Metode UT ‘tidak lazim’ diterapkan untuk menginspect bonding quality hasil aplikasi coating. Metode UT (dengan pulse echo dan/ atau pitch & catch techniques) akan lebih reasonable untuk menginspect bonding quality suatu casting product. Metode sounding (saja) juga masih jauh dari akurat untuk mengetahui bonding quality hasil aplikasi coating. Akan lebih baik kalau melakukan inspection secara lebih menyeluruh dengan visual test, thickness, cut-back, hardness, holiday test, adhesion test dan sounding/hammer test.

Tanya – Wayan G. Winaya

Rekan-rekan….

Saya mohon pencerahan…

Ada requirement melakukan neoprene coating untuk riser.
Kita diminta harus melakukan ultrasonic testing untuk itu meskipun menurut saya sounding testing sebenernya sudah cukup untuk mengetahui suspect bonds . CMIIW.

Dari segi cost ultrasonic testing sangat sangatlah mahal, bahkan jauh lebih mahal dari cost untuk coating pipa-pipa itu sendiri. Memang, ultrasonic testing lebih canggih dari sounding test.

Mohon saran-sarannya supaya ultrasonic testing benar-benar bisa tergantikan dengan sounding testing….Terima kasih.

Tanggapan 1 – Syarifuddin Mesabim – EGD@capcx

Dear Pak Wayan,

Saya coba kasih saran anda, kenapa tidak diukur dengan COATING thickness saja di situ kita akan tau bondingnya baik atau tidak, kami/saya tidak pernah melakukan dengan UT.
Banyak alat Coating thickness yang model terbaru dan canggih, kalau ada sedikit saja ke tidak homogen/bonding maka alat tersebut akan alarm dan record.

Tanggapan 2 – Ramzy SA@radiant-utama

Ada alat namanya CIPS (Closed Interval Potential Log) untuk memeriksa system cathodic protection kalau pipeline tersebut menggunakan system proteksi, tapi kalau tidak hanya manu memeriksa insulation saja CIPS nya menggunakan additional module namanya pear system. Alat ini memang dibuat untuk memeriksa yang gituan.
Mudah2an membantu

Tanggapan 3 – Hasanuddin@saipem

Ikutan nimbrung. Menurut saya:

1. Metode UT ‘tidak lazim’ diterapkan untuk menginspect bonding quality hasil aplikasi coating. Metode UT (dengan pulse echo dan/ atau pitch & catch techniques) akan lebih reasonable untuk menginspect bonding quality suatu casting product.

2. Metode sounding (saja) juga masih jauh dari akurat untuk mengetahui bonding quality hasil aplikasi coating. Akan lebih baik kalo melakukan inspection secara lebih menyeluruh dengan visual test, thickness, cut-back, hardness, holiday test, adhesion test dan sounding/hammer test.

BTW, saya tidak sependapat kalo dikatakan biaya untuk UT jauh lebih mahal dari biaya untuk meng-coating pipa.

Tanggapan 4 – Wayan G. Winaya

Terima kasih Pak Hasan..

1. Benar sekali, metode UT sangat jarang dilakukan untuk menginspect bonding quality hasil aplikasi neoprene coating. Tapi bagaimananapun juga metode UT ini pernah dilakukan pada suatu project.

2. Metode UT-nya nanti adalah Dry Coupling memakai teknik Through Transmission Shadow. Apakah metode UT ini pun ‘tidak lazim’ diterapkan untuk menginspect bonding quality hasil aplikasi neoprene coating??

Mohon penjelasannya….

3. Apa bedanya antara pulse echo techniques, pitch & catch techniques dan Through Transmission Shadow technique??

4. Memang benar, nantinya pun akan dilakukan inspection menyeluruh, seperti visual test, thickness, cut-back, hardness, holiday test, adhesion test dan

sounding/hammer test.

5. Benar, biaya UT-nya bisa 4 kali lipat dari neoprene coating cost itu sendiri. Kita melakukan coating ini di Singapore.

Mohon komentarnya….terima kasih banyak….

Tanggapan 5 – Hasanuddin@saipem

Maaf pak, saya tidak familiar dengan UT metode dry coupling dg teknik through transmission shadow.

Perbedaan pokok antara pulse echo technique dengan pitch & cratch technique adalah jenis probe yang dipakai. Untuk PET menggunakan probe jenis straight beam, sedangkan PCT menggunakan probe jenis angle.

Saya belum ada ide lebih lanjut untuk berkomentar ttg coating inspection ini. Anyway, saya akan coba meng-invite temen saya untuk subscribe menjadi member di milis ini. Semoga ybs tidak berkeberatan dan ada waktu untuk discuss di milis ini pada saat2 mendatang. Kebetulan temen yang satu ini memiliki license NACE Level 4 – Coating Specialist.

Tanggapan 6 – Syarifuddin Mesabim – EGD@capcx

System magnitic akan lebih baik, yang akan di ukur permibilitas dari magnitnya.
Kalau UT saya kira tidak bisa dipakai karena density logam dan density coating sendiri sudah beda jadi tidak acurat.

Tanggapan 7 – Dirman Artib@amec

Pak Hasanuddin,

Mohon pencerahan agak lebih detail tentang proses dan metode testing yang anda sebutkan visual, thickness, cut-back, hardness, holiday test, adhesion test dan sounding/hammer test.

* When and where to be applied for common and specific product/case,

* How to apply,

* Whom (does it need specific personnel competencies/ license).

* Apakah semua metode secara umum di’applied’ atau ada beberapa metode yg merupakan option thd. yang lain ?

Supaya saya & rekan-rekan bisa mentransformasikannya kepada sebuah bentuk QCITP (Quality Control and Inspection/Test Plan).

Terima kasih sebelumnya .

Tanggapan 8 – Hasanuddin@saipem

Secara garis besarnya lebih kurang sbb (mohon maaf…saya tidak bias menjelaskannya dengan lebih panjang lebar karena keterbatasan waktu):

Masing2 jenis coating memiliki karakteristik sendiri2, sehingga metode inspeksinya tidak selalu sama. Inspeksi yang umum (common) dilakukan untuk beberapa tipe coating adalah visual, holiday detection, adhesion dan cut-back. Metode2 lain yang dipakai untuk menginspeksi adalah surface profile, dust test, chloride/salt/abrasive contamination, dll.

Secara simple aplikasinya adalah sbb:

– Visual

dilakukan pemeriksaan visual 100% pada surface pipa yang di-coating. Secara visual, pastikan bahwa imperfections, lack of bond, blister, laminasi dan apparent irregularity tidak ada.

– Thickness

mengukur thickness dengan gauge atau alat pengukur lain pada beberapa lokasi yang ditentukan sesuai dengan kebutuhan.

– Cut back

mengukur cut back (ujung coating pipa dipotong) secara manual dengan measuring tape atau template.

– Hardness test

uji beberapa titik pipa tercoating dengan hardness tester (biasanya tester yang dipakai adalah type jarum). Criteria failed-nya tergantung dari requirement.

– Holiday Detection Test

melakukan pemeriksaan dengan holiday detector yang terkalibrasi (biasanya dilengkapi dengan elastomer element untuk mengidentifikasi defects) sepanjang pipa yang di coating. Pastikan tidak ada pinhole yang terdeteksi.

– Adhesion Test

dengan memotong circumference strip pada salah satu sisi, kemudian di coak/cungkil pada potongan gap-nya. Dari coakan tersebut, dipasang clamping dan ditarik sampai sampai coating robek/clamping terlepas. Lokasi clamping berada didekat daerah cutback. Pastikan masih ada lapisan tipis yang tertinggal yang mengindikasikan adanya chemical bond yang baik.

– Hammer/Sounding Test

dengan cara memukulkan hammer/sounding equipment pada pipa yang sudah tercoating. Pastikan tidak ada ‘hollow sound’ yang terdengar.

Yang melakukan inspeksi (in my opinion) haruslah memiliki kompetensi/license yang sesuai – sebagaimana license WI dipersyaratkan untuk menginspeksi welding. Tapi kenyataannya dilapangan masih sangat banyak inspector yang tidak memiliki license ini. FYI, ada beberapa lembaga/organisasi yang bisa mengakreditasi / memberi license sperti NACE (dengan program CIP-Coating Inspection Personnel), CSWIP (dengan program Mill & Site Coating Inspector), dll. Di Indonesia, ada juga INDOCOR.

Semoga menjadi lebih jelas.

Tanggapan 9 – Dirman Artib@amec

Pak Hasannuddin,

Terima kasih atas pencerahannya yg tepat ke sasaran.

Pertanyaan berikutnya adalah, apakah masing-masing metode test tersebut harus dilakukan semua atau hanya tertentu yang sesuai dengan karakteristik produk yg akan di’coating’ ?. Apakah ada metode yang mandatory menurut code/standar tertentu , misalnya visual dan thickness, barangkali ?

Mudah-mudahan Pak Hasannuddin, masih bisa me’respond’ dalam keterbatasan waktu :-).

Tanggapan 10 – Hasanuddin @saipem

Methode test tersebut applicable dipakai untuk inspeksi beberapa neoprene/EPDM coating (elastomer based). Untuk coating lainya (based on laminated epoxy/glass fibre, hot enamel, dll) akan berbeda metodenya.

Untuk visual dan thickness, biasanya user spec cukup jelas menyatakan requirement-nya (merupakan referensi sekaligus acceptance criteria). Untuk referensi standar bisa mengacu ke:

– BS 903 dan standard2 turunannya (seri A1/A2/A3, dst) untuk menentukan criteria hardness, tensile, tear strength, dsb.

– ASTM G8 untuk cathodic disbanding

– ASTM C177 untuk thermal conductivity

– ASTM 429 untuk adhesion

– SSPC, SIS dan beberapa ISO series untuk surface preparation

– ISO 8502 untuk dust level

– Dsb

Pls note, item2 tsb diatas aplicable untuk neoprene/EPDM coating.

Tanggapan 11 – Dirman Artib@amec

Excellent !
Bahasanya dapat dimengerti yaitu saya punya untuk baca standard tsb. Kalo nggak salah udah ada yg SNI-nya tuh . Baru dikonsensus-kan akhir tahun kemarin, tp mungkin belum dipublish.

Sangat tengkiu Pak !