Select Page

Dari Kompas Jumat 20/3 /09 ,diberitan bahwa menurut Bp JK pajak memberikan kontribusi 73% dari seluruh penerimaan negara. Sisanya 27% tentunya disumbangkan oleh hasil non pajak seperti kayu, migas, tambang, perkebunan, perikanan dsb. Padahal Kita punya tambang tembaga yang sangat besar, Kelapa sawit kita terbesar didunia, karet kita juga, ikan dilautan luas kita banyak, kayu Kita dari hutan2 tropis juga merupakan pengekspor utama dunia. Hasilnya kok nggak seberapa ya. Menurut logika saya yang awam ini , mestinya hasil kekayaan alam kita jauh lebih besar dari pada pajak Mohon pendapat, kenapa hasil kekayaan alam dan bumi kita ini kok tidak mampu memberi kontribusi yang signifikan bagi pendapatan negeri tercinta ini termasuk hasi migas.

Tanya – Sulistiyono

Dari Kompas Jumat 20/3 /09 ,diberitan bahwa menurut Bp JK pajak memberikan kontribusi 73% dari seluruh penerimaan negara. Sisanya 27% tentunya disumbangkan oleh hasil non pajak seperti kayu, migas, tambang, perkebunan, perikanan dsb. Padahal Kita punya tambang tembaga yang sangat besar, Kelapa sawit kita terbesar didunia, karet kita juga, ikan dilautan luas kita banyak, kayu Kita dari hutan2 tropis juga merupakan pengekspor utama dunia. Hasilnya kok nggak seberapa ya. Menurut logika saya yang awam ini , mestinya hasil kekayaan alam kita jauh lebih besar dari pada pajak. Mohon pendapat, kenapa hasil kekayaan alam dan bumi kita ini kok tidak mampu memberi kontribusi yang signifikan bagi pendapatan negeri tercinta ini termasuk hasi migas.

Tanggapan 1 – Rovicky Dwi Putrohari

Menurut logika saya yang awam ini , mestinya hasil kekayaan alam kita jauh lebih besar dari pada pajak

Logika anda yang seperti apa adakah supporting data ? Angka ?

Kok bisa mas Sulis berkesimpulan kekayaan alam lebih besar dari pajak ?

Tanggapan 2 – Zaki

Pendapatan pajak mestinya termasuk pajak dari perusahaan tambang (migas, emas, tembaga, batubara, timah, dll) dan industri ekstraktif lainnya (kehutanan, perkebunan, dll).
Pendapatan negara bukan pajak termasuk royalti perusahaan tambang, bagi hasil migas, dll.
Jadi pantas kalo pajak merupakan penyumbang terbesar pendapatan negara.

Tanggapan 3 – Sulistiyono@bwpmeruap

Maaf tentu saja saya nggak punya angka , wong ini Cuma logika saya sebagai wong ndeso kalau katanya kayu kita itu banyak, kelapa sawit kita terbanyak produksinya, gas kita juga pernah jadi eksportir LNG terbesar didunia , tenbaga kita juga termasuk salah satu yang yang terbesar didunia , kalau ikan sih masih potensi-yang jelas yang dicolong itu dikoran katanya nilainya milyaran dollar….

Kalau pajak angkanya bisa dikecilin atau dibesarin. Misal PBB alias pajak bumi dan bangunan kalau di Jakarta orang terkaget kaget peningkatan nya karena kelas tanah nya tiba tiba naik signifikan dan NJOP nya naiknya juga bisa luar biasa , tentunya idem dengan pajak yang lain.

Kata para filsuf, makin kaya Negara itu , Negara akan sangat kecil membebani rakyat (negara2 Timur Tengah ?), sebaliknya Negara yang miskin.

Lha maksud saya kalo Negara kita sumberdaya alamnya banyak kan nilai jualnya juga banyak (logika ndeso ), sehingga nilainya juga dapat lebih besar dari nilai pajak. Hal tersebut pernah terjadi ditahun 1970 an – 1980, sewaktu hasil migas kita mampu berkontribusi lebih dari 50 % dari pendapatan nasional , bahkan pernah mencapai lebih dari 70%.

Lha kalau kaya atau berpotensi kaya tapi kita nggak kaya itu yang salah dimana?

Sekali lagi mohon maaf ini Cuma logika ndeso – awam, nggak ilmiah wong nggak didukung data , nggak ngerti yang ndakik2, dan tentu saja bisa diabaikan, wong sekedar pendapat mengenai statement Pak JK.

Tanggapan 4 – Rovicky Dwi Putrohari

Kalau logika ndeso saya malah menggunakan penerimaan sektor migas dari penemuan minyak selama ini.
Aku sudah menuliskan dulu dengan membandingkan TKI.

Ini juga hitungan wong lugu

http://rovicky.wordpress.com/2008/10/07/bpmigas-kalah-dengan-tki/Quote

‘Tahun 2008 ini BPMIGAS melaporkan “Temuan cadangan minyak pada 13 wilayah kerja mencapai 68,41 juta barel (MMBO), sedangkan temuan gas mencapai 1.584,71 miliar kaki kubik (BCFG).” Kalau dirupiahkan minyak dan gas ini bernilai sekitar 250 Trilliun. Tetapi tentusaja bukan semua menjadi haknya BMIGAS, karena masih akan dipotong biaya produksi (cost) dan juga split bagihasil. Jadi sumbangannya mungkin sekitar 150 Trilliun. Karena menurut berita di website BPMIGAS ini disepakati Cost Recovery tahun 2009 sebesar US$ 12,01 MILIAR atau sekitar 100Trilliun Rupiah.’

Bandingkan dengan TKI yang menyumbang 120 TRILLION rupiah.

Tanggapan 5 – Ivan Bintara

Pak Sulis,

Saya kira kontribusi penerimaan pajak yang dimaksud tsb sudah termasuk pembayaran pajak pendapatan perusahaan (income tax), dan pajak lainnya termasuk pajak penghasilan karyawan dari perusahaan minyak,tambang,dll.

Pembayaran perusahaan minyak ada 2:

1.pajak (yang besarnya 44% dari income contractor)

2.non pajak (bonus,ftp (?),dan pembagian dari profit oil).

Tanggapan 6 – Sulistiyono@bwpmeruap

Terima kasih data tambahannya atas oil and gas discovery selama 2008.
Meskipun agak sedih atas temuan tsb karena masih jauh tekornya ketimbang produksi rata rata /hari 988,000 barrel atau kira kira 360 juta barrel/ tahun untuk minyak . Kalo hitungan ndeso pendapatan Negara adalah USD 37.5 milyar (harga rata2 USD 125/barrel) plus yang 2 bulan Nov dan Des adalah USD 2.4 milyar (harga minyak USD 40/barrel) total penghasilankotor minyak USD 39,9 milyar.Setelah dikurangi cost Recovery say USD 12 milyar maka 85% pendapatan Pemerintah hanya dari minyak adalah USD 23.715 milyar Rp 237 trilliun lebih 715 milyar.Belum gas nya, belum kayunya, belum CPO nya, belum tembaga, timah , karet, batubara dll

Kalau kawan2 yang di pertambangan atau kehutanan dan perkebunan dapat member angka2 outline saja , mungkin kita bisa memberikan asumsi kasar berapa sih pendapatan Negara itu ?

Tanggapan 7 – Rovicky Dwi Putrohari

Mas Sulis,

Dalam revisi terbaru Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2009, pemerintah memperkirakan total pendapatan negara dari sektor pajak dan bukan pajak cuma Rp 852,8 triliun.
Ini kayaknya soal pembukuan. Saya ngga tahu bagaimana pembukuan balance sheet dari APBN. Apakah Rp 237 trilliun hasil penjualan minyak yang anda tulis itu memang seluruhnya dimasukkan sebagai income dalam penulisan APBN ?
Jelas secara net minyak kita tekor, gas masih menguntungkan. Kalau dihitung sisanya barangkali juga tidak akan sebanyak sumbangan TKI. :).

Nah yang sering menjadi dispute adalah ‘apa sih yang dimasudkan pendapatan sektor minyak ?’ Apakah gros minyak ataukan net minyak ?

TKI selama ini menyumbang pendapatan negara hingga 120 Trillion tanpa (minim) belanja dari negara (pemerintah) khusus untuk TKI.

Tanggapan 8 – Sulistiyono@bwpmeruap

Perhitungan pendapatan dari sector migas apakah dari gros atau net saya juga nggak tahu. Tetapi uang dari migas itu langsung ke kantong Pemerintah, tapi pendapatan TKI uangnya masuk Indonesia , dikantongi oleh TKI atau keluarganya.

Saya gembira bahwa banyak Saudara2 kita yang mengadu nasib di luar Indonesia mendapatkan hasil yang baik, semoga merubah nasib mereka di Indonesia.Diantara mereka tentu ada diantaranya Saudara2 kita yang bekerja disektor migas, diberbagai Negara seperti Malaysia, Qatar, Kuwait dsb. Selamat bagi para pahlawan devisa, Bp Ibu telah member kontribusi yang signifikan dalam perekonomian nasional,

Kembali ke pokok bahasan, nampaknya kontribusi migas nasional dalam perekonomian nasional hanya akan berkisar pada angka 25%.

Share This