Implementasi PdM selalu melibatkan Tekhnologi, Orang dan Proses. Teknologi hanya salah satu bagian saja sebagai alat bantu. Yang tidak kalah pentingnya juga skill orang yang menggunakan teknologi tsb dan proses bisnis maintenance yang baru sebagai konsukuensi dari rekomendasi PdM tsb.

Tanya – ROSES-Man

up penasaran dengan penggunaan teknologi predictive maintenance (PdM) equipment di dunia migas indonesia ini, sampai seberapa jauh manfaat dari teknologi ini digunakan di bidang ini. Apalagi dengan adanya krisis global, yang mengharuskan perusahaan menekan ongkos operasionalnya, dimana salah satunya adalah biaya maintenance yang pastinya bisa menghabiskan 30% – 60% dari biaya operasional. apalagi kalau perusahaan tersebut hanya mengandalkan preventive maintenance, atau bahkan lebih parah lagi corrective maintenance di hampir semua program maintenance plant / fleet-nya.

keuntungan yang ditawarkan oleh PdM ini, atau mungkin lebih dikenal dengan sebutan condition based maintenance (CBM), namun biasanya terkendala dengan harga peralatannya yang mahal. Penggunaan yang optimal tentu akan memberikan dampak yang baik, seperti pengalihan cara dimana yang awalnya hanya terpaku pada penggantian komponen pada umur tertentu, akhirnya bisa menggunakan CBM…. yang hanya perlu mengganti kalau memang sudah akan rusak.

Mungkin rekan2 bisa share penggunaan teknologi ini di perusahaan rekan2? apa saja yang berubah sejak menggunakan teknologi tersebut?

Tanggapan 1 – Deny Breigg

Sedikit masukan dr saya,

Memang Pdm relatif lebih mahal dan mungkin tinggi sekali cost nya. Tp jangan dilihat dr at present condition/value ketika kita purchased toolsnya. Manfaat yg didapat dan cutting cost dr penerapan PdM ini yg mesti dilihat. Jd bisa dibilang PdM is A long term Investment…lihat 5-10 thn kedepan,brapa nilai spare part yg bisa di optimal pemakaiannya,brp downtime yg terselamatkan..dan sebagainya. Kalau mau di compare,mungkin 30% – 60% cost itu is nothing.
Dan semua itu terbukti! bukan cuma omong kosong belaka,selama kita menerapkan dgn benar.

Tp masalah nya apa Pihak Management serta merta akan percaya dgn ‘bualan’ kita. Heheh disitu tantangannya. Make sure kl management mengerti dgn konsep tsb,rubah visi nya menjadi visi yg jauh ke depan…

Setau saya di banyak Kilang2 Pertamina dan Plant2 KPS serta di Plant Mining sudah menerapkan ini semua….dan mrk mendapatkan gain dr perubahan itu.

Mungkin dr rekan2 lain ada yg menambahkan..maaf kl ternyata coment saya belum memenuhi harapannya. :).

Tanggapan 2 – ebahagia

Pak Rosmana,

Paket system PdM (hardware & software) memang mahal, tetapi soft skill tentang PdM jauh lebih mahal.

Bagi perusahaan yang paham & mau invest, belum menjamin program PdM berjalan mulus sesuai harapan.

Opini saya, lease base 1 ~ 2 tahun atau sekalian aja outsourcing paket PdM berdasarkan metode-nya, misalkan: vibrasi, tribology, thermograph, etc – masing2 pada pihak yang mumpuni. Harus ada program ‘baby sitting’ dan transfer knowledge secara benar, bukan cuma jual modul pelatihan berorientasi selembar kertas – ‘sertifikat’, kesukaan orang kita hehehe

Tanggapan 3 – achmad riyanto

Pak Ibnu,

Maaf ikut nimbrung diskusi dan tanya2.
Kalau boleh tanya detail,

1. Softskill PdM apa saja yang mandatory untuk dipenuhi?

2. Parameter apa saja yang dijadikan pedoman berhasil atau tidaknya program PdM ?

Tanggapan 4 – ROSES-Man

Pak Ibnu dan Pak denny (dan yang lainnya juga),

Maksud saya juga sebenernya gitu pak, bagaimana sebuah perusahaan memanfaatkan teknologi PdM untuk memaksimalkan produktivitasnya. tapi mungkin karena saya menggambarkan dengan harga tool yang mahal jadi kesannya setiap perusahaan harus punya in-house capability ya…. Intinya gini, di antara teknologi PdM yang luas itu… apakah di indonesia sudah banyak perusahaan yang mengaplikasikannya, baik itu in-house atau 3rd party. kl dari contoh pak ibnu, gak mungkin setiap perusahaan punya lab oil sendiri…. ya bangkrutlah buat setup lab-nya. yang bagus memang menggunakan pihak ketiga, tapi ya itu… bagaimana dengan personelnya? apakah tahu apa yang harus dibaca dari laporannya? dan bagaimana membuat rekomendasinya? jadi maksud saya teknologi apa saja yang banyak digunakan di industri migas indonesia (khususnya)? dan bagaimana penggunaannya (baca report, rekomendasi, sampai mungkin perhitungan perbandingan biaya)?

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing list Migas Indonesia pembahasan bulan Maret 2009 ini dapat dilihat dalam file berikut: