Kriteria pertama dan utama untuk menentukan ketinggian flare stack adalah batas maksimum radiasi yang diijinkan baik di ground level maupun di titik2 tertentu di sekitar flare stack. Hal ini tergantung dari masing2 operator dan tentunya lokasi flare stack. Ada yang membatasi maximum allowable radiation at ground level 3000 btu/hr.ft2 terutama apabila lokasi flare stack di daerah remote area jauh dari penduduk dan plant. Ada juga yang menentukan 500 btu/hr.ft2 terutama apabila lokasi flare stack dekat dengan plantnya.
FYI : solar radiation ( radiasi sinar matahari pada saat terik) kira2 250 – 300 btu/hr.ft2.

Tanya – Andrew G

Dear rekan-rekan Milis Migas,

Saya ingin bertanya kepada rekan rekan tentang Flare Stack untuk gas bumi. Terus terang saya buta tentang hal tersebut. Pertanyaan saya antara lain:

a. Komponen-komponen yang ada dalam sebuah flare stack itu apa saja ya? Apakah ada yang dapat menjelaskan dengan gambar-gambar?

b. Tinggi minimal sebuah flare stack biasanya berapa dan hal-hal apa saja yang mempengaruhi ketinggian sebuah flare stack?

Mohon kiranya tanggapan dari rekan-rekan mengenai pertanyaan saya di atas.
Terima kasih atas tanggapannya.

Tanggapan 1 – Ginting Simeon

Pak Erwin,

Untuk pertanyaan no 2 :

Kriteria pertama dan utama untuk menentukan ketinggian flare stack adalah batas maksimum radiasi yang diijinkan baik di ground level maupun di titik2 tertentu di sekitar flare stack. Hal ini tergantung dari masing2 operator dan tentunya lokasi flare stack. Ada yang membatasi maximum allowable radiation at ground level 3000 btu/hr.ft2 terutama apabila lokasi flare stack di daerah remote area jauh dari penduduk dan plant. Ada juga yang menentukan 500 btu/hr.ft2 terutama apabila lokasi flare stack dekat dengan plantnya.
FYI : solar radiation ( radiasi sinar matahari pada saat terik) kira2 250 – 300 btu/hr.ft2.

Tanggapan 2 – Punjung Sasmito

Flare??

ayo bung bertapa dulu bareng eyang API 521…..InsyaAllah ada semua jawabannya….
belajar juga dari software pakdhe Flaresim ato Flares…..
……..InsyaAllah……..pasti langsung tok cheerrr…….

Tanggapan 3 – gideon#compressor-flare

Sebagai tambahan informasi yang sudah disampaikan bang Simeon, bahwa sekarang faktor dispersi/polusi juga perlu dikalkulasi sehingga akan ikut menentukan ketinggian minimum dari flare stack. Ini bisa disimulasikan sehingga tampak distribusi dispersi gas racun sisa pembakaran yang keluar dari flare dan tertiup angin, terutama kalau flare terpasang di dareah pemukiman penduduk. ada beberapa batasan konsentrasi polutan maksimum terhadap jenis polutan tertentu (misalkan SO2 +- 21 ppmv, NOx +- 110 ppmv, dll.) atau sesuai dengan acuan peraturan yang berlaku di masing2 daerah/negara.

Tanggapan 4 – harry alfiyan

Selain allowable heat radiation dan dispersi polutant, ketinggian flare stack juga memperhitungkan pengaruh noise atau istilah lainnya accoustic impact. Sebagai sumber lain untuk belajar adalah API 537 yang juga memaparkan secara gamblang mengenai flare dan lebih aplikatif.

Btw, maksimum allowable heat radiation sampai 3000 Btu/scft itu berdasarkan standar apa yach ?
Karena jika ditinjau dari sisi lingkungan berdasarkan EPA/452/B-02 Section 3.2 tentang VOC Destruction Controls itu hanya memperbolehkan 1500-2000 Btu/Scft pada kondisi maksimum flow rate dan area yang sangat terbatas dimana personil yang bekerja disekitar flare tersebut harus dilengkapi dengan alat pelindung diri yang lengkap.

Tanggapan 5 – Ginting Simeon

Benar seperti yang disebutkan mas Gideon. Sesuai dengan perkembangan kepedulian lingkungan, belakangan ini faktor dispersi/polusi juga sudah dimasukkan kedalam kriteria ketinggian flare stack. Beberapa proyek sudah memasukkan data2 maximum ground level emission, sehingga untuk membatasi emisi gas2 polutan tertentu di ground level, larinya ya dengan menambah ketinggian flare stack.

Beberapa kriteria lainnya adalah :

– ketinggian maksimum flare stack dibatasi pada ketinggian tertentu karena daerahnya dekat dengan area lintasan pesawat/dekat dengan bandara.

– ada juga kasus dimana nyala/intensitas api yang timbul mempengaruhi tanaman produksi penduduk sekitar sehingga harus mempertimbangkan type enclosed ground flare.

Tanggapan 6 – iwan saputra

Saya mau menambahkan sedikit disamping mengenai ketinggian dari flare stack, juga diperhatikan hazardous areanya.
Dan Biasanya setiap Client punya guide line mengenai lokasi flare stack. Dan mungkin di onshore atau di offshore perlakuannya berbeda mengenai lokasi flare stack.

Dulu pernah saya mendesign lokasi flare stack dimana jarak dari equipment terdekat dengan opened flare stack adalah 200 feet dan kalau Open Vent Stack adalah minimal 50 feet. dan juga diperhatikan mengenai routing piping, ada stresskah pada pipingnya.

Kalau ingin tahu lebih banyak mengenai flare stack, disamping dari milis migas juga sering-sering search di Internet lah.

Maaf bila apa yang saya sampaikan tidak sesuai dengan pertanyaan.

Tanggapan 7 – Ginting Simeon

Mas Iwan,

Pengertian hazardous area untuk flare stack ini kadang2 jadi perdebatan.
Kalau kita bicara mengenai blower + elmot (kalau ada), ignition panel ataupun instrument2 pendukung lainnya untuk flare stack, memang persyaratan untuk hazard area sudah benar. Bagaimana untuk flare stack dan flare tipnya sendiri? apakah syarat hazard area berlaku? Seharusnya syarat hazard area tidak berlaku untuk flare stack dan flare tip.

Secara sederhana, pengertian hazardous area adalah area yang flamable, sehingga semua equipment tidak boleh menjadi sumber percikan api. Nah… di flare tip, justru apinya sudah menyala..

Silahkan di tanggapi.

Tanggapan 8 – iwan saputra

Mas Ginting,

Sepanjang yang saya tahu untuk equipment spacing antara flare stack location dengan equipment lain yach segitu itu 200 ft.
Tapi kalau flare stack nya dan flare tipnya hanya terdiam dan membisu tidak ada actifitas yang berlaku (tidak berfungsi dan tanpa system) , tentunya tidak ada persyaratan khusus.
Bilamana digunakan berlakulah 200 ft itu.
Itu sepanjang yang saya tahu yach..

Maaf saya hanya tahu kulitnya doang untuk masalah Flare Stack.

Tanggapan 9 – Ginting Simeon

Kalau menurut saya sih, lokasi flare stack itu ya tergantung space yang tersedia Pak. Tidak mesti jaraknya 200 ft. Bisa saja lebih dekat. Tinggal nantinya ditentukan berapa maximum radiation yang diijinkan untuk titik terdekat di equipment terdekat dengan flare stack. Larinya nanti ya ke disain ketinggian flare stack nya. Atau kalau spacenya benar2 terbatas dan pertimbangan lainnya, pilihannya ke enclosed ground flare.

Tanggapan 10 – iwan saputra

Mungkin ada benarnya juga pandangan anda.

Tapi biasa yang kami pake untuk opened flare stack jaraknya yach segitu itu dari equipment lainnya. Dan sepanjang saya lihat dari flare stack yang ada yach jaraknya segitu itu.
kalau dibanding kan dengan tinggi dan space yang ada yach saya rasa bukan solusi.
Kalau anda main-main ke Bontang lihat Flare Stack nya PT Badak NGL Co. itu setinggi minta ampun deh. dan itu jarak dari flare stack dengan equipment lain dan jalan sekitar minimal 200 FT atau lebih. Tapi kalau ditempat project saya sekarang yach sekitar 200 ft.

