Untuk mendesain jangkauan atau radius crane di kondisi Dynamic ini yang perlu kita perhatikan adalah : 1. Supply vessel approach direction ke platform. Apakah dari arah barat,selatan,dsb. Pd umumnya supply vessel approach adalah pd sisi kita melokasikan pedestal crane (utk meminimalkan radius crane); 2. Jarak supply vessel dari crane pd saat load transfer. Pd umumnya saat mlakukan transfer material supply vessel tidak akan menempel di boat landing seperti saat akan melakukan personnel landing ke platform. Namun supply vessel akan berada dlm jarak tertentu dr platform,ini utk menghindari slam (hantaman) pd platform terutama saat kondisi wave & wind yg tdk mendukung. Jarak minimum saat transfer ini hrs dkonsultasikan ke Owner atau Operator brdasarkan analisa wave,wind,etc dan bs me-refer ke existing facilities; 3. Jenis supply vessel yg akan dipakai utk load transfer. Ini sesuai yang dijelaskan pak Indratmo sblmnya. Dan data ini bs jg dikonsultasikan ke Owner atau Operator. Termasuk dimensi dan layout vessel (lokasi tempat material akn diletakkan di vessel). Dari 3 parameter tadi bisa kita dapatkan minimum dynamic lifting radius yg diperlukan untuk crane yg kt desain.

Tanya – muhammad rifai

Salam kepada semua milist migas,

Saya baru belajar untuk handling pada sebuah platform
salah satu poin yang masih saya cari tapi blom ketemu adalah untuk menentukan jarak dari pedestal crane ke supply vessel. Mohon sharenya, bagaimana cara menentukan jarak tersebut… apa dipengaruhi jenis kapalnya atau gimana. Terima kasih.

Tanggapan 1 – Arif Trihariyadi

CMIIW: Saya kira bukan jenis kapalnya, tapi SWL dan radius cranenya, serta beban terberat yang harus diangkat dari supply vessel yang berpengaruh.

Terima kasih,

Tanggapan 2 – muhammad rifai

Yang penen dicari cara nentuin radius cranenya.

Tanggapan 3 – Teguh Santoso

Saya setuju, bukan jenis kapalnya tetapi justru jangkauan crane untuk keperluan pengangkatan equipment yang ada di platform itu sendiri. Jadi setiap equipment di atas platform dapat terjangkau oleh crane tsb. Kalau satu crane tidak cukup untuk satu platform karena luasnya maka diperlukan crane kedua, dst dst. Jadi radiusnya justru ditentukan oleh keperluan untuk menjangkau equipment yang ada di platform.. biasanya crane satu dengan lainnya ada intersection radius (ada bidang yang bisa dijangkau oleh kedua crane tsb).

Tanggapan 4 – Dy Prabowo

Betul menurut rekan2 yang penting adalah crane radius, angle crane vs capacity. Tapi mungkin yg dimaksud pak Rivai adalah size atau ukuran dari supply vessel, artinya kalo supply vessel ukurannya besar tonnage-nya, maka mungkin diperlukan platform crane yang lebih jauh radiusnya dibandingkan dengan kalo menggunakan supply vessel yang kecil.

Tentunya handling seperti ini harus benar2 diperhitungkan sehingga supply vessel yg digunakan sesuai dg platform crane yg ada, makanya ada material handling study.

Tanggapan 5 – muhammad rifai

Terima kasih kepada semua termasuk yang japri,

Maklum pak, saya nih belum pernah berada di platform apalagi ketika ada kapal berlabuh di platform ketika loading unloading.

Logika saya juga bilang, selain masalah keekonomian, jangkauan di platform sampai apasaja yang mesti diangkat, juga keterbatasan platform itu sendiri. satu yang belum masuk dalam angan angan saya, yaitu ketika crane itu hendak mentransfer dari atau ke kapal. ketika kapal itu berlabuh, benda yang mau diangkat (misal pompa).
Sekarang kalau pompa sudah bisa diraih dari platform, tinggal kemana pompa mau ditaruh… itu yang belum ada gambaran di angan angan saya… apa benda itu mesti ditaruh ditengah kapal, atau bisa dipinggiiiir sekali (sehingga jarak 3 atau 4 meter cukup) atau bagaimana… trus apakah kapal itu bisa berlabuh nempel dengan platform (kayak prangko) atau mesti ada jarak (1 ato 2 meter lah)… beberapa yang saya tanyai… berestimasi… dan ber biasanya… jadi estimasinya blom pakai dasar yang cukup dimengerti.

Mungkin bagi ABK, pertanyaan ini mudah, tapi bagi saya yang hanya pernah di fabrikasi dan epc, nggak kebayang sama sekali… wong bentuk kapal yang dipakai untuk ngirim barang ke platform aja blom ada bayangan…

Jadi, mohon bagi para pekerja offshore bisa kasih gambaran.

Terima kasih

Tanggapan 6 – Indratmo Jaring Prasojo

Pak/Mas Rifai,

Mau menanggapi tentang kapal yang ‘nempel’ ke platform.

Sependek yang saya tahu dan pernah alami serta pernah lihat sendiri, ada beberapa jenis kapal yang beroperasi di sekitar platform, those are crew boat (untuk antar jemput passangers), LCT (biasanya untuk angkat material (bisa welding machine, material boxes, dan sejenisnya), crane barge (untuk lifting/installation purpose, terutama yang memiliki ukuran dan berat yang besar), material barge (biasanya untuk membawa material yang akan di-install dengan crane barge tadi), stand by boat (bisa tug boat ato lainnya, yang memiliki fungsi musti stand by pada saat ada orang yang bekerja di platform, disini diasumsikan sbg unmanned platform).

Mengenai pertanyaan berapa meter dari platform, bisa ato tidak nempel tepat di platform bisa dijabarkan dengan melibatkan beberapa parameter. Seperti kondisi gelombang, angin, current pada saat itu, bisa juga memperhitungkan radius crane yang akan meng-install sesuatu di existing platform tersebut.

Bila kondisi gelombang (dan environmental condition lainnya) sedang calm, crew boat bisa saja menempel ke landing boat (salah satu bagian platform untuk akses POB dari dan ke crew boat). Untuk bisa menempel ke landing boat tersebut, biasanya memanfaatkan dorongan mesin dari crew boat tersebut. Dalam kondisi seperti ini passenger tinggal ‘melangkahkan kaki’ saja kalo mau nyebrang dari ato ke platform. Akan berbeda kondisinya bila laut sedang ‘bergejolak’. Boat driver akan mengambil jarak 1-3 meter antara landing boat dengan crew boat, lalu passanger akan menyeberang menggunakan jump rope, ga beda jauh kaya di film Tarzan J

Jarak dari boat ke platform bisa juga ditentukan sekian meter karena lifting purpose. Misal, akan melakukan instalasi sebuah material (yg terletak di material barge) menggunakan crane barge. Maka, jarak antara platform dengan crane barge (dan atau platform dan material barge) akan ditentukan dengan lifting radius crane yg berada di crane barge tersebut sehingga lifting purpose akan tercapai.

Tanggapan mengenai perletakan pompa pada saat lifting (refer ke contoh yang Pak/Mas Rifai contohkan di email di bawah).

Seperti aktifitas lain yang dilakukan di offshore area. Lifting pun akan memakan biaya yang sangat mahal (compared with lifting di onshore). Kita musti memperhitungkan biaya rental crane, boat, dan marine spread lainnya. Untuk itu, pada saat melakukan lifting sudah bisa dipastikan akan dilakukan briefing terlebih dahulu, safety briefing dan technical briefing. Dalam briefing tersebut akan dijelaskan peran masing2 personnel dalam aktivitas lifting tersebut dan sudah ditetapkan juga barang A akan ditaruh mana, begitu juga barang B, C, dan seterusnya. Jadi sangat mustahal sekali barang sudah dalam posisi lifting baru ditentukan mau ditaruh mana barang tersebut.

