Minyak berat tersusun atas molekul-molekul carbon dan hydrogen (HC) yg berbetuk lebih besar dan lebih panjang rantainya sedangkan minyak ringan sebaliknya. Kondisi phisik yg bisa terlihat, minyak berat lebih kental (viscous) atau lebih rendah derajat API-nya. Bayangkan jika minyak berat adalah kumpulan Bola volley – yang memiliki ruang dan volume (sory, lebih suka volley pantai!) dan minyak ringan adalah bola pingpong- yang juga memiliki ruang dan volume. Jika kita mencampur minyak berat dan minyak ringan, maka bola volley (I) yg mengisi ruang akan tersisipi oleh bola pingpong (II). Si bola pingpong bisa nyempil diantara ruang kosong si bola volley. Walhasil, volume total jadi tidak sama dengan I+II. Nah inilah yang lalu di bilang sebagai ‘loss’, padahal kata yg lebih tepat adalah ‘shrinkage’ atau penyusutan.

Pembahasan – Ardian Nengkoda@unocal

Pencampuran Minyak Bumi dan Condensate

Alkisah, suatu kali Jono ‘seorang Operator Terminal’ bingung mengapa crude oil (minyak bumi) sebanyak 95,000 bbl yang dipompakannya mixing bersama condensate sebanyak 5,000 bbl hilang volumenya ketika receive di Tanker. Sambil menatap si kapal tanker di seberang sana, dia ragu, jangan-jangan meteran yg nongkrong di tanker salah! Seharusnya kan volume akhir jadi 100,000 bbl (95,000+5,000)! Mengapa meteran Cuma menunjukkan 99,900 bbl kemana yg sekitar 100-an bbl? Dia coba kontak lagi hewat handytalki-nya ke kapal untuk memastikan bacaan meteran salah, namun demikian Kapten kapal tetap keukeuh pembacaan meteran tanker benar (wong sdh di kalibrasi dan di sertifikasi). Sambil bergumam, Jono bilang: gile, sekali loading hilang 100×60 USD, lumayan kan? Bisa dicincang nih gue ama Pak Kumis Si Atasan! Sebelum di marahin, mendingan gue curhat dulu ah sms ama Pacar di Jakarta:

Dunia transportasi migas, khususnya perminyakan selalu melibatkan pipeline ataupun tangker. Di tahun 50-an, di US, praktek-praktek pencampuran minyak berat dengan minyak ringan (light HC) sangat sering, dengan maksud menghindari terjadinya pemampatan/ blocking aliran di sepanjang pipeline. Mirip dengan kejadian di atas, ‘hilangnya volume’ pencampuran dikenali sebagai volume shrinkage. Sejatinya volume tidak hilang! Tapi terjadi penyusutan pada total volume tadi!

Mhhhh, mengapa bisa begitu?

Minyak berat tersusun atas molekul-molekul carbon dan hydrogen (HC) yg berbetuk lebih besar dan lebih panjang rantainya sedangkan minyak ringan sebaliknya. Kondisi phisik yg bisa terlihat, minyak berat lebih kental (viscous) atau lebih rendah derajat API-nya.

Bayangkan jika minyak berat adalah kumpulan Bola volley – yang memiliki ruang dan volume (sory, lebih suka volley pantai!) dan minyak ringan adalah bola pingpong- yang juga memiliki ruang dan volume. Jika kita mencampur minyak berat dan minyak ringan, maka bola volley (I) yg mengisi ruang akan tersisipi oleh bola pingpong (II). Si bola pingpong bisa nyempil diantara ruang kosong si bola volley. Walhasil, volume total jadi tidak sama dengan I+II. Nah inilah yang lalu di bilang sebagai ‘loss’, padahal kata yg lebih tepat adalah ‘shrinkage’ atau penyusutan.

Di tahun 1962, 8 perusahaan minyak dan operator pipeline di US yang tergabung dalam API (American Petroleum Institute) mengumpulkan data2 karakteristik tentang pencampuran minyak berat dan ringan ini. Akhirnya terbitlah bulletin API 2509C sebagai guideline untuk mengetahui volume shrinkage serta volume akhir dari suatu pencampuran.

Dalam perkembangannya -aktivitas pencampuran minyak lebih sering dan data API 2509C dirasa kurang lengkap; hanya melibatkan minyak ringan konsentrasi sampai 21% -, maka di tahun 1996 terbit suatu guide line baru menyempurnakan API 2509C, yakni API MPMS 12.3 dengan harapan menyediakan data yang lebih akurat. Data dan persamaan matematis yang disajikan oleh API MPMS 12.3 disertai dalam batasan operation absolute pada pencampuran (15oC dan 100-700 KPa).

Balik lagi ke cerita di atas, ternyata pencampuran yang dilakukan si Jono, adalah 95,000 bbl minyak berat dengan API 30.7 dengan 5,000 bbl minyak ringan 86.5 API. Dengan memakai persamaan matematis pada API 12.3, maka didapatlah volume akhir sebesar 99,903 bbl. Hamper mirip dengan meteran si Tanker.

Pada dasarnya API MPMS 12.3 bisa dipakai untuk pencampuran minyak dengan tipe apapun atau aktifitas operasi spike asalkan memiliki perbedaan derajat API (atau kekentalan dan sg). Jadi berhati-hatilah dengan penggunaan shrinkage factor. Seorang teman, tetangga sebelah, meng-klaim bahwa shrinkage terjadi karena dari si-API yg lebih besar (atau dgn kata lain dari minyak yg lebih ringan)!. Saya bilang TIDAK, shrinkage terjadi karena pencampuran! Sehingga shrinkage factor dikatakan sebagai shrinkage volume (total), itulah definisi dari API 12.3 (superseded API 2509C).

Lebih afdol, Anda bisa melakukan percobaan dengan instrument volumetric untuk melihat penyusutan volume total lewat sight glass.

Bahan bacaan:

-API MPMS 12.3, 1996

– API 2509C, 1962

– Volumetric Shrinkage of Spiked Crude Oils, DR. Brooker, 1989