Select Page

A safety valve is a pressure relief valve actuated by inlet static pressure and characterized by rapid opening or pop action. (It is normally used for steam and air services.).

Tanya – anugrah adisaka

Salam…rekan-rekan KMI yang terhormat,mohon saya diberi penjelasan mengenai
perbedaan antara pressure safety valve dengan pressure relief valve dalam hal
karakteristik kinerja secara spesifik,,,saat kapan proses tersebut harus
menggunakan pressure relief valve atau pressure safety valve?terima kasih

Tanggapan 1 – Admin Migas

Di dalam dunia instrumentasi, Pressure Relief Valve = Pressure Safety Valve.
Mungkin yang anda maksud mengenai desain dari trim-nya. Kalau benar hal ini
yang dimaksud, memang dibagi menjadi 3 jenis yaitu safety, relief dan safety
relief.

Safety Valve. A safety valve is a pressure relief valve actuated by inlet
static pressure and characterized by rapid opening or pop action. (It is
normally used for steam and air services.).

Relief Valve. A relief valve is a pressure relief device actuated by inlet
static pressure having a gradual lift generally proportional to the increase
in pressure over opening pressure. It may be provided with an enclosed
spring housing suitable for closed discharge system application and is
primarily used for liquid service.

Safety Relief Valve. A safety relief valve is a pressure relief valve
characterized by rapid opening or pop action, or by opening in proportion to
the increase in pressure over the opening pressure, depending on the
application and may be used either for liquid or compressible fluid.

Tanggapan 2 – muhammad rifai

Menurut saya mah (bukan instrument eng)…kalimat Pressure Relief Valve =
Pressure Safety Valve, kurang pass karena memang beda penggunaan… persis yang
dijelasin pak budi…..

. kalo PSV itu buat safety sedang kalo PRV sekedar untuk merilis tekanan (meski karena tekanan
dirilis bisa membuat system tidak over pressure). Bisa diartikan, karena PSV
itu untuk safety, keperluan safety mesti ada. Keperluan safety di sini adalah
keharusan menurunkan tekanan dengan kecepatan tertentu karena kalo tidak cepet
nanti (misal akibat ledakan di dalam vessel) bisa over pressure… kalo
bisa ya secepat ledakan itu… kalo ledakan itu duarr… PSV
setidak-tidaknya harus bisa POP…
pendeknya… PSV harus bisa POP agar gas cepet keluar,
kalo PRV cukup SSSSS agar tekanan tidak overpressure….
.. PSV = POP, PRV = SSSS

Tanggapan 3 – Miftakhul Huda

Dear Pak Anugrah,

Jawaban Pak Budhi ada di API RP 520 Part 1, silahkan merujuk ke sana.
Setelah baca dan pertanyaan anda tidak terjawab bisa dilanjutkan forum diskusinya.
Saya juga masih belajar mengenai Pressure-Relieving Devices yang anda maksud,
jadi maaf kalo saya belom bisa ikut memberikan jawaban atas pertanyaan anda, hanya bisa memberi rujukan.

Tanggapan 4 – Trisno M.

Dear Milis Migas,

Sekalian mo numpang tanya tentang PRV.
Setiap berapa lamakah PRV mesti di sertifikasi ulang, benarkah bervariasi
antara 1/2 tahun hingga 3 tahun ? Apakah ada guidance dari API tentang
sertifikasi PRV ini ?

Tanggapan 5 – Renita Anggreini

Dear Pak Trisno,

Setau saya berdasarkan peraturan migas, PRV di sertifikasi 3 tahun sekali pak.
Referensinya: Keputusan Dirjen Migas no. 84/K/38/DJM/1998.
Kebetulan waktu itu saya pernah mencari-cari acuan jadwal sertifikasi ini.
Jika bapak mau, nanti peraturannya bisa saya kirim via Japri.
Kalau API saya kurang tahu.

Tanggapan 6 – Budhi, Swastioko (Singgar Mulia)

Tergantung dari service nya, rata-rata 1/2 sampai dengan 3 tahun, persis seperti kata anda.

Tapi untuk PSV yang terpasang di atas Rupture Disk tanpa knife blade, bisa 3 – 5 tahun.

Saya sertakan snapshotnya yah, kalau mau lengkap download di URL : http://www.migas-indonesia.net/index.php?option=com_docman&task=cat_view&gid=262&Itemid=42.

Kalau ada waktu, akan saya tambahkan koleksi folder ini dengan info PSV yang lainnya.

Kalau anda berminat untuk menambahkan koleksi folder ini, silahkan kirimkan dokumen ke saya.

Tanggapan 7 – Indra Pamungkas

Menyambung diskusi dibawah, apakah ada yg punya informasi/artikel yg menyebutkan berapa sih set point di bench test untuk fluida yang berbeda dengan proses fluidannya :

Contoh kalau di operating fluida nya adalah steam yang harus pop pada pressure 40 barg , pada saat di bench test dengan instrument air / Nitrogen yang temperature dingin , berapa pressure yang harus di apply.

Tanggapan 8 – yuhendra hendra

Saya mau nambah pertanyaan nich.
Apa dasar pertimbangan untuk memakai PSV or memakai rapture disc pada pressure vessle, atau bisa kah keduanya dipasang bersamaan?

Tanggapan 9 – Budhi, Swastioko (Singgar Mulia)

Banyak pakar di Milis Migas Indonesia yang bisa menjawab pertanyaan anda.
Tapi sebagai pembuka, Rupture Disk sekali aktif (membuka), nggak bisa digunakan kembali. Kalau PSV, kan bisa tuh membuka tutup ratusan kali. Keduanya dapat dipasang secara bersamaan, umumnya RD di upstream PSV. Tujuannya untuk memproteksi internal trim PSV dari fluida yang korosif.

Sebenarnya, pengetahuan di atas sudah banyak ditulis di buku atau manual. Akan saya upload secepatnya untuk anda sebagai referensi tambahan.

Tanggapan 10 – Renita Anggreini

Dear senior-senior migas,

Mumpung topiknya masih seputaran PSV. Ingin sekalian bertanya:
Dalam mendisain sebuah PSV, bagaimana cara menentukan relieving temperature untuk case fire ‘unwetted’?
Setahu saya dengan meng-adjust Temperature (menggunakan HYSYS) sehingga MASS DENSITY setelah relieve sama dengan mass density sebelum relieve. Pertanyaan lanjutannya, mengapa yang menjadi acuan adalah mass density nya?
Lalu apakah ada metode lain dalam menentukan T relieve untuk PSV case fire ‘unwetted’ ini?

Terima kasih sebelumnya.

Share This