Kriteria pemilihan field instrument biasanya tersajikan dalam sebuah format data sheet yang standard, dalam hal ini ISA standard ISA.Hampir semua kontraktor besar itu sudah mempunyai standard data sheet yang merujuk ke ISA standard. Nah didalam data sheet itu biasanya strukturnya terdiri dari : a)Kelompok baris yang sifatnya umum, biasanya menginformasikan tag no, ref P&ID no berapa, servicenya apa, dsbnya; b)Kelompok baris berikutnya biasanya menginformasikan data proses; c)Kelompok baris berikutnya biasanya menginformasikan design konstruksi yang diinginkan.

Tanya – Abdul Khalik

Dalam waktu dekat ini perusahaan saya akan membuat project.

Yang ingin saya tanyakan adalah:

Adakah kriteria-kriteria mengenai pemilihan field instrument yang mengacu kepada standard internasional?

Mohon maaf bila email seperti ini pernah dilontarkan sebelumnya.

Tanggapan 1 – Bambang Sugiharta@klaras

Cak Abdul Khalik,

Mencoba membantu sampeyan, kriteria pemilihan field instrument itu biasanya tersajikan dalam sebuah format data sheet yang standard, dalam hal ini ISA standard ISA.Hampir semua kontraktor besar itu sudah mempunyai standard data sheet yang merujuk ke ISA standard. Nah didalam data sheet itu biasanya strukturnya terdiri dari :

a)Kelompok baris yang sifatnya umum, biasanya menginformasikan tag no, ref P&ID no berapa, servicenya apa, dsbnya

b)Kelompok baris berikutnya biasanya menginformasikan data proses

c)Kelompok baris berikutnya biasanya menginformasikan design konstruksi yang diinginkan

d)Kelompok baris berikutnya biasanya menginformasikan hal hal lain spt aksesories dan engineering note yang diinginkan.

Nah, didalam mengisi data sheet,kita harus merujuk kepada spesifikasi yang sudah digariskan pada saat FEED dibuat. Misal ada General Specification for Instrumentation,Specification for Control Valve, Specification for Gauges, etc.
Didalam spesifikasi tersebut kita harus merunut ke International Standard and Code yang diinginkan.
Semoga membantu dan bermanfaat.

Tanggapan 2 – Wibisono, Nugroho

Pak Khalik,

Saya agak bingung dengan isi email dan judul yang tidak sama.

Equipment yang memenuhi standar internasional, belum tentu ‘bagus’ dalam artian sesuai dengan kebutuhan kita. Contoh yang sederhana, kita beli transmitter yang sudah memenuhi syarat untuk diletakkan di hazardous area (misalnya), tetapi kenyataannya dipasang didaerah yang non-hazardous area. Memang alatnya memenuhi standar untuk hazardous area, tapi tidak sesuai dengan kebutuhan kita karena areanya adalah non-hazardous.

Standar internasional (seperti yang Pak Bambang Sugiharta sebutkan) menyebutkan bagaimana suatu standar tersebut dipecah-pecah (breakdown) menjadi spesifikasi yang memenuhi dengan kebutuhan user, jalannya adalah dengan menyebutkan secara detil di data sheet. Dengan menyebutkan spesifikasi suatu instrumen secara detil dan sesuai kebutuhan kita, akan menghindarkan kita membeli barang-barang yang spesifikasinya di bawah kebutuhan atau malah terlalu mewah. Sebelum membahas lebih detail mengenai datasheet, ada baiknya pak Khalik merujuk pada ISA 20 (Specification Forms for Process Measurement and Control Instruments, Primary Elements and Control Valves) yang membahas mengenai per-datasheet-an secara lebih sistematis.

Mengenai sejauh apa ‘kebutuhan’ itu, tentunya mengacu pada masing-masing user. Standar-standar yang dipakai di industri bisa beragam, malah ada juga perusahaan yang sudah mempunyai standar engineering sendiri (dan biasanya lebih praktis dan spesifik pada perusahaan tsb).

Semoga membantu..

Tanggapan 3 – Aditia Hermanu

Sebenarnya standard internasional hanya membantu kita memberi guidance dalam pemilihan instrumentasi. Tapi menurut saya yang paling penting pemilihan instrumentasi harus didriven dari informasi dari requirement kita dulu. Seperti processnya. Apa materialnya: apakah liquid, gas, slurry atau solid. Bagaimana process propertiesnya: pressure, temperature, PH, dll. Apakah materialnya corrosive? Apakah material ini dapat menghasilkan api. Dari sini kita bisa tahu bagaimana materialnya dan harus seberapa kekuatannya dan lain sebagainya.

Baru setelah itu lokasinya. Akan dipasang dimana instrument ini. Apakah akan dipasang di indoor atau outdoor yang bisa terkena hujan, atau dilokasi yang banyak berdebu atau lokasi yang dekat dengan material yg dapat menimbulkan api . Dari sini kita bisa menentukan apakah perlu kita memakai instrumentasi yg memenuhi class I Div 2 contohnya, atau apabila instrumentnya electronic dan akan dipasang dioutdoor berarti instrumentnya harus comply dengan NEMA 4(weatherproof).

Selain itu operation juga penting. Dari sini kita harus define bagaimana filosofi pengoperasian plantnya karena ini nantinya bisa menetukan teknologi field device akan bagaimana. Contohnya Apabila mau otomatis tersentralisasi di sebuah control room (misalnya)dan kita juga ingin bisa mendiagnostic field device berarti kita butuh field device yang punya teknologi untuk itu seperti Hart, Fieldbus, Profibus, DeviceNet atau lain2. Masing-masing protocol tersebut punya standard internasional.

Dari segi risk assessment juga penting. Dari sini paling tidak kita bias asses teknologi yang kita pakai juga, apakah kita cukup memakai switch (pressure switch, temp switch, dll)atau transmitter (press transmitter, etc) untuk safety shutdown sensornya. Kalo switch…. switch apa yang kita pakai DPDT (double pole double throw), SPDT (Single pole Double Throw), SPST, dan lain-lain. Kalo transmitter, transmitter seperti apa. Apakah perlu certified SIL3 ? Ya itu tergantung assessment anda.

Hal lain yang juga perlu adalah unit measurement standard. Industry bapak ini apakah lebih ke SI atau ANSI atau yg lain? Ini nanti akan menentukan hal-hal kecil namun kalo salah akan amat sangat merepotkan seperti connection dari instrument itu sendiri (inch atau milli (konektor inch itu dratnya dan sizenya beda dari yg milli (SI)), standard pengukuran tekanannya apa (Psi,Kgf, bar, etc) kan nggak lucu kalo terlalu banyak standard unit.

Mudah-mudahan bisa membantu.