Tanggapan 7 – irwan.satria

Mas Rifai,

As additional dari yg sudah dsampaikan Pak Indratmo.
Mungkin yg mau didiskusikan oleh mas Rifai ini adalah brkenaan dengan lifting crane di offshore platform (pedestal crane) dari atas platform ke supply vessel (bisa tug boat,LCT,barge etc) di sekitar platform dan sbaliknya,dlm hal ini yg dkenal dengan DYNAMIC LIFTING. Dan bukan STATIC LIFTING di atas platform. CMIIW.
Sepanjang pengetahuan saya,utk mendesain jangkauan atau radius crane di kondisi Dynamic ini yg perlu kt perhatikan adalah :

1. Supply vessel approach direction ke platform. Apakah dari arah barat,selatan,dsb. Pd umumnya supply vessel approach adalah pd sisi kita melokasikan pedestal crane (utk meminimalkan radius crane).

2. Jarak supply vessel dari crane pd saat load transfer. Pd umumnya saat mlakukan transfer material supply vessel tidak akan menempel di boat landing seperti saat akan melakukan personnel landing ke platform. Namun supply vessel akan berada dlm jarak tertentu dr platform,ini utk menghindari slam (hantaman) pd platform terutama saat kondisi wave & wind yg tdk mendukung. Jarak minimum saat transfer ini hrs dkonsultasikan ke Owner atau Operator brdasarkan analisa wave,wind,etc dan bs me-refer ke existing facilities.

3. Jenis supply vessel yg akan dipakai utk load transfer. Ini sesuai yang dijelaskan pak Indratmo sblmnya. Dan data ini bs jg dikonsultasikan ke Owner atau Operator. Termasuk dimensi dan layout vessel (lokasi tempat material akn diletakkan di vessel).

Dari 3 parameter td bisa kita dapatkan minimum dynamic lifting radius yg diperlukan untuk crane yg kt desain.
Sbg catatan for Dynamic Lifting ada faktor2 di API 2C yg harus di consider utk mengoptimalkan desain pedestal crane kita.
Mudah2an bisa membantu dan mohon dikoreksi jk ada yg kurang tepat.

Tanggapan 8 – Yusuf, Muhammad

Saya hanya menegaskan info dari mas Irwan Satria yang saya rasa cukup tepat:

– Untuk study awal, silakan mas Rifai check dulu lokasi & jenis/dimensi
supply vessel tersebut terhadap posisi platformnya. (apalagi biasanya boatlanding tidak mengakomodasi beban dari supply vessel )

– Selanjutnya, silakan coba lihat di katalog2 crane pedestal yang akan dipakai agar tahu tipe2 crane dan radius maksimum yang bisa di jangkau, sehingga bisa diverifikasi lokasi pedestal crane tersebut

– lalu, koordinasi lokasi dari barang2 tersebut, clearance, dan sebagainya dengan operation team di Owner/Company.

– setelah ketemu lokasinya, harap struktur dari platform harus diverifikasi juga terhadap beban pedestal crane tersebut.

– Selanjutnya mengenai beban yang akan diangkat oleh crane tersebut juga harus diverifikasi, karena biasanya ada derating (pengurangan) kapasitas crane terhadap radius crane tersebut.

– Silakan juga koordinasi dengan operation team mengenai barang2 apa saja yang biasanya akan di transfer menggunakan crane dari dan menuju supply vessel, dan maksimal dan ukurannya dimensinya seberapa besar?

– silakan periksa kembali crane chart capacity versus radius, dengan mempertimbangkan beban dynamic factor terhadap beban dan rigging (sling/shackle).

Jika hal diatas anda lakukan langkah diatas seperti trial and error check untuk preliminary design,
Anda akan memperoleh hasil yang optimal antara, jarak jangkauan dan batas maksimum beban yang akan diangkat sesuai dengan kebutuhan yang dari operation / maintenance yang ada di platform anda.

Tanggapan 9 – Alvin Alfiyansyah

Info dari Yusuf sangat baik, cuma tambahan saran jika diperlukan setelah design dan radius crane telah ditentukan supaya lifting bisa optimal di platform yang dimaksud adalah melakukan drop object analysis untuk menentukan bahaya2 sangat pengangkatan vs maximum load ketika dynamic lifting maupun static lifting, bahaya dari production ketika adanya pengangkatan kemudian bagaimana design boom rest, design hatch jika utk platform bertingkat, bagaimana bahaya dan mitigasi saat inspection/maintenance diperlukan utk semua element crane tersebut, dll. sesuai keperluan lainnya.