Intinya, kalau itu semua tergantung specification dari client , setiap operator migas mempunyai specification tersendiri dan kadang tidak sama dengan operator lainnya.
Misalnya PT Badak Spec, PT CPI Spec, Conoco Spec dll. tentunya syarat mengenai jarak flare stack dengan equipment lannya tentunya berbeda.

Pandangan saya mengenai opened flare stack location, itu tergantung dari client specification. kalau untuk dari standard flare stacknya sendiri saya belum pernah lihat mengenai jarak yang diijinkan .

Kalau mengenai enclosed ground flare, saya belum berani comment, tapi dulu sewaktu saya design lokasinya saya mengacu ke 200 ft. tapi akhirnya ganti ke opened flare.

Sorry mas, saya hanya tahu kulitnya saja. mungkin ada teman lain yang bisa menambahkan.

Tanggapan 11 – Akh. Munawir

Basic of Flare Stack Design, saya rasa tergantung dari Hazard Skenario-nya.

e.g. ‘Hazard of Heat Radiation Calculation Vs Distance of …???’ can be depend on :

1. Human/Operator at Plant.

2. Dangerous Equipment or Process.

3. Public Resident.

4. Other Hazard and etc.

Tanggapan 12 – Ginting Simeon

Saya juga cuma mengerti sedikit kok mas. Namanya juga milis kita tempat saling tukar pengetahuan dan pengalaman.

Tetapi yang mas sebutkan dibawah memang benar. Lokasi flare stack yang menentukan ya clientnya. Masalah jaraknya dekat atau jauh ya itu urusan client. Vendor biasanya mendisain ketinggian stacknya hanya berdasarkan batas max. radiasi dan emisi yang sudah ditentukan.

Secara umum, enclosed ground flare dipilih dengan pertimbangan salah satu atau kombinasi berikut : radiasi di sekitar flare harus kecil, tidak kelihatan apinya, tidak bersuara. Yang jelas, perbedaan paling nyata dari enclosed ground flare dengan open flare -elevated maupun ground, adalah harga/cost. EGF jauh lebih mahal dibandingkan open flare.

Saya kira pertimbangan Bapak waktu itu mungkin dari sisi ekonomisnya, karena bapak masih punya space yang cukup (radius 200 ft).

Tanggapan 13 – gideon#kotaminyak

Sama seperti apa yang sudah disampaikan bang Simeon, bahwa tidak ada batasan 200 ft jarak flare. Semuanya bisa dianalisa, dari sisi safety (hazardous area), radiasi, noise, polusi, cost, maintenance, lingkungan… Beberapa flare yang sudah kami bikin malah jaraknya cuma beberapa meter saja dari KO drum yang wilayah class I div 2. Begitu juga dengan enclosed ground flare.
Disinilah perlunya analisa design flare. Design memang mengacu pada standard design (misalkan API RP 521), tetapi juga mengacu pada spesifikasi dari perusahaan pengguna flare, sehingga ada kemungkinan terjadi deviasi di beberapa kriteria. Untuk industri gas terutama gas ringan yg mudah terbakar (misalkan di Badak, dll) akan menggunakan flare stack yang tinggi2, mengingat efek dispersi gas oleh tiupan angin apabila terjadi kebocoran gas. Dalam hal ini bisa terlihat bahwa lingkungan/safety juga pengaruh terhadap kalkulasi tinggi flare. Lebih tinggi dan jarak lebih jauh dari hasil analisis radiasi,noise, dll.

Elevated flare stack punya kelebihan dan kekurangan dibandingkan enclosed ground flare:

– secara umum lebih murah (meskipun bisa lebih mahal), tergantung design & materialnya

– maintenance pilot ignitor lebih sulit

– perlu area kosong yang lebih luas

– kurang tahan terhadap cuaca buruk

– instrumentasi & control systemnya lebih sederhana

– dll.