Prinsip kerja optical pyrometer adalah membandingkan intensitas cahaya
dari cahaya yang diterima dengan cahaya dari lampu yang ada didalam unit, maka
kalibrasi diperlukan untuk setiap range temperatur. Kelemahan yang utama adalah
apabila warna target putih atau cenderung terang seperti batu tahan api maka
diperlukan konpensasi temperatur karena akurasi maksimal pyrometer ini pada
sampel target yang berwarna hitam.

Tanya – Heru Prasetyo Utomo

Dengan Hormat,

Mohon kiranya kepada saya dapat diberikan informasi mengenai optical
pyrometer dengan output 4-20 mA. Mohon juga diinformasikan sekiranya ada
agennya di Indonesia.
Terima kasih atas segala perhatian dan bantuannya.

Tanggapan 1 – Albert Marihot

Dear All..

Saya membutuhkan informasi mengenai pemilihan, pengoperasian serta produk
Optical Pyrometer yang ada di pasaran. Mohon bantuan member yang punya
pengalaman atau informasi mengenai peralatan tersebut.
Terimakasih sebelumnya.

Tanggapan 2 – Edy Pujiantoro

Bapak-bapak yth,

Saya minta opini bapak-bapak n rekan-rekan tentang
kelemahan-kelemahan atau kelebihan-kelebihannya
menggunakan optical pyrometer dibandingkan ceramic
thermocouple untuk mengukur refractory pada reaction
furnace SRU yang temperaturnya mencapai 1460oC.

Terima kasih atas sarannya.

Tanggapan 3 – mas jaya

Untuk pengukuran temperatur dengan metode non-contact seperti optical pyrometer
hasil pengukuran bergantung kepada :

1. Target temperature range.

2. Target material.

3. Target size.

4. Target distance.

5. Interfering gases.

6. Ambient temperature.

karena prinsip kerja optical pyrometer adalah membandingkan intensitas cahaya
dari cahaya yang diterima dengan cahaya dari lampu yang ada didalam unit, maka
kalibrasi diperlukan untuk setiap range temperatur. Kelemahan yang utama adalah
apabila warna target putih atau cenderung terang seperti batu tahan api maka
diperlukan konpensasi temperatur karena akurasi maksimal pyrometer ini pada
sampel target yang berwarna hitam.

sumber : http://www.pyrometer.com

Tanggapan 4 – rudy-subagio

Dear Pak Eddy,

Menurut pengalaman saya untuk mengukur temperatur refractory keduanya bisa
digunakan, perbedaanya adalah :

<> Ceramic TC biasanya untuk pengukuran yang permanen sedangkan Optical
Pyrometer untuk pengukuran periodik / portable

<> Opt. Pyrometer biasanya digunakan untuk mengukur temperatur yang sangat
tinggi -misal. Crown furnace
dan bisa langsung mengukur temperatur surface / point yang kita
inginkan, untuk mencari posisi dimana max. temperatur terjadi.
TC : biasanya untuk mengukur temperatur dalam refractory, contoh untuk
mengukur temperatur Crown atau bottom furnace, posisi yang akan kita ukur
kita lubangi / sediakan gap tapi tidak sampai tembus ke permukaan dalam.
biasanya TC untuk mengontrol ‘operation temperatur / tren’ karena sifatnya
yang permanen.
Opt. Pyrometer bisanya untuk mengontrol temp. refractory yang dijinkan.

BTW, Furnace ini digunakan untuk apa, dan jenis refraktori yang utama apa ?

Tanggapan 5 – Eddy Pujiantoro

Pak Rudy,

Terimakasih atas penjelasannya, mengenai data-data yang
bapak minta sebagai berikut:
Optical pyrometer yang akan digunakan untuk reaction
furnace modified-claus process ini dipasang permanen
(bukan tipe portable). Pada saat start up temperatur
sampai 500oC digunakan thermocouple, setelah temperatur
lebih dari 500oC baru digunakan optical pyrometer. Agar
tidak terjadi misalignment digunakan engsel dan pengunci.

Furnace ini digunakan untuk Sulfur Recovery Unit reaction
furnace modified-claus process.

Jenis refractory yang utama adalah Alumina Chrome Bricks
dengan komposisi Al₂O₃ :88%,
Fe₂O₃: 0.2% dan Cr₂O₃ :5%