Pengunaan FM 200 atau sejenisnya sebagai pengganti Halon 1301 agak berbeda dengan CO2 flooding system. Prinsip kerja CO2 flooding adalah mengurangi jumlah Oksigen di udara sehingga proses pembakaran tidak dapat berlanjut sedangkan pada FM 200 prinsipnya adalah memutus rantai reaksi. Dari dasar inilah maka CO2 hanya boleh digunakan pada tempat yang tidak ada penghuninya (unoccupaid area), Bila tempat bapak termasuk kategori tersebut maka CO2 dapat digunakan. Dari segi harga dan kepraktisan untuk pengisian CO2 memang lebih murah dan mudah didapatkan. Sebenarnya sekarang ini cukup banyak alternatif lain pengganti Halon selain CO2 dan FM200, diantaranya inergen (prinsip kerjanya sama dengan CO2 namun dapat digunakan ditempat yang dihuni), Argonite dan juga produk Indonesia dengan merk Hartindo. Malah sekarang ini penggunaan water mist sudah mulai populer, karena tidak mengandung bahaya kimia sama sekali.

Tanya – Ali Muhammad

Saya ingin menayakan tentang penggunaan automatic Fire Extingusher System FM 200 (Halon) dan CO2. Untuk penggunaan di ruang DCS (control room) atau di tempat electical lainnya, lebih baik menngunakan FM 200 (Halon) atau CO2. Mohon sekalian di jelaskan kelebihan dan kekurangannya. Terima Kasih sebelumnya.

Tanggapan 1 – Akh. Munawir

Pak Ali,

Saya sarankan anda me-refer API RP 14G lalu kemudian NFPA 2001.

Tanggapan 2 – Wawan Setiawan (Yahoo)

Pak Ali,

Setahu saya FM 200 itu bukan halon, tetapi zat pengganti halon dgn trade mark FM 200. Untuk masalah penggunaan..tergantung dari requirement tentunya dengan memperhatikan safety ny dimana apakah dalam ruangan tersebut akan selalu ada orang nya atau tidak. Lalu masalah efektifitas dari kedua agent tersebut (CO2 dan FM 200).

Tanggapan 3 – A.E. Nugrahadipura

Pak Ali

Kalo boleh tau portable ato fixed system?

Tanggapan 4 – Eddy Bachri

Pa Wawan,

Pengunaan FM 200 atau sejenisnya sebagai pengganti Halon 1301 agak berbeda dengan CO2 flooding system. Prinsip kerja CO2 flooding adalah mengurangi jumlah Oksigen di udara sehingga proses pembakaran tidak dapat berlanjut sedangkan pada FM 200 prinsipnya adalah memutus rantai reaksi. Dari dasar inilah maka CO2 hanya boleh digunakan pada tempat yang tidak ada penghuninya (unoccupaid area), Bila tempat bapak termasuk kategori tersebut maka CO2 dapat digunakan. Dari segi harga dan kepraktisan untuk pengisian CO2 memang lebih murah dan mudah didapatkan. Sebenarnya sekarang ini cukup banyak alternatif lain pengganti Halon selain CO2 dan FM200, diantaranya inergen (prinsip kerjanya sama dengan CO2 namun dapat digunakan ditempat yang dihuni), Argonite dan juga produk Indonesia dengan merk Hartindo. Malah sekarang ini penggunaan water mist sudah mulai populer, karena tidak mengandung bahaya kimia sama sekali.
Ada 2 faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media pemadam, selain dari efektivitas pemadamannya sendiri yaitu ODP (Ozone Depletion Potential yang menjadi sebab Halon dilarang dan GWP (Global Warning Potential).

Tanggapan 5 – A.E. Nugrahadipura

Nambahin…..

Dalam fire protection fixed system dr alarm berbunyi s/d sistem proteksi aktif berfungsi ada jeda waktu yg hrs bisa dimanfaatkan sbg prosedur evakuasi maka dr itu dgn drill yg rutin dilakukan akan menjadi sebuah sarana membangun sense of crisis penghuni yg ada.
Kembali kpd tipe media pemadaman yg diaplikasikan ada CO2 dan Halon dan inert gas lainnya sbg pengganti. Sbg catatan bahwa di negara berkembang ini penggunaan Halon terus dikurangi dgn batas waktu sampai 2015 dan negara maju sdh jatuh tempo di thn 2000 yg lalu (Montreal Protocol) krn dpr merusaklapisan ozon lebh cpt dibanding CFC.

Sampai saat ini ada 5 critical users utk Halon itu sendiri:

>Aviation

>Petrochemical

>Military Defense

>Nuclear Plant

>Strategic Places (contoh museum)

Control Room termasuk daerah yg sistem proteksi aktif nya byk menggunakan inert gas krn sisa pemadaman tdk meninggalkan bekas (clean agent) dan CO2 lbh byk menjadi pilihan krn dr sisi biaya lebih murah dibanding dgn inert gas yg ada (contoh AF 21, AF 15), dlm kondisi electric shut down.

Tanggapan 6 – Dadan Hadiansyah

Dear Pak Ali,

Fire suppresion FM-200 itu termasuk clean agent, keuntungannya tidak mengotori / merusak perangkat electric atau electronic pada saat FM-200 di release. Cocok untuk ruang perangkat, ruang kontrol atau ruang panel. kapasitas dan jumlah noselnya harus di sesuaikan dengan volume ruangan.
FM-200 digunakan dengan tekanan tinggi, jadi untuk menghindari residual pressure sesaat setelah FM-200 di release dari nozle, baiknya ruangannya dilengakapi dengan gravity damper, untuk membuang tekanan berlebih dalam ruangan.

Tanggapan 7 – 2009 kurniawanadisuryo

Kalo untuk potensi kebakaran kelas C, bagus pake CO2 pak. Ato yang lebih bagus lagi pake clean agent ( media pemadam pasca halon ), clean agent ada banyak termasuk juga merk dagang FM 200 dimana setau saya FM 200 itu dibuat oleh pabrik yang namanya great lakes. kalo pake FM 200 memang sangat cocok untuk fixed instalation pak sedang yang portable itu FM 100. dan potensi merusak ozone untuk FM 200 itu o% sedang untuk FM 100 0,7% pak. dan semua yang masuk dalam kelas media pemadam clean agent tidak meninggalkan residu dalam penggunaanya. apalagi yang media pemadam AF11E milik hartindo, sangat baik sekali pak.

Tanggapan 8 – Pranoto

Dear P’ Mustofa

FM-200 dan CO2 system adalah fire suppression system yang banyak digunakan.

Menurut saya utk ruang DCS atau di tempat electrical lainnya lebih baik menggunakan FM-200 dengan pertimbangan sebagai berikut :

1). Ruang DCS atau tempat electrical lainnya cenderung masuk di accupied area. Seperti yang sudah disampaikan oleh rekan yang lain, CO2 memadamkan api dengan mengurangi kadar O2 shg lebih cocok untuk un-occupied area.

2). Dari sisi innitial cost, FM-200 lebih murah dibandingkan CO2.

Terima kasih,