Vibrasi pada pilling adalah getaran transient yang intermiten, tentu hal ini berbeda dengan getaran kontinu. Namun pilling terutama dengan impact driver akan menghasilkan getaran impuls secara berulang. Seperti kita ketahui, getaran yang dihasilkan oleh impuls akan mampu menghasilkan getaran dengan kandungan frequency yang cukup lebar tergantung dari kekerasan dan kekakuan material. Untuk impact drive pilling biasanya menghasilkan kandungan frequecy hingga 100 hz, tentu hal ini berpotensi mengeksitasi frekuensi pribadi dari bangunan. Bangunan biasanya lebih sensitive oleh getaran pada frekeunsi cukup rendah < 40hz. Oleh karena itu perlu dicermati jarak terdekat dari dari pilling area ke bangunan di sekitarnya. Untuk hal ini USBM memberikan panduan berapa getaran maksimum, dinyatakan dengan peak particle velocity, yang diijinkan diterima oleh suatu bangunan. Tentu bangunan baru dan bangunan tua memiliki kriteria yang berbeda.

Tanya – Wilis Wirawan@sarana-ahli

Rekan-rekan yth,

Mohon pencerahan dari rekan-rekan tentang ‘allowable ground vibration due to pilling activity’ berdasarkan berbagai standar atau pengalaman? Ground vibration di sini terkait dengan pondasi (concrete) yang sedang dibuat padahal di sekelilingnya ada pekerjaan pilling. Buku apa saja yang dapat dijadikan referensi?

Terima kasih atas pencerahannya.

Tanggapan 1 – Badaruddin@vico

Dear Pak Wilis,

Sekiranya dapat dijelaskan lebih detail, apakah yang anda maksudkan adalah rusaknya daya ikat beton pada pondasi yang baru terbentuk akibat vibration atau??????

Tanggapan 2 – aang r_gautama

Coba buka bukunya braja m das mengenai disain pondasi. ada chart nya tuh. Atau bisa di simulasikan aja di komputer. he he he.

Tanggapan 3 – Wilis Wirawan@sarana-ahli

Pak Badaruddin dan Pak Aang,

Saya sedikit tahu dari USBM Vibration Criteria bahwa ada batasan dari getaran TANAH yang diijinkan. Jika getaran TANAH di bawah batas yang diijinkan, maka BANGUNAN yang berdiri di atas tanah tersebut aman (safe).

Nah, sekarang saya mohon pencerahan dari pengalaman rekan-rekan tentang batasan getaran TANAH akibat aktivitas PILLING yang diijinkan pada CONCRETE yang baru dibangun. Di buku ‘Blast Vibration and Monitoring Control, Charles H Dowding’ disebutkan ekseperimen Esteves (1978) membuktikan bahwa CONCRETE yang baru dibangun dapat retak jika mengalami getaran lebih dari 150 mm/s (Particle Velocity) bila umur concrete ini antara 10 s.d 20 jam. Ada juga orang yang bilang bahwa sebagai ‘rule of thumb’, biasanya pilling dilakukan pada jarak 50 feet (15,24 meter) atau lebih dari concrete yang berumur kurang dari 7 hari.

Terima kasih atas pencerahannya.

Tanggapan 4 – Badaruddin@vico

Dear Pak Wilis,

Saya belum pernah baca atau membuktikan secara analitis mekanisme dari keruntuhan beton akibat vibrating, dan tentunya menarik untuk dipelajari lebih detail.

Pengalaman saya, blok beton pondasi mesin untuk k-225, pada umur 4 hari mendapatkan vibrating akibat vibrator roller pada level medium, dan tidak terjadi keretakan pada beton tersebut.

Vibrating akibat piling tentunya lebih kecil bila dibandingkan vibrating akibat vibrator roller (dynapac).

Tanggapan 5 – Annif Daniar

Dear all,

Tambahan informasi, respon vibrasi pada struktur, bukan hanya ditentukan oleh level atau besar gaya eksitasi saja, tetapi frekuensi eksitasi juga sangat berpengaruh, terlebih bila pas pada frekuensi natural bangunan. Suatu struktur bila tereksitasi pada frekuensi naturalnya akan teresonansi hebat, bila berlangsung lama hal ini bisa menyebabkan runtuh. Menarik sekali bukan?
FYI, Pada discovery channel, dibuat model pasir padat dengan air disebelahnya dan model gedung diatas pasir padat tersebut. Model tersebut digetarkan pada frekuensi tertentu selama beberapa detik. Akibatnya model gedung amblas/runtuh. Ternyata air mengintrusi pasir sehingga pasir yang tadinya padat menjadi lumpur sehingga tidak kuat lagi menahan beban dari
model gedung.
Mudah2 membantu…
www.pakarti.com

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia dapat dilihat dalam file berikut: