya? Apakah bedanya dengan sistem di Jack-Up atau di Jacket Platform? Mungkin Bapak bisa kasih penjelasan beda pemancangan pondasi antara di TLP, Jack-up, ataupun Jacket Platform.

3. Untuk proses Instalasi TLP yang notabene adalah structure untuk laut dalam, bagaimana metode instalasi pondasi yang digunakan?
Mohon pencerahannya. Terima kasih

Tanggapan 2 – slamet

Umumnya TLP tidak menggunakan Dynamic Positioning System seperti pada semi submersible. TLP didesain dgn lifespan 20-30 th, dipasang pada sebuah field secara permanen. Pondasi berupa concrete piles. Misal utk Ursa TLP, menggunakan 16 piles untuk 16 tendon dgn diameter tiap pile 96′ (2,400mm) dan total berat piles 16,000 ton.

Jack-up rig memiliki 3-4 kaki, pondasi menggunakan mat yg dilengkapi ballast system. Pada waktu transportasi, mat ini dikosongkan sehingga naik ke atas / mengapung. Setelah tiba di field, mat diisi ballast dan tenggelam ke sea bed. Hull pontoon dapat diajust ke atas water level dengan hydraulic jack-up system. Dalam dekade terakhir, 60% jack-up rig yg ada di dunia dibangun oleh Singapore (Keppel & Sembawang).

Pekerjaan pondasi dasar laut ini biasa dikerjakan oleh Saipem, Hereema, Ballast Nedham dll. Mungkin diantara milister ada yg bisa ngasih pencerahan lebih.

Mohon koreksi jika ada kesalahan.

Pembahasan selengkapnya dapat dilihat dalam file berikut: