Proses engineering design untuk piping system (in plant dan pipeline), Biasanya dimulai dari pemetaan, kemudian penentuan arah mata angina berdasarkan plant serta arah mata angin sesungguhnya. ( Biasanya ada PN atau Plant North dan TN atau True North) Selanjutnya adalah tata letak peralatan utama yang disusun berdasarkan banyak kriteria diantaranya FIFO atau LIFO, Transport raw material atau end produk, maupun kondisi – kondisi lainnya. Piping selanjutnya didesain berdasarkan P&ID yang diterjemahkan kedalam Isometric drawing serta top view dari yang paling tinggi hingga under ground berdasarkan tingkat level. Selain unsur desain juga harus diperhatikan unsur estetika sehingga posisi ekspansi untuk setiap ukuran pipa tampak seragam meskipun stress releaving berbeda. Unsur lain yang tak kalah penting adalah adanya akses untuk operator serta maintenance. Untuk lebih lengkapnya bisa dilihat di ‘Piping System Engineering”.

Tanya – Autumn Batara

Dear All,

Mohon bantuan pencerahan, bagaimana proses engineering design untuk piping system (in plant dan pipeline), darimana proses engineering design dimulai? dan bagaimana urutan-urutannya? Bagaimana korelasinya dengan Plant Lay out?. saya sangat bersyukur jika ada diantara rekan milist yang bersedia memberi penjelasan plus flowchartnya.

Terima kasih sebelumnya.

Tanggapan 1 – Dedy Suryana – IAOD

Wualah,…. puanjuang ini.

Biasanya dimulai dari pemetaan, kemudian penentuan arah mata angina berdasarkan plant serta arah mata angin sesungguhnya. ( Biasanya ada PN atau Plant North dan TN atau True North) Selanjutnya adalah tata letak peralatan utama yang disusun berdasarkan banyak kriteria diantaranya FIFO atau LIFO, Transport raw material atau end produk, maupun kondisi – kondisi lainnya. Piping selanjutnya didesain berdasarkan P&ID yang diterjemahkan kedalam Isometric drawing serta top view dari yang paling tinggi hingga under ground berdasarkan tingkat level. Selain unsur desain juga harus diperhatikan unsur estetika sehingga posisi ekspansi untuk setiap ukuran pipa tampak seragam meskipun stress releaving berbeda. Unsur lain yang tak kalah penting adalah adanya akses untuk operator serta maintenance. Untuk lebih lengkapnya bisa dilihat di ‘Piping System Engineering”.

Tanggapan 2 – Crootth Crootth

Sebenarnya ngga panjang juga sih…

Seorang process engineer biasanya mengerjakan (tapi tidak terbatas pada) langkah berikut :

1. Meminta data akurat kondisi process terlebih dahulu (komposisi (jika ada, jika tidak ada adalah SG, MW, Cp/Cv, z factor), temperatur, tekanan, flowrate)

2. Melakukan simulasi untuk mendapatkan ukuran pipa yang optimum (pressure drop, erosional velocity) dan tentu saja memperhitungkan ketersediaan kondisi pipa yang tersedia di pasar (misalnya tidak umum menggunakan pipa dengan ukuran 14′ di Indonesia)

3. Melengkapi piping system tersebut dengan complete safety system yang dibutuhkannya (Process Control, Alarm System, Safety Interlock System, Relief System, Blowdown System dsb) berikut dokumen yang menyertainya (Instrumentation, Control and Relief device spec sheet, blowdown analysis, SIL verification, Flaring capacity calculation, SafeChart/Cause and Effect Diagram, Safety Analysis Table, Hazardous Area Classification dsb)

4. Melihat lay out lokasi setempat, berikut code dan regulasi siting dan lay out setempat (hati hati, kebanyakan Pabrik di Indonesia tidak dilengkapi dengan Plant Siting and Lay Out Standards, gunakan standard yang sudah ada atau industrial code yang dianut)

5. Berkoordinasi dengan designer yang mengerti seluk beluk piping plan setempat untuk merundingkan peletakan pipanya agar selain manis rupa juga memberikan kemungkinan bagi modifikasi lebih lanjut di masa depan dan tentu saja ergonomis dan accesable buat crew maintenance dan operator

6. Melakukan Mark-up piping plan dan isometric drawing (pengecekan kekuatan mekanik biasanya dilakukan oleh Mechanical Engineer (Finite Element Analysis, Welding Criteria, Stress Analysis dsb, Pak Hasanuddin lebih tahu soal ini)

7. Meninjau ulang safetynya (pada banyak kasus hanya Process Safety Review biasa atau jika perlu PHA dan pada beberapa perusahaan malah melakukan Consequence Analysis (disinilah Wind Map berguna)) yang biasanya dilakukan oleh sebuah tim multidisiplin

8. Cycling process jika hasil tinjau ulang safety menyatakan harus dilakuakn desain ulang….

9. Jika tinjau ulang telah dilaksanakan, dokumen jadi (PFD, P&ID, Piping Plan, Isometric, Plant Layout, dst) segera diteruskan dengan menyusun Bill of Material, Material request dsb, yang sudah memasuki fase Procurement yang umumnya sih bukan lagi scope Process Engineer

Catatan:

1. Penting kiranya untuk dengan sungguh sungguh melakukan risk assessment dengan terlebih dahulu melakukan HAZID –> Hazard Evaluation –> Risk Analysis –> Risk Control

2. Menyusun Standard Operating Procedure, Specialized Working Procedure (misalnya berkaitan dengnanTIe-in dan Commisioning), Safe Work Practices, Maintenance Planning dst.

3. Melengkapi dokumen Process Safety Information (at least MSDS termasuk untuk Paint dan Insulasi yang digunakan)

Semoga bermanfaat

Tanggapan 3 – Dirman Artib

Yth. Mas Crooth-crooth,

Saya minta izin untuk menggambarkan ‘process mapping’ apa yang anda tulis pada point 1 s/d 8 untuk saya upload lagi di milis ini dalam hal contoh bagaimana sebuah proses direncanakan dan ditetapkan dalam sebuah organisasi untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam ISO 9001:2000 khususnya mendesain piping system.

Bolehkah ?

Saya jamin nggak bakal dijual, tapi kalo ada yg menjiplak……..anggap saja amal ilmu yg bermanfaat (he..he..he..).

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia dapat dilihat dalam file berikut: